Riau Gelar Seminar Nasional Bahas Biosolar B50 dan Pasar Alat Berat

Riau Gelar Seminar Nasional Bahas Biosolar B50 dan Pasar Alat Berat

Seminar Nasional PERTAABI Riau Fokus pada B50 dan Perkembangan Alat Berat

Perkumpulan Tenaga Ahli Alat Berat Indonesia (PERTAABI) DPD Riau menggelar seminar nasional dengan tema 'Biosolar B50 dan Market Alat Berat Nasional: Tantangan dan Peluang Menuju Energi Berkelanjutan'. Acara ini diadakan di Prime Park Hotel Pekanbaru, Sabtu (6/12/2025). Kegiatan ini dihadiri oleh lebih dari 100 peserta yang berasal dari berbagai sektor seperti industri alat berat, migas, perkebunan sawit, kehutanan, serta perusahaan pendukung lainnya.

Ketua PERTAABI Riau, Deni Rafli, menjelaskan bahwa seminar ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada pelaku industri tentang manfaat, tantangan, dan potensi dari penerapan B50. Ia menekankan bahwa transisi energi ini akan berdampak langsung pada performa alat berat di lapangan. Oleh karena itu, para peserta perlu memahami bagaimana B50 bekerja, risiko apa yang mungkin terjadi pada mesin, serta bagaimana menyiapkan langkah antisipasi.

Deni juga menyampaikan bahwa perkembangan industri alat berat di Provinsi Riau terus menunjukkan tren positif. Diversifikasi industri yang semakin beragam, seperti masuknya sektor perkapalan dan industri nonmigas lainnya, membuat kebutuhan alat berat meningkat signifikan setiap tahunnya. Menurutnya, permintaan alat berat di Riau bertumbuh sekitar 30 persen per tahun.

Masih Bergantung Bahan Bakar Fosil

Narasumber sesi pertama, Rochman Alamsyah, Direktur PERTAABI, menilai bahwa seminar ini sangat penting bagi pelaku industri untuk menyiapkan rencana mitigasi terhadap perubahan regulasi energi. Ia menekankan bahwa isu biofuel bukan hanya topik teknis, tetapi terkait langsung dengan ketahanan energi nasional, kewajiban pemerintah memenuhi target net zero emission, dan tuntutan global terkait pengurangan polutan.

Rochman menjelaskan bahwa selama ini Indonesia masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil, sementara kemampuan produksi dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan nasional. Lebih dari 50 persen bahan bakar kita masih impor. Ketergantungan ini membuat posisi ketahanan energi melemah, sementara pertumbuhan konsumsi energi di berbagai sektor terus naik.

Menurutnya, penerapan biofuel seperti B50 merupakan langkah strategis pemerintah untuk mengurangi impor bahan bakar sekaligus menjawab tuntutan global terkait perubahan iklim. Namun ia mengingatkan bahwa proses transisi energi harus disertai edukasi yang memadai, terutama bagi sektor industri yang memakai alat berat dengan konsumsi bahan bakar tinggi. Transisi ini harus dipahami secara teknis agar risiko bisa diminimalkan.

Rochman juga meyakini bahwa kolaborasi antara pemerintah, industri, dan asosiasi seperti PERTAABI akan memperkuat langkah Indonesia menuju energi berkelanjutan. Ia berharap seminar ini mampu melahirkan rekomendasi dan solusi praktis terkait penggunaan B50 di lapangan, khususnya bagi perusahaan yang operasinya sangat mengandalkan alat berat.

Kegiatan Luring Pertama PERTAABI Riau

Wakil Ketua PERTAABI DPD Riau yang juga Ketua Panitia, Adi Agus Sofadi, menambahkan bahwa seminar ini merupakan kegiatan luring perdana PERTAABI di Riau, setelah selama ini lebih banyak mengadakan webinar edukasi teknis secara daring. Menurutnya, antusias peserta membuktikan bahwa isu energi baru terbarukan sangat relevan bagi industri alat berat dan membutuhkan ruang diskusi yang intensif.

Adi berharap kegiatan ini menjadi langkah awal memperkuat kapasitas teknis para pelaku industri di Riau dalam menghadapi transisi energi nasional. Ia menegaskan bahwa PERTAABI siap menjadi wadah berbagi pengetahuan, riset, serta pembaruan teknologi alat berat agar industri di Riau mampu beradaptasi dan tetap kompetitif di tengah perubahan kebijakan energi.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan