
Proses Spin-off dan Potensi IPO Infranexia
JAKARTA – Spekulasi mengenai potensi penawaran umum perdana saham (Initial Public Offering/IPO) anak usaha PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), yaitu PT Telkom Infrastruktur Indonesia (Infranexia), semakin kuat. Hal ini terjadi di tengah proses pemisahan bisnis wholesale fiber connectivity yang sedang berlangsung.
Saat ini, seluruh portofolio bisnis wholesale fiber milik Telkom sedang dialihkan kepada Infranexia, yang 99,99 persen sahamnya dimiliki oleh perusahaan induk. Spin-off ini menjadi strategi dari holding untuk membuka ruang peningkatan nilai aset infrastruktur digital tersebut.
Dalam konfirmasi terkait rencana Infranexia menuju pasar modal, Direktur Strategic Business Development & Portfolio Telkom, Seno Soemadji, menyatakan bahwa fokus utama saat ini adalah menyelesaikan seluruh proses spin-off aset wholesale fiber connectivity hingga paruh pertama tahun depan.
Setelah pemisahan selesai, Telkom akan menentukan langkah strategis berikutnya. Seno mengakui belum ada keputusan apakah Infranexia nantinya akan dibawa ke pasar melalui mekanisme IPO atau justru menggandeng mitra strategis tertentu.
“Nah tapi terlepas dari itu semuanya kita targetkan sudah selesai di first half next year. Dan setelah itu bentuknya seperti apa? Kita belum menentukan, apakah nanti mau IPO, apakah partnership?” ujar Seno saat gelaran Business Update Strategi Telkom 2030 dan Silaturahmi Media di Telkom Landmark Tower 2, Jakarta Selatan, Senin (1/12/2025).
Seluruh kemungkinan masih terbuka karena perusahaan ingin terlebih dahulu memastikan Infranexia berdiri sebagai entitas wholesale fiber connectivity yang kuat. Seno menekankan tujuan utama Telkom adalah membesarkan Infranexia, karena perusahaan itu diproyeksikan memiliki peran strategis di masa depan. Bahkan ia menyebut Telkom mengantisipasi Infranexia dapat menjadi “the next Telkomsel,” menggambarkan tingginya nilai dan potensi bisnis yang sedang dipersiapkan.
“Ini intinya kita ingin membesarkan Infranexia ini dan kita mengantisipasi Infranexia ini akan menjadi the next Telkomsel. That’s how strategic asset,” ucapnya.
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Telkom, Arthur Angelo Syailendra, menjelaskan bahwa Infranexia saat ini masih berperan sebagai managed service operator yang mengelola operasional jaringan fiber milik Telkom, sementara asetnya masih tercatat di induk usaha. Dalam posisi ini, Infranexia mengelola layanan, pemeliharaan jaringan, hingga penyediaan konektivitas untuk unit-unit Telkom Group seolah-olah menjadi pengelola penuh, namun belum menjadi pemilik aset.
“Sekarang tuh Infranexia managed service operator kita. Jadi asetnya parent (induk usaha) yang punya, tapi yang operasikan mereka. Nah jadi dua tahun ini mereka kayak learning and warming up period gitu loh,” kata Angelo.
Perubahan peran Infranexia diperkirakan akan mulai terjadi pada Desember tahun ini dan diharapkan sudah sepenuhnya berjalan sebelum semester pertama tahun depan. Pada fase tersebut, Infranexia tidak lagi hanya berfungsi sebagai operator, tetapi beralih menjadi pemilik aset. Artinya, seluruh aset fiber yang selama ini tercatat di induk akan dipindahkan dan dimiliki langsung oleh Infranexia.
Transformasi ini menjadi tahap paling penting dari keseluruhan spin-off karena menandai peralihan penuh tanggung jawab dan kepemilikan.
“Baru Desember tahun ini dan juga hopefully, sebelum first half (paruh pertama) tahun depan mereka menjadi owner of the asset. Bukan hanya menjadi operator tapi juga jadi owner of the asset. Nah itu poin pertamanya dari segi transaksinya,” paparnya.
Berdasarkan paparan manajemen TLKM, proses pemisahan aset dibagi ke dalam dua tahap utama sepanjang 2025-2026. Pada kuartal I-2025, Telkom menyelesaikan penilaian awal aset dan model bisnis yang akan dipisahkan, termasuk identifikasi aset fiber, pelanggan wholesale, dan struktur operasional yang akan dialihkan. Memasuki kuartal II, Telkom menetapkan keputusan strategis mengenai aset yang masuk ke spin-off tahap pertama dan memulai persiapan legal serta aksi korporasi pendukung. Pada kuartal III, valuasi final atas portofolio fiber diselesaikan dan dibawa ke persetujuan dewan direksi dan komisaris. Tahap pertama spin-off difinalisasi pada kuartal IV-2025, ditandai dengan penandatanganan agreement signing alias kesepakatan perjanjian dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang digelar pada 12 Desember 2025.
Selanjutnya, pada semester I-2026, Telkom memasuki tahap kedua spin-off yang mencakup alokasi anggaran hingga transfer final aset fiber domestik seperti CNOP dan WSA ke Infranexia. Setelah itu, semester II-2026 menjadi fase value unlock, ketika kontribusi dan valuasi Infranexia mulai terealisasi melalui masuknya investor strategis ataupun aksi korporasi lainnya.
Sebelumnya, kinerja Infranexia tidak tampak dalam laporan keuangan karena struktur hybrid membuat transaksi internal tereliminasi. Dengan spin-off penuh, kinerja entitas fiber ini akan tampil lebih transparan dan dapat dinilai langsung oleh pasar.
Sementara itu, aset Fiber to the Home (FTTH) tetap berada di PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (Mitratel), dan aset jaringan kabel laut internasional tetap dikelola PT Telekomunikasi Indonesia International (Telin).
Mengutip laman resmi Infranexia, saat ini perusahaan baru bertindak sebagai penyedia infrastruktur fiber optik di Indonesia dengan jaringan yang telah menjangkau lebih dari 170.000 kilometer. Jangkauan tersebut membuat jaringan Infranexia mampu mencapai berbagai wilayah, termasuk daerah-daerah terpencil yang selama ini sulit dijangkau layanan fiber.
Tidak hanya memiliki jaringan luas, cakupan layanan Infranexia juga terus berkembang. Perusahaan mencatat peningkatan 35 persen cakupan fiber optik yang tersebar di berbagai kota dan wilayah. Ekspansi ini didukung oleh pemanfaatan solusi Bitstream dan VULA yang memungkinkan operator dan pelaku industri memperoleh akses jaringan secara lebih fleksibel dan efisien.
Dari sisi kapasitas, Infranexia menawarkan bandwidth besar mencapai 100 Gbps, memastikan kebutuhan trafik data dan interkoneksi yang semakin meningkat dapat terpenuhi. Kapasitas ini sekaligus menegaskan kesiapan perusahaan dalam mendukung ekosistem digital nasional yang terus tumbuh.
Keunggulan lain yang ditonjolkan Infranexia adalah aspek efisiensi biaya. Melalui skema network sharing, perusahaan mengklaim dapat menurunkan total cost of ownership (TCO) pelanggan hingga 20 persen, sehingga pelaku usaha dapat lebih fokus pada pengembangan bisnis tanpa terbebani investasi infrastruktur yang besar.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar