
Situasi Politik Venezuela Memanas Setelah Klaim Trump
Klaim yang dikeluarkan oleh mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengenai serangan besar militer AS terhadap negara Venezuela telah memicu keguncangan politik di kawasan tersebut. Dalam pernyataannya melalui media sosial Truth Social pada hari Sabtu (3/1), Trump menyatakan bahwa pasukan Amerika Serikat telah melakukan operasi militer yang berhasil menargetkan kepemimpinan negara Venezuela.
Trump mengklaim bahwa Presiden Nicolas Maduro dan istrinya telah ditangkap serta dibawa keluar dari negara tersebut oleh pasukan AS. Pernyataan ini mengejutkan banyak pihak, karena tidak ada konfirmasi resmi dari pemerintah Venezuela mengenai klaim tersebut. Hingga berita ini diturunkan, otoritas di Caracas belum memberikan pernyataan untuk membantah atau membenarkan informasi yang disampaikan oleh Trump.
Namun, laporan dari Reuters mencatat adanya ledakan yang terdengar di ibu kota Caracas serta beberapa wilayah lain pada pagi hari Sabtu. Beberapa saksi mata juga melaporkan melihat helikopter terbang di atas kepulan asap di berbagai titik kota, yang memicu spekulasi tentang adanya operasi militer besar-besaran.
Jika klaim Trump benar, tindakan tersebut akan menjadi intervensi militer langsung AS yang paling signifikan di Amerika Latin sejak invasi Panama pada tahun 1989, yang berujung pada penangkapan Presiden Manuel Noriega. Selama beberapa bulan terakhir, ketegangan antara Washington dan Caracas memang meningkat, dengan pemerintahan Trump secara terbuka menuduh Maduro memimpin "negara narkoba" dan memanipulasi pemilu nasional.
Tuduhan ini terus dibantah oleh Maduro, yang menuding AS ingin menguasai cadangan minyak Venezuela. Ironisnya, hanya sehari sebelum klaim penangkapan muncul, Maduro menyatakan keterbukaannya untuk berdialog dengan AS. Dalam wawancara dengan televisi pemerintah Venezuela, ia menyatakan siap melakukan pembicaraan terkait isu perdagangan narkoba dan minyak, bahkan menyebut dialog dapat dilakukan kapan pun dan di mana pun.
Dalam wawancara tersebut, Maduro juga menghindari pertanyaan terkait klaim Trump sebelumnya mengenai serangan AS terhadap fasilitas dermaga di Venezuela. Ia hanya menyebut isu itu bisa dibahas dalam beberapa hari ke depan.
Peningkatan Operasi Militer AS di Kawasan Karibia dan Pasifik Timur
BBC News melaporkan bahwa dalam tiga bulan terakhir, Amerika Serikat meningkatkan operasi militernya di kawasan Karibia dan Pasifik timur dengan alasan perang melawan narkoba. Militer AS mengklaim telah melakukan lebih dari 30 serangan terhadap kapal yang diduga membawa narkotika, dengan jumlah korban tewas dilaporkan mencapai lebih dari 110 orang.
Serangan terbaru dilaporkan terjadi pada Rabu lalu, ketika dua kapal dihantam dan menewaskan lima orang. Selain itu, Trump juga diketahui menggandakan hadiah bagi informasi yang mengarah pada penangkapan Nicolás Maduro serta mempertimbangkan penetapan pemerintah Venezuela sebagai Foreign Terrorist Organisation (FTO).
Tuduhan tersebut kembali dibantah keras oleh Maduro, yang menilai perang melawan narkoba dijadikan alasan untuk menjatuhkannya dari kekuasaan. Sejumlah pakar kontra-narkotika internasional menilai peran Venezuela dalam perdagangan narkoba global relatif kecil dan lebih berfungsi sebagai negara transit. Namun demikian, kebijakan agresif AS terhadap Venezuela terus berlanjut, termasuk penyitaan kapal tanker minyak milik Venezuela yang dituding melanggar sanksi internasional.
Pemerintah Venezuela menyebut langkah tersebut sebagai tindakan pembajakan internasional. Mereka menuntut agar AS menghentikan tindakan-tindakan yang mereka anggap tidak sah dan merugikan kedaulatan negara.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar