Sejarah Perayaan Hari Ulang Tahun dan Hari Amal Bakti Kemenag 3 Januari

Sejarah Perayaan Hari Ulang Tahun dan Hari Amal Bakti Kemenag 3 Januari

Perayaan Hari Amal Bakti Kemenag yang Penuh Makna

Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama (Kemenag) diperingati pada Sabtu, 3 Januari 2026. Tanggal ini tidak hanya menjadi penanda waktu, tetapi juga menjadi momen penting untuk merefleksikan capaian dan kekurangan di masa lalu serta merumuskan strategi dan langkah ke depan dalam menjalankan tugas dan fungsi Kemenag.

Istilah "Hari Amal Bakti" memiliki makna khas bagi Kemenag. Istilah ini menggambarkan pengabdian yang diwujudkan melalui tindakan nyata dan pelayanan tulus kepada umat, bukan sekadar peringatan seremonial. Penggunaan istilah HAB resmi dimulai pada 3 Januari 1980, menggantikan istilah Hari Ulang Tahun yang telah digunakan sejak 1956 hingga awal 1970-an dalam berbagai dokumen dan peringatan resmi Kementerian Agama.

Mengapa Kemenag Menggunakan Istilah Hari Amal Bakti?

Inspektur III Inspektorat Jenderal Kemenag RI, Syafi’i, menjelaskan bahwa istilah tersebut merupakan kekhasan Kementerian Agama. Secara etimologis, kata “amal” berasal dari bahasa Arab, amal, yang berarti perbuatan nyata yang dapat diamati dan diukur (observable and measurable), bukan sekadar niat atau keinginan batin. Sementara itu, kata “bakti” bermakna pengabdian dan loyalitas nilai yang diwujudkan dalam pelayanan yang tulus serta berorientasi pada kepentingan orang lain.

“Bakti tidak sekedar rutinitas birokratis, tetapi komitmen etis. Dengan demikian, 'Amal Bakti' berarti perbuatan/tindakan nyata yang lahir dari ketulusan hati untuk memberikan pelayanan kepada umat,” ujar Syafi'i, dikutip dari laman resmi Kemenag, Sabtu (3/1/2026).

Sejarah Istilah Hari Amal Bakti Kemenag

Menurut Kementerian Agama, penggunaan istilah Hari Amal Bhakti sebagai pengganti istilah Hari Ulang Tahun muncul pada 3 Januari 1980. Kemunculan istilah ini dijelaskan sebagai pengganti istilah peringatan Hari Ulang Tahun Kementerian Agama, yang pertama kali secara resmi ditetapkan melalui Penetapan Menteri Agama No.6 Tahun 1956, tentang berdirinya Departemen Agama pada 3 Januari 1946.

Momen ini tepat di masa awal kepemimpinan Menteri Agama Alamsjah Prawiranegara (1978-1983), melanjutkan estafet kepemimpinan Mukti Ali (1972-1978). Namun, bagaimana jejak penggunaan istilah Hari Ulang Tahun Departemen Agama pada masa sebelum 1980?

Berdasarkan penelusuran dokumen dan publikasi resmi, penggunaan istilah Hari Ulang Tahun Departemen Agama telah tercatat sejak 1956 dan berlanjut setidaknya hingga 1972, meskipun data pada rentang waktu tersebut relatif terbatas. Sejumlah dokumen penting menunjukkan konsistensi penggunaan istilah tersebut dalam berbagai peringatan resmi.

Jejak awal dapat ditemukan dalam Buku “10 Tahun Kementerian Agama” (Januari 1956) yang memuat pidato Menteri Agama KH. Moh. Ilyas serta Sekretaris Jenderal Kementerian Agama dalam rangka peringatan 10 tahun berdirinya Kementerian Agama pada 3 Januari 1956. Selanjutnya, penggunaan istilah Hari Ulang Tahun juga tercatat dalam Amanat Menteri Agama KH. Wahib Wahab pada peringatan ulang tahun ke-15 tahun 1961, serta dalam pidato dan prakata Menteri Agama KH. Saifuddin Zuhri pada peringatan ulang tahun ke-17 (1963), ke-19 (1965), hingga ke-20 (1966).

Penggunaan istilah tersebut secara administratif semakin diperkuat dengan diterbitkannya Keputusan Menteri Agama Nomor 93 Tahun 1972 tentang Pembentukan Panitia Hari Ulang Tahun Departemen Agama ke-26. Keputusan ini menegaskan bahwa peringatan hari lahir Departemen Agama dikelola secara terstruktur melalui kepanitiaan resmi, mencakup aspek persiapan, pelaksanaan kegiatan, dan pelaporan yang bertanggung jawab.

Secara periodik, penggunaan istilah Hari Ulang Tahun Departemen Agama berlangsung cukup panjang, mulai dari peringatan 3 Januari 1956 hingga awal dekade 1970-an, melintasi berbagai kepemimpinan Menteri Agama, mulai dari KH. Moh. Ilyas (1955-1959), KH. Wahib Wahab (1959-1962), KH. Saifuddin Zuhri (1962-1967), KH. Moh. Dahlan (1967-1971) hingga Prof. Mukti Ali (1971-1978).

Dengan demikian, penelusuran ini memberikan gambaran dinamika penggunaan istilah Hari Ulang Tahun Departemen Agama pada fase sebelum 1980, sebelum kemudian digunakan istilah Hari Amal Bhakti (HAB).

Apabila di kemudian hari ditemukan data tambahan yang melengkapi periode hingga tahun 1980, hal tersebut akan semakin memperkuat kronologis historis peringatan hari lahir Kementerian Agama dari masa ke masa.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan