Sarbin Sehe Hadiri Perayaan Natal 2025 GPdI Lelilef Sawai Halmahera Tengah

Penguatan Nilai Agama, Kemanusiaan, dan Kebangsaan di Maluku Utara

Pemerintah Provinsi Maluku Utara mengajak seluruh komponen masyarakat untuk terus memperkuat fondasi persatuan melalui penguatan tiga nilai utama, yaitu nilai agama, nilai kemanusiaan, dan nilai kebangsaan. Ajakan ini disampaikan oleh Wakil Gubernur Maluku Utara Sarbin Sehe dalam sambutan pada malam perayaan Natal dan menyambut Tahun Baru (Nataru) 2025-2026 yang diselenggarakan oleh Majelis Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Desa Lelilef Sawai, Kamis (11/12/2025) malam.

Wagub menekankan bahwa kemajuan dan dinamika kehidupan beragama di Indonesia, khususnya di Maluku Utara, harus diimbangi dengan nilai yang sejajar. Dalam hal ini, nilai Ketuhanan, berupa ibadah yang khusyuk dan takwa di rumah ibadah masing-masing pemeluk agama, serta nilai kemanusiaan berupa memelihara dan memperkuat rasa kemanusiaan serta hubungan baik antar sesama, tanpa memandang latar belakang agama, suku ras, dan golongan.

"Seorang yang rajin ke gereja, rajin ke masjid, tapi hubungannya dengan tetangga terus bermasalah, maka keberagamannya perlu dipertanyakan. Kedua nilai ini harus berjalan beriringan," ujarnya.

Perbedaan dan keragaman agama (pluralisme) ditekankan sebagai takdir Tuhan yang tidak bisa dihalangi, sehingga tidak relevan lagi jika ada pihak yang merasa agamanya menghalangi agama lain. Ia juga menyoroti peran sentral tokoh agama dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara.

Di Indonesia, nilai agama, nilai kearifan lokal, dan nilai kebangsaan menjadi pilar utama kehidupan sehari-hari. "Tentunya, saya memberikan apresiasi tinggi atas peran para tokoh agama yang selama ini terus membimbing masyarakat dalam suasana yang penuh perbedaan. Kita tidak perlu seragam, tapi kita bersatu. Itu jauh lebih indah," ujarnya.

Selain itu, tantangan di era industri 4.0 dan digitalisasi juga ditekankan. Kecepatan informasi membuat segala sesuatu menjadi terbuka dan sulit disembunyikan. Untuk menghadapi tantangan ini, nilai agama dan spiritualitas harus diperkuat sebagai modal agar masyarakat tidak mudah terjerumus dalam sekularisme.

Peran Gereja dalam Membangun Damai Sejahtera

Sementara itu, Ketua Departemen Aset Majelis Pusat GPdI, Pdt. Jakobus Polii, dalam sambutannya mengucapkan terima kasih dan rasa hormat yang mendalam atas kehadiran Wagub, serta menyampaikan rasa kagum terhadap perkembangan gereja di Malut yang luar biasa.

Ia menjelaskan, gereja memiliki visi yang besar dalam nilai dasar yaitu, membangun kekuatan dan pengaruh dari kasih yang berdampak pada damai sejahtera. Hal itu sangat relevan dengan tema Natal Nasional yang dicanangkan oleh Menteri Agama dan Dirjen Bimas Kristen, yang menekankan tentang "Pendamaian di Bumi". Pendamaian ini diberikan kepada manusia untuk menjadi alat transformasi yang berpusat pada Kristus, yang telah mewariskan damai sejahtera kepada umat.

Ia berpesan, bahwa Natal bukan hanya sekadar kebiasaan untuk dilewati dengan perayaan dan pesta pora di bulan Desember. Namun makna, tujuan, dan maksud Natal harus berdampak kepada dunia dan sekeliling jemaat. "Menjadi doa dan harapan agar Tuhan bekerja melalui jemaat untuk mendamaikan di tiga tingkatan, hati kita dengan diri kita sendiri, hati kita dengan sesama dan hati kita dengan Tuhan," ucapnya.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan