
nurulamin.pro, KUPANG- Riuh tawa dan sorak kecil anak-anak memecah keheningan halaman SD Inpres Bello, Kota Kupang, Provinsi NTT.
Di bawah terik matahari, para siswa tampak larut dalam permainan galasing, permainan rakyat tradisional yang kian jarang dijumpai di tengah dominasi gawai dan hiburan digital.
Permainan yang dilakukan secara berkelompok itu menghadirkan suasana kebersamaan yang hangat. Anak-anak berlarian tanpa alas kaki, saling menyemangati, bekerja sama, sekaligus belajar mematuhi aturan.
Di sana, nilai kejujuran, sportivitas, dan solidaritas tumbuh secara alami, nilai-nilai yang perlahan tergerus dalam keseharian modern.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SD Inpres Bello, Paskalis Rangga kepada Wartawan pada Sabtu (3/1/2026) mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari program pembelajaran pendidikan jasmani yang dirancang oleh guru olahraga.
Program ini secara khusus diarahkan untuk menghidupkan kembali permainan rakyat tradisional sekaligus memperkenalkannya kepada generasi muda.
“Anak-anak sekarang sangat dekat dengan teknologi. Tanpa disadari, mereka perlahan menjauh dari permainan dan budaya yang lahir dari lingkungan mereka sendiri,” ujar Paskalis.
Menurut dia, melalui permainan rakyat seperti permainan galasing, sekolah tidak hanya mendorong aktivitas fisik, tetapi juga menanamkan pendidikan karakter.
Ia menambahkan, galasing sebagai permainan kelompok mengajarkan anak-anak untuk berkumpul, saling membantu, menghargai peran teman, serta merasakan sukacita dalam kebersamaan.
“Nilai kebersamaan, kerja sama, dan rasa persaudaraan tumbuh dengan sendirinya,” katanya.
Komitmen serupa disampaikan pengurus Komite Permainan Olahraga Tradisional Indonesia atau KPOTI Kota Kupang, Martinus Klau.
Ia menegaskan pentingnya upaya berkelanjutan untuk menggalakkan permainan rakyat dan olahraga tradisional di kalangan anak-anak usia sekolah, khususnya tingkat SD dan SMP.
Menurut Martinus, pelestarian permainan tradisional merupakan tanggung jawab bersama untuk merawat warisan budaya bangsa.
“Permainan rakyat bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari identitas budaya. Jika tidak diperkenalkan sejak dini, anak-anak akan tumbuh tanpa mengenal jati dirinya,” ujarnya.
Di halaman sekolah itu, galasing bukan sekadar permainan. Ia menjelma ruang belajar yang menjembatani masa lalu dan masa depan, mengajarkan bahwa kebersamaan, budaya, dan nilai-nilai kemanusiaan tetap relevan di tengah dunia yang terus berubah.(*/yon)
Ikuti Berita nurulamin.prolainnya di GOOGLE NEWS
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar