
Komentar Joe Rogan Mengenai Jake Paul
Joe Rogan, seorang komentator UFC dan analis olahraga bela diri, tampaknya ingin agar Jake Paul berhenti dari dunia tinju setelah kekalahan yang menyakitkan dari Anthony Joshua. Kejadian ini menunjukkan bahwa Jake Paul, seorang petinju selebriti, mengalami kekalahan dalam pertandingannya melawan Anthony Joshua dengan cara yang sangat sulit.
Jake Paul akhirnya kalah secara KO karena dagu yang patah. Meskipun demikian, ia masih belum merasa puas dan tampaknya siap untuk kembali bertanding setelah pulih sepenuhnya. Ini menunjukkan tekadnya yang kuat untuk terus berpartisipasi dalam dunia tinju meski telah menghadapi kegagalan.
Di sisi lain, Joe Rogan memiliki pandangan yang berbeda. Dalam salah satu episode The Joe Rogan Experience, ia membahas pendapatan besar yang diperoleh Jake Paul selama karier tinjunya. Namun, meskipun mengakui hal tersebut, Rogan menyarankan agar Jake Paul tidak melakukan duel sejenis lagi.
Menurut Rogan, semua keuntungan finansial yang didapatkannya tidak sebanding dengan risiko yang diambil, terutama secara mental. Ia menekankan bahwa dunia ini memang gila, dan harapan utamanya adalah Jake Paul sadar bahwa saat ini ia sedang berada di puncak karier.
"Usia Jake Paul baru sekitar 28 tahun," ujarnya. "Dia masih muda, dan mungkin sudah menghasilkan 300 juta dolar dalam karier tinjunya. Usianya 28 tahun, 29 tahun bulan depan."
Rogan menambahkan bahwa Jake Paul tidak boleh terus seperti ini karena ada harga yang harus dibayar yang tidak sepadan. "Tidak sepadan. Dan harga itu adalah depresi, depresi berat, ketidakseimbangan otak yang parah yang akan menyebabkan kecanduan."
Ia juga menjelaskan bahwa banyak orang yang menjadi impulsif dan kecanduan setelah karier bertarung mereka. "Anda hanya bisa menanggungnya sampai batas tertentu," katanya.
Meskipun komentar Joe Rogan ini hanya berupa saran, keputusan akhir untuk melanjutkan atau berhenti dari dunia tinju tetap berada di tangan Jake Paul. Ia memiliki hak penuh untuk memilih jalannya sendiri, baik dalam hal karier maupun kesehatan mental.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar