Sentuh Kaum Urban, Sendy Leather Tampilkan Inovasi Produk Kulit di SMEXPO 2025

Transformasi Produk Kulit Lokal di SMEXPO 2025

Sendy Leather memanfaatkan panggung SMEXPO 2025 untuk menunjukkan transformasi pada produk kulit lokal khas Tanggulangin, Jawa Timur. Dengan membawa koleksi yang berdesain modern dan lebih fungsional, jenama ini mencoba menyasar konsumen urban yang ingin tampil profesional tanpa kehilangan sentuhan gaya.

Pemilik Sendy Leather, Rafi Rasyad R, percaya bahwa produk kulit lokal kini memiliki daya saing yang kuat. Dengan menggabungkan keterampilan khas para perajin lokal dan sentuhan desain yang lebih modern, dirinya percaya bahwa kualitas produknya mampu menyamai bahkan menantang brand-brand besar di pasaran.

Sendy Leather sendiri adalah usaha yang berakar dari bisnis keluarga sejak 2012. Rafi bercerita bisnisnya berawal dari sang ibu, yang memiliki latar belakang sebagai supplier kulit. Sang ibu sendiri juga adalah lulusan Akademi Teknologi Kulit sehingga punya keilmuwan yang dalam soal kulit.

Berangkat dari pengalaman tersebut, ibunya kemudian memasok bahan kulit ke sentra industri Tanggulangin di Sidoarjo yang dikenal luas sebagai kawasan penghasil produk kulit. Dari kebiasaan memasok itu, muncul dorongan dari anak-anaknya, yakni mengapa mereka tidak membuat brand sendiri. Ide itulah yang kemudian melahirkan Sendy Leather pada tahun 2012.

“Setelah itu kami mulai menekuni usaha ini dengan lebih serius. Di awal, kami banyak mengikuti pameran, bukan hanya di berbagai kota di Indonesia, tetapi juga hingga ke Filipina dan Rusia,” ungkapnya saat ditemui di Pertamina SMEXPO 2025 di BXC Mall 2 Bintaro beberapa waktu lalu.

Ternyata, katanya, produk mereka ternyata mendapat respons positif dari pasar. Berkat sambutan positif tersebut, Sendy Leather kemudian mulai membuka gerai sendiri. Kini, mereka memiliki tiga outlet, yang pertama di Tanggulangin, disusul outlet kedua di Solo Paragon Mall, dan yang ketiga di kawasan Citraland.

Menurut Rafi, keunggulan utama Sendy Leather terletak pada kelengkapan produknya. Ketika pelanggan datang ke outlet maupun berbelanja di kanal online, mereka dapat menemukan semua kebutuhan aksesori kulit dalam satu tempat. Terlebih, Sendy Leather memang berfokus pada perlengkapan kantor, seperti lanyard dan beragam jenis tas yang banyak dibutuhkan pekerja.

Selain kelengkapan produk, desain menjadi nilai jual lain yang diunggulkan. Rafi menyebut bahwa Sendy Leather mengadopsi gaya modern yang tetap tahan lama atau timeless. Seluruh produk utamanya menggunakan kulit sapi, meski beberapa item edisi khusus berbahan kulit eksotis tersedia dan hanya dijual di toko offline.

Sejak awal, Sendy Leather menempatkan diri sebagai brand kulit premium dengan harga yang masih ramah di kantong. Terlebih, produknya menawarkan tas kulit asli yang harganya bersaing dengan produk sintetis.

"Kapasitas produksinya, untuk tas kita bisa produksi sampai sekitar 2.500 per bulan. Kalau dompet, lanyard seperti itu kita bisa sampai 5.000 per kulit," imbuhnya.

Rafi menjelaskan bahwa saat ini Sendy Leather sedang memperkuat fokus pada kegiatan promosi. Upaya ini dilakukan agar produk kulit asal Jawa Timur tersebut semakin dikenal secara nasional dan pada akhirnya mampu menembus pasar ekspor.

Rafi mengatakan Sendy Leather, yang merupakan UMKM binaan Pertamina, kemudian mendapat berbagai kesempatan berharga. Program tersebut membuat mereka dapat menjalin relasi dengan lebih banyak pihak, sekaligus mendapatkan berbagai modul pembelajaran dari Pertamina UMK Akademi yang sangat membantu pengembangan usaha.

Selain pembinaan, dukungan berupa kesempatan mengikuti pameran juga memberi dampak signifikan, termasuk di SMEXPO tingkat nasional di BXC Mall Tangerang. Sebab, Rafi menyebut kawasan Jakarta kini menjadi pasar yang paling menjanjikan bagi Sendy Leather lantaran banyaknya pekerja urban.

Untuk mempercepat layanan, Sendy Leather berencana membuka gudang di Jakarta. Sendy Leather merupakan salah satu mitra binaan Pertamina dan didukung penuh untuk terus berkembang hingga menembus pasar global.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan