Serapan gabah kualitas apa saja diklaim untungkan petani hingga Rp 132 T

Serapan gabah kualitas apa saja diklaim untungkan petani hingga Rp 132 T
Ringkasan Berita:
  • Penyerapan gabah semua kualitas atau any quality diklaim memberikan keuntungan bagi petani di Indonesia hingga Rp 132 triliun.
  • Jika gabah semua kualitas tidak diserap dengan harga Rp 6.500 per kg, petani berpotensi bangkrut karena masih harus menanggung biaya lain seperti cicilan kredit.
  • Luas tanaman padi di Oktober–Desember 2025 mencapai 400 ribu sampai 500 ribu hektar.
 

nurulamin.pro, JAKARTA - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengklaim kebijakan penyerapan gabah semua kualitas atau any quality memberikan keuntungan bagi petani di Indonesia hingga Rp 132 triliun.

Amran mengakui ada kerugian bagi Pemerintah yang diperkirakan sekitar Rp 77 miliar dari penyerapan gabah kering panen (GKP) any quality.

"Dengan any quality, kita hitung-hitungan tadi, berarti kita kehilangan katakanlah itu nilainya Rp 77 miliar," katanya di kantor Kementan, Jakarta Selatan, Senin (12/1/2026).

Namun, ia menegaskan nilai tersebut jauh lebih kecil dibanding manfaat yang diterima petani karena seluruh kualitas gabah dibeli dan dihargai dengan kenaikan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah petani menjadi Rp 6.500 per kg.

"Untungnya rakyat petani karena kenaikan any quality dan kenaikan harga [sebesar] Rp 132 triliun," ujar Amran.

Menurut dia, jika gabah semua kualitas tidak diserap dengan harga Rp 6.500 per kg, petani berpotensi bangkrut karena masih harus menanggung biaya lain seperti cicilan kredit.

Jadi, diputuskan penyerapan gabah any quality. Terlebih, jumlah gabah rusak yang menyebabkan kerugian hanya sekitar 1–2 ton dari jutaan ton yang diserap pemerintah.

"Kita kelihatan kehilangan Rp 77 miliar, tetapi negara untung, rakyat untung Rp 132 triliun," ucap Amran. Di 2026, pemerintah menargetkan menyerap 4 juta ton gabah petani dengan harga Rp 6.500 per kg melalui Perum Bulog.

Amran optimistis target itu tercapai, terlebih luas tanam Oktober–Desember 2025 mencapai 400–500 ribu hektar. "Kita target serap gabah beras tahun 2026 itu 4 juta ton. Itu target Bulog. Kita kolaborasi, kerja sama, insyaallah mudah-mudahan ini tercapai," kata Amran.

Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menilai langkah menuju penyerapan 4 juta ton sudah on track. Pencapaian 2025 menjadi acuan untuk hasil yang lebih baik pada tahun ini. Ia berharap target pada tahun ini tidak akan dihadapi oleh kendala.

"Salah satu capaian yang sudah kita raih kemarin sudah diumumkan adalah swasembada pangan di 2025 dan itu kita pertahankan dan targetnya bukan hanya swasembada, tapi bisa ekspor," kata Sudaryono.

Sementara itu, Direktur Utama Perum Bulog Ahamd Rizal Ramdhani mengatakan pihaknya sudah menggelar rapat kerja nasional untuk membagi tugas mulai dari penyerapan gabah hingga penyaluran beras.

"Kita akan seterusnya swasembada pangan. Sesuai dengan tugas Bulog untuk melakukan penyerapan, pengolahan, sampai dengan penyaluran semaksimal mungkin, bahkan akan terwujudnya ekspor maupun satu harga beras di seluruh Indonesia," kata Rizal.

Amran memastikan harga Gabah Kering Panen (GKP) yang diserap pemerintah tetap Rp 6.500 per kg seperti tahun 2025.

Rizal pernah menyampaikan bahwa ke depan pembelian gabah oleh Bulog akan dilakukan secara digital atau non-tunai.

Amran menilai langkah digitalisasi itu baik, tetapi ia menyarankan sistem pembayaran tetap dikombinasikan dengan tunai untuk mengantisipasi kendala di lapangan. "Tidak boleh digitalisasi semua, kombinasi karena mengantisipasi," ujar Amran.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan