
Ponsel Android di Korea Utara: Alat Pengawasan Negara yang Membatasi Privasi Pengguna
Ponsel Android yang digunakan di Korea Utara tidak seperti ponsel biasa yang kita kenal. Meskipun tampilannya mirip dengan ponsel umum, perangkat ini justru dirancang sebagai alat pengawasan negara yang sangat ketat. Tujuannya adalah untuk membatasi komunikasi, menyaring informasi, dan memantau aktivitas pengguna secara menyeluruh.
Akses Internet Terbatas dan Intranet Tertutup
Salah satu fitur paling mencolok dari ponsel Android Korea Utara adalah pemblokiran akses internet global. Pengguna tidak bisa mengakses situs web atau aplikasi populer seperti Google, media sosial, atau layanan pesan instan. Sebaliknya, mereka hanya diberi akses ke intranet tertutup yang hanya berisi konten resmi negara. Untuk mengakses jaringan, pengguna harus membuka aplikasi khusus bernama “Mirae” dan memasukkan identitas pribadi.
Aplikasi-aplikasi yang tersedia di dalam sistem juga terbatas. Misalnya, browser, kalender, kamera, dan pemutar musik hanya menampilkan konten propaganda negara. Hal ini membuat pengguna tidak bisa menggunakan ponsel tersebut seperti ponsel pribadi yang biasanya fleksibel.
Sensor Kata-Kata dan Konten Propaganda
Sistem operasi (OS) pada ponsel Android Korea Utara juga memiliki sensor yang sangat ketat. Kata-kata seperti “Korea Selatan” tidak bisa diketik secara normal. Sistem akan otomatis menggantinya dengan istilah bernada propaganda, seperti “negara boneka”, atau menyamarkannya dengan tanda bintang. Istilah gaul modern dan referensi budaya populer dari Korea Selatan juga akan memicu peringatan sistem.
Selain itu, teks yang diketik oleh pengguna bisa diubah ke versi yang dianggap sesuai dengan ideologi negara. Hal ini menunjukkan bahwa ponsel tersebut tidak hanya membatasi akses informasi, tetapi juga mengontrol isi yang dapat dilihat dan dibaca oleh pengguna.
Fitur Pengawasan Tersembunyi
Ponsel Android Korea Utara juga dilengkapi dengan fitur pengawasan tersembunyi yang memata-matai aktivitas pengguna. Salah satunya adalah kemampuan untuk mengambil tangkapan layar otomatis setiap kali pengguna membuka aplikasi. Screenshot tersebut disimpan di dalam sistem, sehingga aktivitas pengguna dapat ditelusuri sewaktu-waktu.
Temuan ini serupa dengan laporan BBC beberapa waktu lalu, yang menyebut ponsel Korea Utara rutin mengambil screenshot setiap beberapa menit dan memblokir kata-kata tertentu yang dianggap terlarang. Selain itu, pembatasan ketat juga berlaku pada berbagi foto, pengiriman file, hingga penggunaan Bluetooth. File yang berasal dari luar sistem resmi akan ditandai dan berpotensi dihapus.
Pembatasan Pemasangan Aplikasi
Untuk memasang aplikasi baru, pengguna harus datang langsung ke toko resmi dan memperoleh izin pemerintah. Batas waktu penggunaan juga diberlakukan. Ini menunjukkan bahwa ponsel Android Korea Utara bukanlah alat komunikasi bebas, melainkan perangkat yang sepenuhnya diatur oleh negara.
Ponsel Populer di Korea Utara
Meski sangat membatasi privasi dan kebebasan pengguna, ponsel-ponsel seperti Samtaesung 8 justru menjadi ponsel populer di Korea Utara. Pada 2024 lalu, Samtaesung 8 menjadi ponsel paling populer, bersama dengan HP lainnya bernama Chongsong 234 dan Chongsong 222.
Ini menunjukkan bahwa meskipun ponsel Android Korea Utara memiliki banyak keterbatasan, masyarakat masih menggunakannya karena ketergantungan pada teknologi dan kontrol pemerintah. Bagi pengguna, ponsel ini lebih seperti alat "mata-mata" negara daripada alat komunikasi biasa.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar