
Penguatan Rupiah di Awal Perdagangan Jumat
Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan penguatan pada awal perdagangan Jumat. Mata uang Garuda dibuka naik tipis menjadi Rp16.666 per dolar AS, menguat 10 poin dari posisi sebelumnya di level Rp16.676 per dolar AS. Penguatan ini terjadi setelah adanya sinyal positif dari kebijakan moneter yang diumumkan oleh The Fed.
Sinyal Positif dari Kebijakan Moneter The Fed
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menjelaskan bahwa pergerakan positif rupiah kali ini tak lepas dari sinyal baru yang muncul usai pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) bulan Desember. Dalam keputusan terbarunya, The Fed memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke rentang 3,503,75 persen. Selain itu, bank sentral AS tersebut juga mengumumkan rencana kembali melakukan pembelian surat utang pemerintah AS senilai 40 miliar dolar AS, langkah yang dinilai sebagai awal pelonggaran setelah periode panjang Quantitative Tightening.
Pasar melihat kebijakan ini sebagai indikasi The Fed mulai membuka ruang likuiditas. Dampaknya, dolar AS melemah secara global dan menjadi angin segar bagi rupiah, ujar Josua.
Data Tenaga Kerja AS Lemah, Tekan Dolar
Selain keputusan kebijakan moneter, pelemahan dolar AS juga dipicu oleh rilis Initial Jobless Claims yang naik signifikan menjadi 236 ribu, jauh di atas ekspektasi 220 ribu. Angka tersebut merupakan kenaikan mingguan tertinggi sejak 2020.
Data itu memperkuat tanda-tanda pelemahan pasar tenaga kerja di AS, sehingga menambah tekanan terhadap dolar, tambahnya.
Dengan berbagai faktor tersebut, Josua memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp16.62516.725 per dolar AS sepanjang sesi perdagangan hari ini.
Yield Obligasi Ikut Turun
Keputusan FOMC juga memberi efek langsung pada pasar surat utang. Yield Treasury AS menurun dan mendorong penyesuaian pada Surat Berharga Negara (SBN) di pasar domestik.
Pada penutupan Kamis (11/12), yield SBN acuan berada di:
- Tenor 5 tahun: 5,63%
- Tenor 10 tahun: 6,18%
- Tenor 15 tahun: 6,46%
- Tenor 20 tahun: 6,58%
Sementara itu, volume transaksi obligasi pemerintah tercatat Rp19,98 triliun, sedikit menurun dibanding sesi sebelumnya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar