Sis Jane ubah hutan jadi lahan pertanian, pusat riset, dan berdayakan petani serta datangkan dolar

Sis Jane ubah hutan jadi lahan pertanian, pusat riset, dan berdayakan petani serta datangkan dolar

Kebun Jane: Transformasi Pertanian Modern di NTT

Kebun Jane, yang dikelola oleh Sis Jane, telah menjadi contoh inovasi pertanian modern di NTT. Wanita 43 tahun ini pernah maju dalam kontestasi legislatif DPR RI melalui Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan kemudian sebagai calon wakil gubernur NTT berpasangan dengan Ansi Lema. Meski gagal dalam politik, Sis Jane tetap berkomitmen untuk mendorong pemberdayaan masyarakat melalui sektor pertanian dan peternakan.

Di Desa Fatubaa, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, NTT, Sis Jane mengubah lahan seluas 12 hektar yang sebelumnya tidak terpakai menjadi kebun pertanian modern. Di sini, berbagai komoditas unggulan seperti tomat, cabai besar, cabai kecil, cabai keriting, wortel, aneka sayuran daun, pisang, semangka, melon, durian, dan jeruk ditanam secara teratur.

Pada Rabu, 10 Desember 2025, jam 4 sore, Sis Jane memandu tamu undangan dari berbagai daerah seperti Kupang, TTS, TTU, Malaka, dan Belu serta para jurnalis untuk melihat langsung kondisi kebun. Meskipun penjelajahan kebun cukup melelahkan karena luasnya lahan dan jarak yang jauh, pengunjung tetap terhibur oleh hijaunya tanaman dan pemandangan yang menarik.

Hasil Panenan Kebun Jane Datangkan Dolar Dari Timor Leste

Panen kali ini adalah yang keempat kalinya sejak kebun dibuka. Sebelumnya, panen perdana dilakukan pada semangka. Kebun mulai dibuka sejak bulan Maret dan mulai panen sekitar bulan September. Saat ini, panen raya mencakup cabai, tomat, semangka, dan lainnya seperti sayuran labu.

"Kami ingin menjadikan kebun ini sebagai kebun inovasi dengan integrasi antara perkebunan, pertanian, peternakan, dan perikanan darat," ujar Sis Jane. Ia juga menjelaskan bahwa hasil panen tomat 100 persen dibeli dari Timor Leste dengan harga Rp320.000 per keranjang. Cabai tipe dewata 76 sebagian besar dibeli dari Timor Leste dengan harga pasar Rp30.000 per kilo.

Pembeli dari Timor Leste datang langsung ke kebun untuk membeli hasil panen. Hingga saat ini, jumlah cabai yang terjual mencapai 3,7 ton, tomat sekitar 5 ton, dan semangka 2 ton. Untuk menjaga kestabilan produksi, sistem bertanam menggunakan jeda waktu. Contohnya, tanaman tomat di kebun terdiri dari 10 blok dengan jeda waktu 3 minggu sehingga ada yang siap panen, ada yang sedang berbunga, dan ada yang baru tumbuh.

Transformasi Kebun Jane, Pemberdayaan Petani Lokal dan Rasakan Suka Duka Petani

Kebun Jane menggunakan pendekatan modern dengan keterlibatan dosen dan tenaga ahli dari Politani Kupang. Mereka menilai kebun ini berhasil mematahkan stigma "NTT miskin dan kering" dengan pengelolaan lahan kering yang produktif melalui teknologi dan manajemen yang tepat.

Di kebun ini juga ada rejeki bagi petani lokal. Sis Jane saat ini telah mempekerjakan 50 petani lokal dan para ibu-ibu. "Kami punya hampir 50 karyawan. Ibu-ibu yang memetik tomat dan cabai diberi makan dan minum, dan mereka pulang dengan gaji bersih," kata Sis Jane dengan nada bercanda. Menjelang Natal, ia menegaskan pentingnya adanya uang bagi keluarga petani.

Menurut Jane, petani perlu lapangan kerja dan pendapatan agar dapat mengurangi tekanan finansial akibat risiko gagal panen. Ia juga merasakan bagaimana suka duka para petani jika gagal tanam atau panen, serta kebahagiaan ketika hasil panen terjual sesuai target.

Kebun Jane Ubah Arus Balik Ekonomi Dari Timor Leste ke Belu

Salah satu masalah petani adalah jatuhnya harga tomat, cabai, dan holtikultura lainnya di pasaran. Harga yang rendah sering disebabkan oleh produksi berlebihan. Namun di pasar Atambua, penyebab lain adalah masuknya cabai dan tomat dari luar NTT seperti Pulau Jawa dan Sulawesi.

Akibatnya, harga jual petani tomat dan lombok dari Belu turun drastis. Hal ini merugikan petani dan masyarakat Belu karena uang mereka dibelanjakan keluar daerah. Gregorius Batafor, dosen bidang Agribisnis Politani Kupang, menjelaskan bahwa kebun ini membuktikan bahwa ekspor legal antarwilayah bisa dilakukan dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

Keterlibatan ibu-ibu dalam proses panen juga menumbuhkan kesadaran bahwa masyarakat di pelosok bisa produktif dan mandiri. Menurut Jean, kedepannya kebun Jane bukan hanya sebagai lokasi pertanian dan pusat riset, tetapi akan menjadi tempat wisata baru. Saat ini, berbagai jenis bunga telah ditanam untuk mempercantik kebun Jane.




Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan