Siapa Pemilik Toba Pulp Lestari? Ini Perusahaan Viral di Medsos Diduga Penyebab Banjir Besar Sumater

Siapa Pemilik Toba Pulp Lestari? Ini Perusahaan Viral di Medsos Diduga Penyebab Banjir Besar Sumatera

Sejarah PT Toba Pulp Lestari yang Panjang dan Kompleks

PT Toba Pulp Lestari (TPL) kembali menjadi sorotan di berbagai platform media sosial. Diduga terkait dengan banjir besar dan longsor yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, nama perusahaan ini muncul kembali dalam diskusi publik. Meskipun banyak warganet mungkin baru mengenalnya sekarang, TPL memiliki sejarah panjang yang penuh dinamika.

Awal Berdiri dan Perkembangan Awal

Perusahaan ini awalnya didirikan pada 26 April 1983 dengan nama PT Inti Indorayon Utama Tbk. Dibangun oleh pengusaha nasional Sukanto Tanoto, perusahaan ini dirancang sebagai salah satu produsen bubur kertas (pulp) terbesar di Indonesia. Proses pembangunan pabrik yang berkapasitas besar di sekitar aliran Sungai Asahan dimulai, dan kegiatan komersial perdana dimulai pada 1 April 1989.

Pusat pengelolaan perusahaan berlokasi di kawasan Uniplaza, East Tower, Medan, Sumatera Utara, sementara pabrik utama terletak di Desa Pangombusan, Kecamatan Parmaksian, Kabupaten Toba. TPL melantai di bursa pada 16 Mei 1990 dengan kode emiten INRU, yang masih digunakan hingga kini.

Konflik dan Perubahan Operasional

Pada masa awal beroperasi, Inti Indorayon Utama memproduksi pulp dan serat rayon dengan bahan baku kayu eukaliptus. Namun, perjalanan bisnisnya tidak pernah benar-benar lepas dari sorotan publik. Seiring runtuhnya pemerintahan Orde Baru, ketegangan antara perusahaan dan sebagian masyarakat di sekitar kawasan operasi semakin meningkat.

Puncak konflik terjadi pada 1999 ketika bentrokan antara warga, pekerja, dan aparat keamanan menimbulkan korban luka dan jiwa. Situasi tersebut mendorong Presiden BJ Habibie untuk menghentikan sementara kegiatan operasional perusahaan sambil memerintahkan audit lingkungan.

Meski situasi tidak mereda begitu saja, pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, perusahaan bahkan dinyatakan harus ditutup atau dipindahkan. Namun dinamika investasi dan tekanan dari pihak asing memberi ruang kompromi. Perusahaan kembali diizinkan beroperasi kembali pada 2000, tetapi tanpa melanjutkan produksi rayon.

Walau mendapatkan izin terbatas, operasi perusahaan tetap terhenti sepanjang tahun 2000. Pada periode tersebut, restrukturisasi besar-besaran dilakukan, termasuk perubahan identitas perusahaan. Melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada 15 November 2000, nama perusahaan resmi diubah menjadi PT Toba Pulp Lestari Tbk.

Perkembangan Masa Depan

Tiga tahun kemudian, tepatnya 2003, perusahaan kembali mengoperasikan pabriknya, dengan klaim menerapkan teknologi yang lebih ramah lingkungan. Sebagai produsen pulp berbahan eukaliptus, TPL memasarkan produknya ke pasar domestik maupun internasional.

Visi TPL adalah menjadi pabrik pulp yang dikelola secara profesional, disukai pelanggan, dan mampu menjadi tempat kerja yang membanggakan bagi karyawan. Misi yang diemban mencakup prinsip pembangunan berkelanjutan, peningkatan efisiensi operasional, pemberian nilai tambah bagi pemegang saham, serta kontribusi sosial-ekonomi melalui teknologi dan pengembangan sumber daya manusia.

Perubahan Kepemilikan Saham

Dalam hal kepemilikan, Toba Pulp Lestari mengalami beberapa kali pergantian pengendali. Pada tahap awal, perusahaan dimiliki penuh oleh Sukanto Tanoto. Namun komposisi itu berubah seiring perjalanan waktu. Menjelang akhir 2021, pemegang saham mayoritas beralih ke Pinnacle Company Pte. Ltd., yang sebelumnya mengambil alih kendali pada 2007.

Pergantian besar terjadi pada 2025. Berdasarkan informasi dari Indo Premier, struktur kepemilikan kembali berubah setelah Allied Hill Limited—perusahaan investasi asal Hong Kong—mengakuisisi 92,54 persen saham INRU. Allied Hill sendiri dimiliki oleh Everpro Investments Limited yang berada di bawah kendali pengusaha Joseph Oetomo.

Akuisisi ini dilakukan melalui transaksi senilai Rp555,8 miliar atau sekitar Rp433 per lembar saham. Adapun sisa 7,58 persen saham tetap berada di tangan publik.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan