
Apa Itu High-Fructose Corn Syrup (HFCS) dan Dampaknya terhadap Kesehatan
High-fructose corn syrup (HFCS) adalah pemanis cair yang dibuat dari pati jagung. Bahan ini sering digunakan dalam minuman bersoda, makanan olahan, dan produk-produk lain yang membutuhkan rasa manis yang kuat. HFCS memiliki harga yang lebih murah dibandingkan gula pasir, sehingga banyak digunakan oleh produsen makanan.
Proses pembuatan HFCS melibatkan pengolahan pati jagung menjadi sirup jagung, lalu sebagian glukosanya diubah menjadi fruktosa menggunakan enzim. Kombinasi antara fruktosa dan glukosa membuat HFCS terasa manis dan mudah larut dalam berbagai jenis makanan dan minuman. Produsen menggunakan HFCS untuk menjaga rasa, warna, tekstur, dan daya tahan produk agar tetap konsisten.
Di Amerika Serikat, HFCS menyumbang sekitar 40 persen dari pemanis tambahan berkalori dalam makanan dan minuman. Terdapat dua jenis utama HFCS, yaitu:
- HFCS 42 – Mengandung sekitar 42% fruktosa dan umumnya digunakan dalam makanan olahan, sereal, serta produk roti.
- HFCS 55 – Mengandung sekitar 55% fruktosa dan paling sering digunakan dalam minuman ringan atau soda.
Dari sisi gizi, HFCS tidak memberikan manfaat nutrisi penting bagi tubuh. Bahan ini tidak mengandung serat, vitamin, mineral, atau protein yang dibutuhkan tubuh sehari-hari. Fruktosa dalam HFCS tergolong gula tambahan yang berbeda dengan fruktosa alami dalam buah. Buah tetap memberikan manfaat karena mengandung serat dan zat gizi lain yang membantu penyerapan gula secara lebih seimbang.
Satu sendok makan HFCS mengandung sekitar 53 kalori yang seluruhnya berasal dari gula. Konsumsi gula tambahan berlebihan berisiko meningkatkan asupan kalori tanpa memberikan rasa kenyang. Dalam dunia kesehatan, HFCS tidak dikenal sebagai bahan yang mendukung penurunan berat badan. Minuman manis yang mengandung HFCS cenderung membuat seseorang makan lebih banyak karena kalori cair kurang memberikan efek kenyang.
Asupan HFCS yang tinggi juga dikaitkan dengan peningkatan risiko obesitas. Fruktosa dalam HFCS dapat langsung diproses di hati dan berpotensi meningkatkan kadar lemak darah. Kondisi ini dalam jangka panjang dapat berkontribusi pada penyakit hati berlemak. Beberapa penelitian juga mengaitkan konsumsi gula tambahan dengan risiko diabetes dan penyakit jantung.
HFCS dapat memicu peradangan dan gangguan metabolisme jika dikonsumsi secara berlebihan. Bagi penderita asam urat, makanan tinggi HFCS dapat meningkatkan risiko kambuhnya gejala. Sebagian orang dengan intoleransi fruktosa juga bisa mengalami kembung, diare, dan nyeri perut setelah mengonsumsinya. Alergi terhadap HFCS tergolong jarang, tetapi orang dengan alergi jagung tetap perlu berhati-hati.
HFCS tidak dijual sebagai bahan dapur rumahan karena biasanya sudah ditambahkan langsung oleh produsen. Cara terbaik menghindari HFCS adalah dengan membaca label komposisi pada kemasan makanan. Istilah corn syrup atau high-fructose corn syrup biasanya tercantum jelas pada daftar bahan. Banyak produk seperti saus, es krim, yogurt rasa, sereal, dan makanan siap saji mengandung HFCS.
Organisasi kesehatan menyarankan agar konsumsi gula tambahan dibatasi sekitar enam persen dari kebutuhan kalori harian. Satu kaleng soda berukuran 330 ml bahkan bisa melebihi batas asupan gula harian yang dianjurkan. Pola makan berbasis makanan utuh seperti buah, sayur, biji-bijian, dan protein alami membantu mengurangi asupan HFCS. Memilih makanan minim proses membantu tubuh mendapatkan nutrisi yang lebih seimbang.
High-fructose corn syrup tetap aman dikonsumsi dalam jumlah kecil, tetapi konsumsi rutin dalam jumlah besar berisiko bagi kesehatan. Kesadaran membaca label dan membatasi makanan olahan menjadi langkah sederhana untuk menjaga kesehatan jangka panjang.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar