
Renungan Harian Katolik: Kejujuran dan Kerendahan Hati
Pada hari Jumat, 2 Januari 2026, umat Katolik merayakan perayaan wajib St. Basilius Agung dan Gregorius dari Nazianze. Perayaan ini memiliki warna liturgi putih yang melambangkan kebersihan dan kesucian. Bacaan-bacaan yang dibacakan dalam perayaan tersebut mencakup beberapa kitab suci seperti 1Yohanes 2:22-28, Mazmur 98:1,2-3ab,3cd-4, Injil Yohanes 1:19-28, serta Bacaan Khotbah Kitab Kidung Agung 4:1-5:1.
Bacaan Pertama: 1Yohanes 2:22-28
Dalam bacaan pertama, kita diingatkan bahwa setiap orang yang menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus disebut sebagai pendusta. Ini menjadi pengingat bahwa iman terhadap Yesus adalah fondasi utama dalam hidup seorang Kristen. Selain itu, bacaan ini juga menekankan pentingnya menjaga ajaran yang telah diterima dari awal. Bagi mereka yang tetap berpegang pada ajaran tersebut, mereka akan tetap tinggal dalam Anak dan Bapa. Janji Tuhan tentang hidup yang kekal memberikan harapan bagi setiap umat percaya.
Mazmur Tanggapan: Mazmur 98:1-4
Mazmur ini mengajak seluruh bumi untuk bersorak-sorai kepada Tuhan. Ia telah melakukan perbuatan-perbuatan ajaib dan menyatakan keselamatan-Nya kepada bangsa-bangsa. Mazmur ini juga mengingatkan kita akan kasih setia dan kesetiaan Tuhan terhadap Israel, yang kini dapat dirasakan oleh segala ujung bumi.
Injil Katolik: Yohanes 1:19-28
Dalam Injil Yohanes, kita membaca bagaimana Yohanes Pembaptis dihampiri oleh orang-orang Yahudi yang bertanya siapa dia. Dengan kejujuran, ia mengaku bahwa dirinya bukan Mesias, Elia, atau nabi yang dinantikan. Ia hanya menyatakan dirinya sebagai "suara yang berseru-seru di padang gurun" untuk meluruskan jalan bagi kedatangan Mesias. Yohanes juga menegaskan bahwa ia hanya membaptis dengan air, sementara Dia yang lebih besar dari dirinya telah datang.
Renungan Harian Katolik: "Kejujuran dan Kerendahan Hati"
Yohanes Pembaptis menjadi teladan kejujuran dan kerendahan hati. Di tengah kehebatannya, ia tetap setia pada pilihannya sebagai "suara yang berseru-seru di padang gurun". Bahkan ketika banyak orang memujinya karena karya-karyanya, ia tidak mudah terjebak dalam pujian-pujian manusia. Dengan rendah hati dan jujur, ia tetap mengakui dirinya hanya sebagai penyedia jalan bagi Tuhan.
Kesaksian Yohanes ini begitu mendesak untuk diteladani, terutama di tengah kecenderungan kita yang sering kali membutuhkan validasi, ingin menjadi pusat perhatian, dan mengharapkan pujian serta pengakuan dari orang lain. Dengan kesaksian Yohanes, kita diingatkan untuk tetap rendah hati dan fokus pada misi mewartakan Yesus, bukan mewartakan kehebatan diri sendiri.
Tuhan, ingatkanlah kami selalu untuk menjadi pribadi yang rendah hati dan jujur dalam menyalurkan kasih-Mu. Amin.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar