Saran Sosiolog UGM untuk Keseimbangan Wisata dan Kualitas Hidup Jogja

Saran Sosiolog UGM untuk Keseimbangan Wisata dan Kualitas Hidup Jogja

Perencanaan Jangka Panjang untuk Menghadapi Peningkatan Wisata di DIY

Sosiolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Arie Sujito, menyoroti pentingnya pemerintah segera membuat perencanaan jangka menengah dan panjang dalam menghadapi ramainya wisata di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Menurutnya, pertumbuhan pariwisata yang pesat membawa tantangan nyata yang harus segera diantisipasi.

Tantangan-tantangan ini antara lain munculnya kemacetan, interaksi sosial yang semakin padat, serta risiko lingkungan yang perlu dipikirkan bersama. Untuk itu, desain kebijakan di level provinsi dan kerja sama lintas wilayah diperlukan agar kota berkembang dengan visi yang ramah lingkungan dan humanis.

Dampak Kepadatan Wisata pada Masyarakat Lokal

Arie Sujito menjelaskan bahwa dampak kepadatan paling dirasakan oleh warga lokal yang menjalani aktivitas harian di tengah lonjakan mobilitas wisatawan. Akses jalan yang tersendat dan meningkatnya waktu tempuh menjadi pengalaman yang berulang setiap musim liburan.

Kondisi ini menimbulkan rasa tidak nyaman, terutama bagi masyarakat yang tinggal di kawasan padat untuk mobilitas harian. “Bagi warga sendiri, kepadatan ini membuat aktivitas keluar rumah terasa tidak nyaman karena kemacetan muncul di hampir semua titik,” ujarnya.

Selain itu, kepadatan wisatawan juga membuat fungsi ruang terbuka menjadi terbatas karena bersamaan dengan aktivitas wisata. Meski dari sisi ekonomi, pariwisata memberikan manfaat yang luas, mulai dari UMKM, homestay, perhotelan, dan sektor jasa lainnya, ada potensi ketimpangan pendapatan.

Ketimpangan Pendapatan dan Potensi Ketegangan Sosial

Menurut Arie Sujito, apabila keuntungan terkonsentrasi pada kelompok bermodal besar, ketegangan sosial berpeluang muncul di tingkat lokal. “Pengusaha besar sebaiknya turut memberdayakan pelaku usaha lokal agar pemerataan terjadi dan tidak memicu kecemburuan sosial,” ujarnya.

Peran pemerintah menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan pariwisata dan kualitas hidup warga. Jika tidak diantisipasi sejak dini, dikhawatirkan muncul ketegangan antara warga lokal dan wisatawan.

Perencanaan Kota yang Berkelanjutan

Perencanaan kota juga perlu melihat kepadatan wisata sebagai isu jangka menengah dan panjang, bukan sekadar fenomena musiman. Arie Sujito pun mendesak adanya kerja sama antara kota dan kabupaten di sekitar Yogyakarta untuk mengatur tata ruang dan mobilitas secara lebih adil.

“Desain kebijakan di level provinsi dan kerja sama lintas wilayah dibutuhkan agar kota berkembang dengan visi yang ramah lingkungan dan humanis,” imbuhnya.

Tantangan yang Harus Diwaspadai

Beberapa tantangan utama yang dihadapi DIY akibat peningkatan pariwisata antara lain:

  • Kemacetan: Lonjakan jumlah wisatawan menyebabkan kemacetan di berbagai titik, terutama saat musim liburan.
  • Interaksi Sosial yang Padat: Kehidupan sosial warga lokal menjadi lebih kompleks karena interaksi yang semakin sering dengan wisatawan.
  • Risiko Lingkungan: Peningkatan aktivitas wisata dapat mengancam lingkungan alami dan ruang terbuka publik.
  • Ketimpangan Ekonomi: Keuntungan dari sektor pariwisata cenderung terkonsentrasi pada pemodal besar, yang berpotensi menciptakan ketegangan sosial.

Dengan demikian, pemerintah perlu segera merancang kebijakan yang inklusif dan berkelanjutan agar pertumbuhan pariwisata tidak mengorbankan kesejahteraan masyarakat lokal maupun lingkungan sekitar.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan