
Wali Kota Tasikmalaya Dianggap Tidak Peduli Terhadap Seni dan Budaya
Sejumlah seniman di Kota Tasikmalaya menyampaikan kritik terhadap Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi. Mereka menilai bahwa wali kota tidak memiliki perhatian yang cukup terhadap seni dan budaya. Padahal, seni dan budaya merupakan bagian penting dari peradaban manusia.
Tuduhan ini bukan tanpa alasan. Sejak menjabat sebagai wali kota, Viman Alfarizi tidak pernah hadir dalam agenda-agenda seni dan budaya yang diselenggarakan oleh para seniman setempat. Hal ini menimbulkan kekecewaan di kalangan komunitas seni.
Direktur Lembaga Seni Mahasiswa Islam Cabang Tasikmalaya, Cepi Sultoni, mengungkapkan bahwa selama Festival Seni Akhir Tahun dan Syukur Waktu ke 14, wali kota tidak pernah hadir. Ia menjelaskan bahwa dalam setiap rangkaian acara, wali kota selalu diundang. Bahkan dalam malam puncak tahun baru, wali kota tetap tidak datang.
“Kalau sekali-kali tidak hadir, mungkin bisa dimaklumi. Tapi jika setiap kali diundang oleh seniman selalu tidak hadir, itu membuat kami merasa wali kota tidak suka seni,” ujarnya.
Cepi menegaskan bahwa seni bukanlah hobi segelintir orang. Seni adalah wajah peradaban. Mengabaikan seni berarti mengabaikan kesadaran budaya warga sendiri. Ia juga menyoroti bahwa seni memiliki peran penting dalam merekam jeritan sosial yang tidak terdengar di ruang birokrasi, merawat ingatan kolektif yang sering dihapus oleh kepentingan kekuasaan, dan memberi ruang bernapas bagi generasi muda agar tidak tumbuh dalam kekosongan makna.
Ia menilai bahwa Tasikmalaya memiliki sejarah, tradisi, dan potensi seni yang hidup di tengah masyarakat. Namun, semua itu akan mati pelan-pelan jika pemimpinnya tidak memiliki keberpihakan.
Dampak Ketidakpedulian terhadap Seni
Ketika seni tidak dianggap penting, maka kebijakan akan lahir tanpa kepekaan. Anggaran kebudayaan dipinggirkan, ruang ekspresi dipersempit, dan seniman hanya dijadikan properti acara, dipanggil saat dibutuhkan, dilupakan setelahnya.
Cepi mengatakan bahwa seorang Wali Kota memang tidak harus paham estetika, tetapi ia wajib paham tanggung jawab. Jabatan publik bukan ruang untuk mengekspresikan selera personal, melainkan amanah untuk melayani seluruh warga, termasuk mereka yang hidup dari karya, dari panggung kecil, dari kata-kata, dari nada, dari lukisan yang sering tidak menghasilkan apa-apa selain kejujuran.
Menurutnya, pembangunan tanpa seni adalah pembangunan tanpa nurani. Kota mungkin tampak maju di atas kertas, tetapi miskin jiwa di kehidupan nyata. Jalan diperlebar, gedung ditinggikan, tetapi manusia di dalamnya kehilangan ruang untuk berpikir, merasakan, dan mengkritik. Padahal seni justru menjadi alat kontrol sosial agar kekuasaan tidak berjalan sewenang-wenang.
Pertanyaan tentang Arah Pembangunan
Cepi menilai ketidakpedulian Wali Kota terhadap seni bukan persoalan remeh. Ini adalah persoalan arah. Apakah Tasikmalaya ingin dibangun sebagai kota yang beradab dan berbudaya, atau sekadar kota administratif yang kering imajinasi?
Terakhir, ia mengingatkan bahwa sejarah selalu jujur mencatat. Ia tidak hanya mengingat berapa banyak proyek yang dibangun, tetapi juga apa yang dihancurkan secara diam-diam. Dan pemimpin yang membiarkan seni mati di kotanya, pada akhirnya akan dikenang bukan karena keberhasilannya, melainkan karena kehilangannya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar