
nurulamin.pro —
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat ke posisi Rp16.711 pada perdagangan hari ini, Selasa (30/12/2025). Di sisi lain, greenback tercatat mengalami depresiasi.
Berdasarkan data yang dihimpun, rupiah ditutup menguat 17 poin atau 0,10% ke Rp16.771 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS melemah ke level 97,99. Penguatan rupiah ini terjadi di tengah pelemahan mata uang utama dunia lainnya.
Mayoritas mata uang di Asia ditutup menguat. Yen Jepang menguat sebesar 0,07% bersama yuan China sebesar 0,22%. Adapun, ringgit Malaysia dan rupee India masing-masing terapresiasi 0,29% dan 0,21%.
Faktor Pendorong Penguatan Rupiah
Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai penguatan dolar AS didorong berbagai sinyal dari data ekonomi, khususnya terkait pasar tenaga kerja dan kebijakan likuiditas bank sentral setempat.
Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan dolar AS dipicu berbagai sentimen eksternal, mulai dari meningkatnya tensi geopolitik hingga sikap wait and see investor terhadap arah kebijakan moneter AS.
Tensi Geopolitik Memengaruhi Pasar
Dari Eropa Timur, Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan Moskow akan merevisi posisi negosiasi terkait Ukraina setelah dugaan serangan pesawat tak berawak terhadap kediamannya. Kondisi tersebut menambah ketidakpastian terhadap upaya perdamaian yang dipimpin AS.
Sementara itu, ketegangan di Timur Tengah turut membayangi pasar keuangan global. Donald Trump sebelumnya menyatakan AS akan kembali menyerang Iran jika negara tersebut mencoba membangun ulang program nuklirnya.
Sentimen risiko di kawasan Asia juga meningkat setelah China menggelar latihan militer dengan tembakan langsung selama sekitar 10 jam di sekitar Taiwan. Situasi ini mendorong investor bersikap lebih defensif.
Perhatian Investor Terhadap Rilis Risalah Fed
Pelaku pasar pada Selasa sore turut mencermati rilis risalah rapat kebijakan terbaru The Fed. Investor mencari petunjuk mengenai penilaian bank sentral AS terhadap tren inflasi, kondisi pasar tenaga kerja, serta arah suku bunga ke depan, terutama terkait potensi pelonggaran kebijakan moneter pada 2026.
“Risalah tersebut dapat memengaruhi arah pasar jangka pendek dalam pekan yang relatif sepi data ekonomi, dengan volume perdagangan diperkirakan tetap rendah karena liburan,” ucap Ibrahim, Selasa (30/12/2025).
Tantangan Ekonomi Nasional
Dari sisi domestik, perekonomian Indonesia sepanjang 2025 menghadapi tantangan besar akibat ketidakpastian global, tensi geopolitik, serta dampak kebijakan tarif AS yang akhirnya sempat menekan sentimen pasar.
Meski demikian, kinerja ekonomi nasional dinilai tetap tangguh. Pertumbuhan ekonomi Indonesia mampu bertahan di atas 5% berkat kuatnya konsumsi rumah tangga dan meningkatnya aktivitas investasi, serta didukung bauran kebijakan fiskal dan moneter yang menjaga stabilitas makroekonomi.
Proyeksi Perdagangan Besok
Untuk perdagangan besok, Rabu (31/12/2025), Ibrahim memproyeksikan bahwa nilai tukar rupiah akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada kisaran Rp16.770 hingga Rp16.800 per dolar AS.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. nurulamin.pro tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar