
Sejarah dan Ciri Khas Rawon Bu Katun di Lumajang
Rawon adalah sup daging khas Jawa Timur yang memiliki warna kehitaman dan populer di berbagai kalangan usia. Tidak hanya sebagai hidangan biasa, rawon juga memiliki variasi nama berdasarkan bahan utama, asal daerah, atau pembuatnya. Hal ini menjadi ciri khas pembeda dan strategi branding dalam pemasaran.
Kabupaten Lumajang tidak hanya menawarkan destinasi wisata alam yang indah, tetapi juga kaya akan ragam kuliner yang diminati oleh masyarakat setempat maupun wisatawan. Wisata kuliner merupakan bentuk perjalanan yang fokus pada eksplorasi hidangan khas suatu daerah. Aktivitas ini melampaui sekadar menyantap makanan; ia juga mencakup proses pembuatannya, seperti kunjungan ke pasar tradisional, pengalaman mencicipi masakan lokal, atau bahkan mempelajari bahan-bahan serta rempah-rempah yang digunakan dalam masakan setempat. Popularitas wisata kuliner terus meningkat seiring dengan minat wisatawan untuk merasakan beragam hidangan lokal dan mencari pengalaman kuliner yang unik.
Wisata kuliner juga seringkali terintegrasi dengan kegiatan wisata lainnya, seperti budaya, sejarah, atau alam, yang secara signifikan dapat memperkaya pengalaman para pelancong. Selain memberikan keuntungan bagi wisatawan, wisata kuliner juga memberikan dampak positif pada ekonomi lokal serta berperan penting dalam pelestarian warisan kuliner dan budaya daerah tersebut.
Pengalaman Mencicipi Rawon Bu Katun
Seseorang yang terbiasa makan rawon masakan Mamak mengaku agak kaget ketika pertama kali mencoba rawon Bu Katun. Warna kuahnya gelap tapi tidak hitam pekat seperti rawon biasanya (gelap karena diberi kecap manis). Kuah rawon Bu Katun disajikan dengan tumis semur kental yang berisi tahu dan jeroan, lalu diberi bumbu Bali. Toge pendek biasanya ditaruh di pinggir piring bersama sambal. Rasanya ringan dan pas untuk disantap pagi hari. Tidak ada daging seperti di rawon yang biasa dikenal. Sebaliknya, ada aneka daging dan jeroan sapi. Favorit ayah adalah empal dan otak goreng. Mamak suka babat dan paru. Saya sendiri menyukai otak dan paru. Perhatikan: tidak ada kata "daging" di sana. Alias, sekali makan, dua lauk penyumbang angka kolesterol tinggi akan ada di piring. Bayangkan, baru jam 7 pagi kamu sudah ngganyem aneka jerohan penuh semangat. Sungguh vivere pericoloso, sarapan para pemberani.
Bu Katun memiliki jam operasional yang singkat. Buka selepas subuh, jam 8 pagi mungkin sudah tinggal sisa-sisa. Meleng sedikit, otak yang lembut itu sudah lenyap dari pandangan. Selain itu, menunya memang cuma satu, ya rawon itu.
Perbedaan dan Keunikan Rawon Bu Katun
Di antara berbagai pilihan kuliner yang tersedia di Kabupaten Lumajang, seperti nasi jagung, pecel, soto ayam, sate, dan banyak lainnya, rawon menonjol dengan cita rasa yang khas dan unik, disukai oleh kalangan muda maupun tua. Rawon yang dimaksud adalah "Rawon Bu Katun" yang memiliki ciri khas tersendiri. Rawon secara umum adalah hidangan khas Jawa Timur yang dikenal luas di seluruh nusantara, terdiri dari potongan daging sapi yang dimasak dengan kuah hitam pekat yang dihasilkan dari rempah bernama keluwak, yang berfungsi sebagai pewarna kuah. Rawon biasanya disajikan dengan nasi putih, tauge, daun bawang, dan kerupuk udang.
Namun, Rawon Bu Katun memiliki perbedaan yang mencolok dan menjadi ciri khasnya. Berbeda dengan rawon pada umumnya yang kuahnya hitam pekat karena keluwak, kuah Rawon Bu Katun yang hitam justru berasal dari kombinasi kecap asin dan manis. Selain itu, secara tradisional rawon mengandung potongan daging sapi dalam kuahnya, tetapi Rawon Bu Katun tidak demikian; kuahnya tidak berisi potongan daging, melainkan disajikan dengan berbagai pilihan topping seperti paru goreng dan empal. Perbedaan ini membuat Rawon Bu Katun sangat disukai oleh kalangan orang tua karena tanpa keluwak, yang dianggap berbahaya bagi penderita kolesterol, darah tinggi, dan asam lambung. Ciri khas unik lainnya yang membedakan rawon ini adalah penambahan bumbu merah Bali dan sambal bawang berwarna coklat yang dituangkan di atas nasi rawon.
Sejarah dan Perkembangan Bisnis Rawon Bu Katun
Sejarah Rawon Bu Katun dimulai sejak tahun 1950-an. Awalnya, usaha ini beroperasi di sebuah ruko sewaan, namun menghadapi berbagai kendala seperti persaingan dagang yang cukup ketat. Bu Katun, yang lahir sekitar tahun 1920-an dan wafat pada usia 75 tahun, menghadapi tantangan tersebut dengan memohon pertolongan Tuhan untuk kelancaran bisnis rawonnya. Akhirnya, beliau memutuskan untuk mendirikan dan membuka warung sendiri di sebelah rumahnya, yang telah beroperasi selama lebih dari 10 tahun.
Perkembangan Rawon Bu Katun semakin terlihat dengan adaptasi terhadap teknologi; kini mereka menerima pesanan langsung maupun pre-order, bahkan berjualan secara online melalui layanan seperti Go-Food, yang memudahkan penyebaran dan pengenalan rawon ini kepada masyarakat luas. Saat ini, usaha legendaris Rawon Bu Katun diteruskan oleh cucunya, Bu Ana, yang telah membantu sejak masih sekolah menengah pertama hingga sekarang.
Strategi Penjualan dan Tantangan Bisnis
Strategi penjualan rawon Bu Katun dahulu dengan cara dari mulur ke mulut berbeda dengan sekarang yang bisa menggunakan social media seperti Facebook, Instagram, dan TikTok. Karena Bu Ana saat ini sedang di Surabaya, mulai berpikir akan membuat cabang rawon Bu Katun di Surabaya dengan pegawai sendiri, dengan system pre order.
Banyak juga kendala yang di alami oleh Bu Ana dan Bu Katun saat berjualan di jalan raya karena dahulu terkenal dengan berbisnis dengan menggunakann hal-hal ghoib, dari mulai nasi yang seperti bercampur darah namun karena Bu Ana dan Bu Katun memiliki keyakinan kepada tuhan Yang Maha Kuasa hal tersebut di lawan dengan cara berdoa dam sholat dan akhirnya meskipun ada hal tersebut sangat berbanding terbalik, kondisi warung Bu Katun menjadi sangat ramai dikunjungi oleh khalayak masyarakat Lumajang hingga luar kota.
Keuntungan Usaha dan Dampak Ekonomi
Keuntungan usaha Bu Katun dari awal hingga saat ini bisa membantu keponakan-keponakan yang memang tidak mempunyai seorang ayah. Pada masa Covid-19, usaha rawon mengalami dampak yaitu setengah dari pelanggan yang sudah selalu datang kemudian datang hanya bisa membeli dengan cara dibungkus dan dibawa pulang, karena para pelanggan yang sudah biasa makan di tempat kemudian pada saat Covid-19 hanya bisa dibawa pulang. Pada akhirnya para pelanggan banyak yang tidak datang. Namun karena sudah ada Gojek atau pengantar makanan, akhirnya masih bisa melanjutkan bisnis pada masa Covd 19 tersebut hingga sampai sekarang.
Pelanggan Rawon legendars di Lumajang ini juga dari beberapa instansi seperti pada waktu itu bupati yang ada di Lumajang kerap berkunjung seperti saat ada halal bihalal beliau sering pesan rawon Bu Katun untuk hidangannya, kemudian rawon Bu Katun juga bisa menerima request pesanan atau pengantaran pada saat itu dikirim ke pemandian alam Selokambang di Lumajang sekitar 700 porsi untuk hari olahraga.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar