
“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itulah ibadahmu yang sejati.” (Roma 12:1)
Manusia memiliki tiga komponen: tubuh, jiwa, dan roh. Ketiganya tidak dapat berdiri sendiri. Karena itu, ibadah adalah cara manusia merawat seluruh keberadaannya.
Tubuh adalah alat untuk beribadah. Merawatnya merupakan bagian dari kehidupan rohani. Tidak ada bagian tubuh yang lebih mulia atau lebih rendah. Tubuh yang sehat menopang kehidupan rohani yang sehat.
Karena itulah, saya menganggarkan perawatan rambut di akhir tahun 2025. Perawatan ini bukan sekadar self-reward, tetapi bagian dari ibadah.
Akhir Desember 2025, saya dan adik merawat rambut di Ten Salon, Ruko CBD. Tempat ini sudah lama menjadi langganan adik. Saya juga pernah memotong rambut di sana, dan hasilnya konsisten memuaskan.
Hari itu, saya dilayani langsung oleh pemilik salon. Saat sisir menyentuh kulit kepala, tubuh saya merespons berbeda. Di rumah, saya juga menyisir rambut setiap hari. Namun sentuhan di salon terasa lebih menenangkan.
Gesekan sisir di kulit kepala membuat saya rileks. Setelah rambut sepanjang satu jengkal dipangkas, kepala terasa lebih ringan. Saat Tante Ten merapikan potongan, kantuk perlahan datang.
Tiga puluh menit kemudian, saya tersenyum puas. Wajah terlihat lebih segar. Rambut tampak lebih tebal. Ujung bercabang menghilang.
Memotong rambut ternyata membawa dampak psikologis. Scott J Salons menjelaskan bahwa memotong rambut membuat seseorang merasa memiliki kontrol dan memberi kepuasan. Tindakan ini juga menjadi penanda perubahan.
Perawatan belum selesai. Saya melanjutkan dengan creambath.
Fans Head Spa menyebutkan bahwa creambath meningkatkan sirkulasi darah di kepala. Pijatan mengaktifkan folikel rambut dan menguatkan akar. Pijatan di leher dan pundak membuat tubuh menjadi rileks. Pikiran lebih tenang dan melambat.
Perawatan rambut hanya salah satu cara ibadah. Cara-cara ibadah lainnya yaitu bekerja untuk mencari nafkah, belajar untuk mengisi jiwa dengan hal yang baik, mengasah bakat, makan makanan sehat, berolah raga, mempergunakan waktu dengan kegiatan positif, dan sebagainya.
Ibadah yang sejati tidak berhenti di ruang doa, tetapi hadir ketika tubuh, jiwa, dan roh seimbang. Ketiganya berjalan selaras dalam keseharian, melalui keputusan-keputusan sederhana yang penuh kesadaran. (*)
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar