Sistem Irigasi Tetes: Solusi Praktis Fakultas Teknik Unigal Ciamis Atasi Krisis Air dan Musim Tanam

Sistem Irigasi Tetes: Solusi Praktis Fakultas Teknik Unigal Ciamis Atasi Krisis Air dan Musim Tanam

Program Pengabdian Masyarakat di Desa Sukahurip

Dalam upaya mendukung ketahanan pangan dan keberlanjutan lingkungan, tim dosen dari Fakultas Teknik Universitas Galuh telah menyelesaikan program pengabdian masyarakat berjudul "Implementasi Teknologi Irigasi Tetes Untuk Efisiensi Penggunaan Air Dan Meningkatkan Produktivitas Tanaman" di Kecamatan Cisaga, Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat.

Program ini berhasil memberdayakan masyarakat setempat melalui penerapan teknologi irigasi tetes yang inovatif. Diperkuat oleh para anggota tim seperti Ir. Gini Hartati, S.T., M.T., Ir. Yanti Defiana, S.T., M.T., dan Ir. Heris Syamsuri, S.T., M.T., program ini difokuskan pada Desa Sukahurip, khususnya Dusun Bantarsari, dengan mitra utama Kelompok Mitra Cai Kahuripan.

Menurut Ir. Gini Hartati, tujuan utamanya adalah meningkatkan efisiensi penggunaan air di sektor pertanian, yang sering kali menghadapi tantangan musiman seperti kekeringan, sekaligus meningkatkan produktivitas tanaman untuk mendukung perekonomian masyarakat. "Teknologi irigasi tetes merupakan solusi tepat guna untuk mengatasi masalah pengelolaan air di daerah pertanian," ucapnya.

Sebelumnya, masyarakat di Desa Sukahurip sering mengandalkan metode penyiraman konvensional yang boros air dan tenaga. "Melalui program ini, kami tidak hanya memperkenalkan teknologi, tetapi juga memberikan pelatihan langsung agar masyarakat bisa mandiri dalam penerapan dan perawatannya," jelasnya.

Hasilnya, efisiensi air meningkat signifikan, dan produktivitas tanaman pun naik, yang pada akhirnya berdampak pada kesejahteraan petani.

Tahapan Pelaksanaan Program

Program ini dilaksanakan dalam lima tahap yang terstruktur, dimulai dari survei hingga evaluasi, untuk memastikan keberlanjutan jangka panjang:

  1. Tahap I: Survei dan Perencanaan
    Tim melakukan survei lokasi di Desa Sukahurip untuk menganalisis potensi, mengidentifikasi masalah seperti keterbatasan air musiman, dan merencanakan solusi bersama mitra. Ini menjadi fondasi untuk adaptasi teknologi yang sesuai dengan kondisi lokal.

  2. Tahap II: Sosialisasi dan Penyampaian Informasi
    Setelah survei, tim menyosialisasikan teknologi irigasi tetes kepada anggota Kelompok Mitra Cai Kahuripan. Materi mencakup perencanaan dan penetapan sistem irigasi bersama perwakilan masyarakat dan pemerintah setempat, memastikan partisipasi aktif dari semua pihak.

  3. Tahap III: Pelatihan Keterampilan
    Tahap ini fokus pada pelatihan praktis, meliputi: pemasangan pompa air, instalasi pipa PVC dan selang PE untuk saluran irigasi, pemasangan emitor, serta pengukuran debit air secara konvensional. Pelatihan diikuti oleh 10 orang dari Kelompok Mitra Cai Kahuripan, termasuk demonstrasi di demplot pertanian. Pemateri utama adalah Ir. Gini Hartati (Manajemen Konstruksi), mahasiswa Teknik Sipil (Teknik Keairan), dan Raya Panji Nugraha (Teknik Mesin, fokus pada pemipaan).

  4. Tahap IV: Implementasi dan Penataan Lahan
    Kegiatan mencakup pemasangan langsung sistem irigasi tetes dan penataan lingkungan lahan pertanian. Peserta pelatihan sebanyak 10 orang dari Kelompok Mitra Cai Kahuripan dan tokoh masyarakat. Pemateri adalah Ir. Heris Syamsuri (Teknik Mesin) dan Asep Isa Saepul Akbar (Sistem Informasi, teknisi pompa dan jaringan listrik).

  5. Tahap V: Evaluasi dan Monitoring
    Tim melakukan evaluasi program, monitoring penerapan, dan pendampingan masyarakat dalam perawatan sistem. Partisipasi mitra sangat tinggi, termasuk sharing biaya alat dan bahan. Program ini bersifat stimulan (subsidi), dengan harapan mitra mengembangkannya secara mandiri di masa depan.

Dampak dan Hasil yang Dicapai

Setelah pelaksanaan, masyarakat Desa Sukahurip kini memiliki pemahaman yang lebih baik tentang irigasi tetes sebagai teknologi efisien. Dampaknya terasa signifikan, termasuk peningkatan kepedulian sosial melalui saling berbagi pengetahuan antarwarga. Secara ekonomi, ketersediaan air sepanjang tahun telah meningkatkan produksi pertanian, mengurangi ketergantungan pada musim, dan pada akhirnya menaikkan pendapatan petani.

Peningkatan terlihat pada dua aspek utama:

  1. Aspek Produksi
    Implementasi irigasi tetes mengubah cara petani mengelola air, dari metode manual yang melelahkan menjadi sistem sederhana dengan memutar kran saja. Ini tidak hanya menghemat air dan menjaga kesehatan petani, tetapi juga meningkatkan kuantitas hasil panen per pohon. Dengan produktivitas yang naik, pendapatan dan kesejahteraan masyarakat turut meningkat.

  2. Aspek Manajemen
    Petani kini bisa mengatur waktu penyiraman lebih efisien, menghemat air, waktu, dan tenaga. Tanaman tumbuh lebih sehat dan produktif, sementara perawatan hanya melibatkan pemeliharaan drip irigasi. Selain itu, tim telah membantu pembuatan sistem pemasaran sederhana melalui digital marketing seperti online shop di Shopee, yang diharapkan membuka peluang sertifikasi produk dan ekspansi pasar lokal hingga regional.

Ia menambahkan, bahwa program ini bukan hanya transfer teknologi, tapi juga pemberdayaan masyarakat. Ia melihat antusiasme tinggi dari mitra, yang ikut berkontribusi dalam penyediaan bahan, menunjukkan potensi keberlanjutan program ini.

"Tentunya, program ini sejalan dengan visi Universitas Galuh untuk berkontribusi pada masyarakat melalui penelitian dan pengabdian. Di masa depan, kita berharap model ini bisa direplikasi di daerah lain di Jawa Barat untuk mendukung pertanian berkelanjutan," tukasnya.




Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan