Mengakhiri tahun sering kali dianggap sebagai momen untuk mengevaluasi segala hal yang telah terjadi. Namun, dalam prosesnya, kita seringkali lebih fokus pada hal-hal buruk yang terjadi daripada kebaikan yang mungkin tidak terlihat. Kita mengingat hari-hari yang melelahkan, rencana yang tidak berjalan sesuai harapan, dan kabar-kabar yang membuat dada terasa sesak. Tanpa sadar, kita lebih cepat mengingat apa yang menyakitkan daripada apa yang menenangkan.
Padahal, jika kita mau berhenti sejenak dan melihat dengan jujur, ada begitu banyak hal baik yang sebenarnya sudah kita miliki dan kita jalani sepanjang tahun. Kebaikan itu sering hadir dalam wujud yang sederhana. Pagi yang masih bisa kita sambut dengan napas utuh. Cahaya yang masuk pelan dari jendela. Tubuh yang masih mampu bergerak menjalani aktivitas. Semua itu terasa biasa karena terjadi setiap hari.
Karena terlalu sering hadir, nilainya seolah menipis. Kita lupa bahwa hidup lebih banyak dibangun oleh hal-hal kecil yang setia, bukan semata oleh peristiwa besar yang jarang terjadi. Di tengah rutinitas yang padat dan melelahkan, ada tawa-tawa kecil yang muncul tanpa direncanakan. Tawa karena percakapan ringan, candaan sederhana, atau kejadian tak terduga yang menyelinap di sela hari yang berat.
Kita jarang memberi ruang bagi tawa untuk diingat sebagai sesuatu yang penting. Padahal, tawa adalah tanda bahwa di tengah tekanan, jiwa kita masih menemukan celah untuk bernapas. Kebahagiaan tidak selalu datang dalam bentuk pencapaian besar. Ia sering hadir singkat, nyaris luput, lalu pergi meninggalkan kehangatan yang sebenarnya bermakna.
Ada juga pelukan. Sesuatu yang tampak sepele, namun menyimpan daya yang tidak kecil. Pelukan dari orang-orang terdekat kerap menjadi penyangga saat kata-kata kehilangan fungsinya. Dalam pelukan, kita tidak dituntut menjelaskan apa pun. Kehadiran sudah cukup. Namun betapa seringnya kita lupa bersyukur bahwa masih ada yang mau merangkul kita dengan tulus. Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh tuntutan, kedekatan semacam itu adalah kebaikan yang jarang disebut, tetapi sangat dibutuhkan.
Cara kita memandang dunia pun sering kali serupa. Kita lebih cepat membicarakan sisi buruknya. Kabar negatif menyebar lebih cepat. Konflik lebih mudah menarik perhatian. Kegagalan terasa lebih ramai daripada ketulusan. Seakan-akan dunia ini hanya berisi kegaduhan dan ketidakadilan. Padahal, di balik riuh tersebut, ada banyak kebaikan yang terus bergerak tanpa sorotan.
Ada orang-orang yang menolong tanpa ingin dikenal, berbagi tanpa pamrih, dan bekerja dengan sunyi. Kebaikan seperti ini jarang mencuat karena memang tidak dirancang untuk dipamerkan. Dunia tidak pernah sepenuhnya gelap. Ia penuh lapisan dan paradoks. Di satu sisi, penderitaan adalah kenyataan yang tidak bisa disangkal. Namun di sisi lain, ketulusan juga terus hidup. Ketika perhatian kita hanya tertuju pada yang gelap, kemampuan melihat cahaya perlahan memudar. Dari sanalah muncul anggapan bahwa dunia semakin kejam, padahal mungkin dunia tetap sama, hanya sudut pandang kitalah yang menyempit karena lelah.
Dalam kehidupan yang sarat tantangan dan ketidakpastian, ada masa-masa ketika dunia terasa tidak ramah. Kegagalan, penolakan, atau perlakuan yang tidak adil bisa membuat kita merasa tertekan dan tidak dihargai. Pada saat-saat seperti itu, satu hal yang kerap terlupakan justru menjadi sangat penting: tetap bersikap baik pada diri sendiri. Perhatian dan kasih sayang terhadap diri bukan bentuk kelemahan, melainkan sumber kekuatan yang nyata.
Ketika keadaan di luar terasa keras, kelembutan pada diri sendiri sering menjadi jangkar agar kita tidak hanyut. Di titik inilah peran dialog batin menjadi sangat menentukan. Apa yang kita ucapkan kepada diri sendiri memiliki dampak besar. Jika setiap hari kita memelihara kritik, menyalahkan diri, atau meremehkan kemampuan sendiri, beban hidup akan terasa berlipat. Sebaliknya, ketika kita mulai mengganti suara internal yang keras dengan nada yang lebih ramah, ada perubahan yang pelan-pelan terjadi.
Mengingatkan diri bahwa kita layak mendapatkan kebaikan, bahwa kita cukup, dan bahwa kita mampu menghadapi tantangan bukanlah sikap berlebihan. Berbicara kepada diri sendiri dengan suara yang positif adalah bentuk perawatan batin yang sering disepelekan, padahal justru krusial.
Tahun 2025, sebagaimana tahun-tahun lainnya, tentu jauh dari kata sempurna. Ada kehilangan yang datang tanpa aba-aba. Ada harapan yang harus disesuaikan ulang. Ada langkah yang terasa lebih berat dari yang dibayangkan. Namun di sela semua itu, ada proses bertumbuh yang berlangsung perlahan. Ada hari-hari ketika kita belajar menerima, bukan karena keadaan membaik, tetapi karena kita menjadi lebih kuat.
Ada saat-saat ketika kita memilih bertahan, bukan karena tidak lelah, melainkan karena masih ada harapan yang ingin dijaga. Kita sering menunda rasa syukur hingga sesuatu yang besar terjadi. Kita menunggu pencapaian yang bisa dipamerkan atau kondisi ideal yang jarang benar-benar datang. Padahal hidup jarang bergerak lurus menuju kebahagiaan. Ia berkelok, kadang maju, kadang mundur, kadang berhenti tanpa penjelasan.
Jika rasa syukur hanya muncul pada momen tertentu, sebagian besar perjalanan hidup akan terasa kosong. Menghargai hal-hal kecil justru membuat kita lebih tahan menghadapi hari-hari yang berat. Mengakui adanya kebaikan bukan berarti menutup mata terhadap masalah. Ini bukan bentuk kepolosan atau penyangkalan. Sebaliknya, kesadaran akan kebaikan memberi kita tenaga untuk menghadapi kenyataan yang tidak selalu ramah.
Orang yang mampu melihat sisi terang di tengah kesulitan biasanya bukan karena hidupnya lebih mudah, melainkan karena ia memilih cara pandang yang lebih luas. Ia memahami bahwa hidup tidak hanya berisi luka, tetapi juga pemulihan yang sering berlangsung diam-diam. Dalam setahun terakhir, mungkin kita pernah merasa berjalan sendirian, tidak dipahami, atau melangkah terlalu jauh tanpa jeda.
Namun jika ditarik ke belakang, hampir selalu ada momen kecil yang membuat kita tetap melanjutkan langkah. Bisa berupa pesan singkat yang datang di waktu tepat, doa yang terdengar tanpa sengaja, atau pertemuan singkat yang mengingatkan bahwa kita tidak sepenuhnya sendiri. Momen-momen ini mungkin tidak spektakuler, tetapi cukup untuk menjaga nyala kecil di dalam diri.
Mengucapkan terima kasih kepada sebuah tahun bukan berarti mengagungkan masa lalu. Itu adalah cara untuk berdamai dengan perjalanan yang sudah dilalui. Dengan berterima kasih, kita mengakui bahwa apa pun yang terjadi telah membentuk kita hari ini. Kita tidak meniadakan luka, namun juga tidak menghapus kebaikan. Keduanya hadir berdampingan dan sama-sama layak diakui sebagai bagian dari proses hidup.
Hidup tidak menuntut kita selalu berada dalam keadaan bahagia. Yang diminta hanyalah kesadaran. Sadar bahwa masih ada pagi yang bisa kita sambut, tawa yang bisa kita bagi, dan pelukan yang bisa kita rasakan. Sadar bahwa di tengah dunia yang sering terasa melelahkan, kebaikan tetap ada, meski tidak selalu bersuara keras.
Ketika kita mulai melatih diri untuk melihat kebaikan yang selama ini luput dari perhatian, cara pandang kita terhadap dunia perlahan berubah. Bukan karena dunia tiba-tiba menjadi tempat yang sempurna, melainkan karena kita berhenti melihatnya hanya dari luka yang paling nyaring. Dari sana tumbuh kesadaran sederhana namun menenangkan: dunia ini tidak seburuk yang sering kita bayangkan. Kita saja yang terlalu sibuk bertahan hingga lupa memperhatikan.
Menutup satu tahun tidak selalu membutuhkan resolusi besar atau janji yang megah. Cukup dengan satu sikap sederhana: keberanian untuk mengakui kebaikan yang telah hadir. Mengingatnya, menyimpannya, dan menjadikannya bekal untuk melangkah ke depan. Terima kasih 2025, untuk pagi-pagi yang hening, tawa-tawa kecil yang datang tanpa rencana, dan pelukan-pelukan hangat yang menjaga kami tetap utuh. Terima kasih untuk segala kebaikan yang mungkin jarang kami sebut, tetapi diam-diam kami butuhkan. Dan terima kasih, karena di tengah segala kekurangannya, engkau mengingatkan kami pada satu hal penting: dunia ini, sejatinya, tidak sejahat itu.
Masuk tahun 2026, semoga kita lebih berani jujur pada diri sendiri, lebih sabar pada proses, dan lebih lembut pada sesame. Selamat datang 2026. Mari hidup dengan niat yang jernih, kerja yang jujur, dan hati yang tetap lapang meski dunia tak selalu ramah.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar