Kehidupan di Tengah Ancaman Banjir: Perjuangan Rustina di Pinggir Sungai Kuranji
Rustina (55), seorang warga RT 1/RW 1 Kelurahan Cupak Tengah, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Sumatera Barat, memilih untuk tetap tinggal di rumahnya meskipun tempat tinggalnya terancam banjir bandang yang sering melanda kawasan tersebut. Rumahnya berada tepat di tepi aliran sungai Kuranji, yang sering menjadi sumber masalah bagi masyarakat sekitar.
Banjir besar mulai terjadi sejak Rabu dan Kamis. Namun, puncak luapan air terjadi pada malam Jumat ketika debit sungai melonjak tajam dan merusak bendungan di depan rumah Rustina. Arus deras itu juga membawa balok kayu dan batu berukuran besar. Bendungan itu mulai rusak sejak air pertama kali datang. Dari situ sudah kelihatan kondisinya rapuh. Banjir itu juga membawa kayu dan batu ukuran besar, ujar Rustina saat ditemui.
Air sempat masuk ke dalam rumah, namun tidak sampai setinggi pinggang karena keluarga berinisiatif menutup pintu dengan tumpukan kayu. Kalau tidak kami tutup pakai kayu, air itu sudah setinggi pinggang masuk ke rumah, katanya.
Meski tinggal di zona rawan bencana, Rustina dan keluarganya tetap memilih tidak mengungsi. Ia mengaku memiliki hewan ternak yang tidak bisa ditinggalkan. Enggak mengungsi, karena saya punya hewan ternak. Takut kalau rumah kosong, hewan kami diambil orang. Kemarin saja ada motor orang yang hilang. Sementara rumah warga juga berjauhan di sini, makanya kami tetap bertahan, jelasnya.

Saat ditanya apakah ia tidak takut atau trauma, Rustina mengaku hanya bisa pasrah. Saya berserah sama Allah saja. Kalau memang malang, saya akan malang juga, ucapnya pelan.
Rustina sudah tinggal di lokasi itu sejak 2009. Ia mengatakan sungai di dekat rumahnya sebenarnya lebih dalam dan berjarak dari permukiman sebelum serangkaian banjir besar terjadi. Namun kini kondisinya berubah. Dulu sungai ini dalam dan jauh dari rumah saya. Karena banjir-banjir ini, sungai jadi dangkal dan semakin dekat. Makanya air selalu naik ke rumah, terangnya.
Kerusakan bendungan dan tebing sungai juga kini mengancam rumah-rumah warga di kawasan tersebut. Rustina berharap pemerintah segera melakukan perbaikan dan normalisasi sungai. Mudah-mudahan pemerintah tahu keadaan kami di sini. Kami berharap sungai ini cepat dinormalisasi, ujarnya.
Meski berada di daerah rawan bencana, Rustina menolak bila harus direlokasi. Enggak mau dipindah. Kami tetap mau tinggal di sini. Kami sudah siaga terus, dan kami tidak mau pindah, tegasnya.
Pantauan di lokasi, rumah Rustina kini dikelilingi lumpur sisa banjir. Di depan rumah tampak berserakan kayu berukuran sedang hingga besar, sementara bendungan sungai di depannya rusak parah akibat banjir bandang tersebut.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar