
Proyeksi Pergerakan Nilai Tukar Rupiah pada 2026
Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) diperkirakan akan mengalami tekanan pada tahun 2026, terutama jika ada kebijakan pemangkasan suku bunga yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI). Analsis dari Doo Financial Futures menunjukkan bahwa penurunan suku bunga domestik berpotensi memperlemah nilai tukar rupiah. Namun, pelemahan ini diperkirakan tidak akan terlalu dalam karena BI tetap aktif melakukan intervensi.
Lukman Leong, analis mata uang dari Doo Financial Futures, menyatakan bahwa meskipun rupiah masih tertekan oleh pemangkasan suku bunga BI, bank sentral akan tetap melakukan intervensi untuk menahan pelemahan lebih lanjut. Hal ini menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah kondisi perekonomian yang dinamis.
Siklus Pelonggaran Moneter BI pada 2025
Selama tahun 2025, BI menjalankan siklus pelonggaran moneter yang cukup signifikan setelah sebelumnya melakukan pengetatan. Pemangkasan suku bunga acuan dilakukan secara bertahap. Pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) pertengahan Juli 2025, BI menurunkan BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,25 persen. Selanjutnya, pada Agustus 2025, BI kembali memangkas BI Rate sebesar 25 bps menjadi 5,00 persen. Pada pertengahan September 2025, BI kembali menurunkan BI Rate sebesar 25 bps menjadi 4,75 persen. Level suku bunga ini dipertahankan hingga RDG Oktober dan November 2025.
Pengaruh Kebijakan The Fed terhadap Rupiah
Dari sisi eksternal, kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed) juga menjadi faktor penting yang mempengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah. Lukman mencatat bahwa berdasarkan dot plot terakhir, bank sentral AS diperkirakan hanya akan memangkas suku bunga satu kali sepanjang tahun depan. Kondisi ini membuat suku bunga dollar AS berpotensi bertahan di level relatif tinggi lebih lama, sehingga menahan penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Sebagai catatan, The Fed telah memangkas suku bunga sebesar 25 bps ke kisaran 3,50 persen hingga 3,75 persen per Rabu (10/12/2025). Keputusan ini sesuai dengan ekspektasi konsensus dan menandai pemangkasan suku bunga ketiga sepanjang 2025.
Proyeksi Range Nilai Tukar Rupiah pada 2026
Berdasarkan kombinasi tekanan dari dalam negeri dan faktor global, Lukman memperkirakan pergerakan rupiah pada 2026 akan cenderung bergerak terbatas dalam kisaran Rp 16.400 hingga Rp 16.800 per dollar AS. "Range Rp 16.400–Rp 16.800," beber Lukman.
Perspektif dari Wahyu Laksono
Sejalan dengan proyeksi tersebut, Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono, menilai prospek rupiah pada 2026 di tengah tren pemangkasan suku bunga global dan domestik akan sangat dipengaruhi oleh kecepatan serta selisih (spread) pemotongan suku bunga tersebut. Menurutnya, rupiah berpeluang menguat secara bertahap apabila The Fed bergerak lebih dovish dari ekspektasi pasar, sementara BI memilih bersikap lebih hati-hati dalam melanjutkan pelonggaran moneter.
Sebaliknya, jika BI memangkas suku bunga terlalu cepat atau The Fed kembali bersikap hawkish dengan ruang pemangkasan yang terbatas pada 2026, tekanan terhadap rupiah berpotensi berlanjut.
Pergerakan Jangka Menengah Rupiah
Dari sisi pergerakan jangka menengah, rupiah dinilai masih sulit menguat signifikan dan cenderung bergerak defensif. Ketidakpastian arah kebijakan The Fed untuk 2026 membuat dollar AS tetap menarik sebagai aset lindung nilai (safe haven). Hal ini menunjukkan bahwa rupiah akan terus menghadapi tantangan dalam menjaga stabilitasnya di tengah dinamika ekonomi global.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar