Siap Hadapi 2026: Kebiasaan Digital yang Harus Diketahui Keluarga

Memasuki Tahun 2026, Kebutuhan Keluarga terhadap Layanan Digital yang Aman dan Mudah Meningkat

Pada tahun 2026, kebutuhan keluarga akan layanan digital yang aman dan mudah semakin meningkat. Berkembangnya teknologi sangat memudahkan kita dalam menjalankan aktivitas, terutama saat melakukan transaksi. Aktivitas yang dulu hanya bisa dilakukan di cabang kini sudah dapat diselesaikan dari genggaman tangan, mulai dari membuka rekening, transaksi sehari-hari, hingga mengatur investasi.

Namun, perkembangan ini juga membawa risiko baru yang perlu dipahami oleh keluarga. Dalam acara Maybank Indonesia Media Update, Shoping The Future of Digital Banking, pada Hari Kamis, 4 Desember 2025, di Jakarta, Bambang Andri Irawan, IT & Digital Director, Maybank Indonesia menyampaikan bahwa:

“Keamanan digital tidak bisa lagi bersifat reaktif. Kita harus mampu mengantisipasi risiko sebelum fraud itu terjadi.”

Dengan semakin kompleksnya dunia digital, Mama perlu membangun kebiasaan yang lebih bijak dan aman saat melakukan aktivitas online. Berikut beberapa langkah untuk siap sambut 2026, kebiasaan digital aman yang perlu dipahami keluarga.

1. Waspadai Modus Penipuan Digital yang Semakin Canggih

Resiko penipuan digital meningkat seiring teknologi berkembang. Saat ini, sistem keamanan digital menggunakan berbagai lapisan seperti pengecekan perangkat sebelum login, deteksi ponsel berisiko, dan fraud monitoring yang bekerja real-time.

Bagi keluarga, kebiasaan sederhana seperti menjaga kerahasiaan OTP hingga tidak tergesa-gesa membaca pesan penting bisa menjadi penyelamat di tengah maraknya penipuan.

2. Biasakan Transaksi Digital yang Aman dan Terverifikasi

Ekspektasi pengguna kini semakin tinggi seperti ingin cepat, mudah, dan aman. Proses digital seperti pembukaan rekening sudah bisa dilakukan secara online melalui STP (Straight Through Processing), tetapi tetap melewati langkah keamanan tambahan.

Menurut Charles Budiman, Head Digital Banking Maybank Indonesia, mengatakan:

“Kecepatan layanan tidak boleh mengorbankan keamanan. Keduanya harus berjalan beriringan.”

Mama perlu rutin memeriksa notifikasi transaksi, memakai autentikasi berlapis, dan bertransaksi hanya melalui kanal resmi. Perlu diingat juga ya, Ma, Pa agar jangan mengklik tautan yang tidak kenal oleh orang lain.

3. Siapkan Literasi Digital Anak Sejak Dini

Ekosistem digital yang semakin lengkap, mulai dari pembayaran hingga investasi membuat literasi digital menjadi penting untuk anak. Mereka perlu memahami konsep dasar keamanan, privasi data, hingga pentingnya kehati-hatian saat bertransaksi.

Langkah kecil seperti mengajarkan anak mengenali tautan mencurigakan atau membedakan informasi pribadi dan non-pribadi dapat menjadi pondasi penting. Selain itu, amam dan Papa dapat memantau juga aktivitas bermain online anak di rumah.

4. Kenali Tantangan Pengguna dan Bangun Kebiasaan Digital yang Sehat

Banyak pengguna masih kesulitan memantau pengeluaran, sehingga fitur cost tracking semakin dibutuhkan. Dengan mengelompokkan transaksi ke kategori seperti makan, transportasi, atau travel, keluarga dapat lebih mudah memahami alur pengeluaran bulanan.

Menurut Bambang Andri Irawan, banyak orang sebenarnya ingin menabung, tetapi tidak sadar ke mana uangnya pergi. Fitur ini membantu Mama membuat pengaturan keuangan yang lebih terarah.

5. Terapkan Pendekatan "Human-Centric" dalam Aktivitas Digital

Transformasi teknologi kini diarahkan agar lebih mudah digunakan keluarga. Layanan digital didesain untuk membantu, bukan membingungkan. Seperti disampaikan Bambang Andri Irawan:

“Teknologi yang baik adalah yang memudahkan hidup pengguna, bukan yang membuat proses semakin rumit.”

Dengan pendekatan ini, keluarga dapat menikmati pengalaman digital yang lebih intuitif dan nyaman.

Di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat, keluarga perlu menyesuaikan diri dengan kebiasaan digital baru: lebih berhati-hati, lebih memahami fitur keamanan, dan lebih cerdas mengatur transaksi. Seperti ditegaskan Charles Budiman:

“Transformasi digital bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan yang harus terus dikembangkan.”

Dengan kesiapan dan edukasi yang tepat, keluarga dapat menyambut 2026 dengan lebih aman, tenang, dan percaya diri dalam setiap aktivitas digital.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan