
Hari yang Penuh Dengan Beban
Tanggal 29 Desember bukan hari biasa. Sejak pukul delapan pagi hingga sebelas malam, kantor tidak pernah benar-benar sepi. Tamu datang berjubel dari tiga kabupaten di Jawa Tengah, bahkan satu rombongan jauh-jauh dari Thailand. Mereka datang bukan untuk berwisata, bukan pula untuk basa-basi akhir tahun. Mereka datang membawa keluhan, pertanyaan, kegelisahan, dan harapan—semuanya ingin didengar, dipahami, dan jika mungkin, dicarikan jalan keluar dalam bentuk solusi sistem informasi.
Saya mendengarkan. Sepanjang hari. Tanpa jeda yang layak. Inilah tahap awal dari kerja seorang solution architect. Ada yang bercerita soal usaha yang macet, soal sistem yang tidak berpihak, soal tim yang tidak solid, soal mimpi yang terasa terlalu besar untuk ditanggung sendiri. Ada yang hanya ingin memastikan: "Saya tidak salah jalan, kan?" Dan seperti biasa, yang paling melelahkan bukan banyaknya orang, melainkan beratnya isi kepala yang mereka titipkan.
Mendengar, jika dilakukan sungguh-sungguh, bukan pekerjaan ringan. Ia bukan sekadar menyimak kata-kata, tetapi membaca konteks, memahami latar, dan menimbang dampak dari setiap saran yang mungkin kita ucapkan. Salah satu kalimat yang keliru bisa menjadi kesalahan panjang dalam hidup orang lain. Karena itu saya memilih pelan, hati-hati, dan jujur—bahkan jika jawabannya belum lengkap.
Ketika malam akhirnya turun dan tamu terakhir pamit, tubuh masih tegak. Pikiran tidak. Pagi ini saya bangun dengan rasa berat yang sulit dijelaskan. Bukan sekadar lelah fisik, melainkan beban yang belum sempat saya urai. Semua keluhan kemarin masih berserakan di kepala, belum sempat saya buat plot, belum sempat saya susun menjadi peta masalah yang bisa didistribusikan ke tim. Semuanya masih mentah, tumpang tindih, dan menunggu ditertibkan.
Di titik inilah kelelahan menjadi paling terasa. Bukan ketika pekerjaan datang, tetapi ketika tanggung jawab sudah diterima sementara sistem pengelolaannya belum sempat dibangun.
Menulis sebagai Cara Berpikir
Masalahnya, hidup tidak memberi jeda panjang. Ada satu komitmen pribadi yang terus berdiri seperti jam dinding tua di rumah: menulis setiap hari. Komitmen yang saya pilih sendiri, dan karenanya tidak bisa saya salahkan pada siapa pun. Menulis adalah cara saya berpikir, cara saya menata kekacauan batin, sekaligus cara saya meninggalkan jejak. Tetapi menulis juga menuntut kejernihan—sesuatu yang pagi ini terasa langka.
Di sinilah saya menyadari satu hal penting: tidak semua hari harus dimenangkan dengan produktivitas. Ada hari-hari tertentu yang tugas utamanya bukan menghasilkan, melainkan menata ulang. Tradisi lama sebenarnya paham soal ini. Petani tidak menanam tanpa jeda setelah panen besar. Empu tidak menempa besi terus-menerus tanpa memberi waktu dingin pada logam. Jeda bukan kemalasan; jeda adalah syarat agar daya tahan tetap utuh. Ironisnya, di zaman serba target, kita justru merasa bersalah ketika tubuh meminta berhenti sejenak.
Hari ini, saya tidak merasa gagal karena bangun dengan kepala berat. Saya justru merasa sedang berada di fase penting: fase mengurai beban agar bisa ditanggung bersama, bukan dipikul sendirian. Semua keluhan kemarin harus berubah bentuk—dari cerita menjadi struktur, dari emosi menjadi informasi, dari masalah menjadi kerja tim.
Jika hari ini tulisan ini terasa lebih pelan, lebih lirih, itu bukan karena saya kehabisan tenaga. Justru karena saya memilih jujur pada kondisi. Menulis bukan soal selalu tampak kuat, tetapi berani mengakui kapan kita perlu berhenti sejenak agar tidak salah melangkah jauh.
Kesimpulan
Kadang, yang kita butuhkan bukan solusi cepat, melainkan waktu singkat untuk diam. Dari diam itulah biasanya arah yang lebih tepat muncul. Di tengah kesibukan dan tekanan, penting untuk menyadari bahwa tidak semua masalah bisa diselesaikan dalam sekejap. Terkadang, kita perlu mengambil jeda, menenangkan diri, dan menata pikiran agar bisa kembali bergerak dengan lebih jelas dan bijaksana.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar