Spesifikasi Becak Listrik Bantuan Presiden: Lansia Beradaptasi dengan Teknologi

Spesifikasi Becak Listrik Bantuan Presiden: Lansia Beradaptasi dengan Teknologi

Pengayuh Becak di Usia Senja Menghadapi Perubahan

Di tengah kota Purwokerto, Soedirman, seorang pengayuh becak berusia 78 tahun, terlihat berdiri sambil memperhatikan sebuah becak listrik berwarna coklat mengilap. Ia tidak menyangka bahwa di usianya yang sudah tua, ia masih harus beradaptasi dengan teknologi baru. Tangan tuanya meraba setang, seolah menyentuh kembali masa lalu yang telah ia habiskan dalam perjalanan dari satu sudut kota ke sudut lainnya.

Soedirman mulai mengayuh becak sejak tahun 1972. Pada masa itu, ia biasanya mangkal di Andang Pangrenan dan mampu mendapatkan pendapatan sekitar Rp15 ribu per hari. Kalimat pendek itu merangkum kisah panjang seorang pekerja informal yang terus bertahan meski zaman berubah. Pada hari itu, Soedirman tidak sendiri. Total ada 280 tukang becak yang menerima bantuan becak listrik dari pemerintah, diserahkan langsung di Pendopo Si Panji.

Becak listrik ini dirancang khusus untuk kenyamanan pengemudi maupun penumpang. Setiap unit dilengkapi pedal assist, lampu depan, lampu sein, lampu rem, spion, klakson, rem cakram, kanopi, dan layar LCD penunjuk kecepatan serta kapasitas baterai. Berat kendaraan ini adalah 110 kilogram dengan beban maksimal penumpang sebesar 140 kilogram. Kecepatan maksimum mencapai 15 km/jam, namun dinilai aman digunakan di kecepatan 8–10 km/jam. Kendaraan ini juga diklaim ramah lingkungan.

Satu syarat utama ditegaskan dalam penyerahan bantuan: becak listrik tidak boleh dijual. Warsim, tukang becak asal Kedungmalang, Kecamatan Sumbang, mengenang awal ia mengayuh becak pada tahun 1980. Ia biasanya mangkal di Rumah Sakit DKT. "Kadang narik, kadang nggak. Sekarang sepi," ungkap pria beranak tujuh dan bercucu 16 orang itu. Dalam sehari, ia hanya mampu membawa pulang sekitar Rp30 ribu. Meski begitu, Warsim tampak sangat bersyukur menerima bantuan ini. "Alhamdulillah, terima kasih kepada Presiden. Lebih enak dan ringan tapi butuh penyesuaian. Nantinya ya tetap mangkal di RS DKT," tuturnya sambil mencoba memposisikan diri duduk di kursi becak listrik yang baru.

Cerita lain datang dari Slamet (70), tukang becak yang telah mengais rezeki dari kayuhan sejak 1984. Dulu, ia bisa membawa pulang Rp50 ribu per hari. Kini, paling hanya Rp15 ribu. Ia biasa mangkal di sekitar Toko Laris dekat Alun-Alun Purwokerto, tetapi ia pernah pula mencari penumpang di Puskesmas Pereng bahkan sampai mengayuh hingga Sokaraja, sekitar 10 kilometer jaraknya. "Sudah diajari cara mengoperasikan becak listrik," ucapnya pendek.

Kabid Angkutan dan Keselamatan Dishub Banyumas, Mufti Hakim, menjelaskan 280 becak listrik itu dibagi ke tiga titik pembagian: Pendopo Purwokerto, Sokaraja, dan Banyumas. Mufti memastikan becak listrik dinilai aman dan layak digunakan karena sudah dilengkapi lampu utama, sein, rem cakram, dan fitur keselamatan lainnya. "Kecepatan aman 8–10 km per jam. Untuk perawatan bisa dilakukan secara mandiri. Kalau terjadi trouble bisa ke tukang elektronik biasa," jelasnya. Baterai dapat diisi menggunakan listrik rumahan 220 volt. Mufti menegaskan para penerima akan didata dan disinkronkan dengan kepemilikan agar distribusi dan penggunaan tetap tepat sasaran.

Sementara itu Anggota DPRD Banyumas Fraksi Gerindra, Rachmat Imanda, selaku PIC Becak Listrik Banyumas menegaskan, seluruh penerima wajib menjaga dan memanfaatkan becak listrik dengan baik. "Tidak boleh dijual. Harus digunakan sebaik mungkin," ujarnya tegas. Ia juga menuturkan masih banyak permintaan dari tukang becak. "Pendataan sementara jumlah pengayuh becak 350 orang, belum termasuk yang di desa-desa. Tahun depan akan ada tambahan," katanya. Ia menambahkan, mekanisme evaluasi akan dilakukan melalui sampling untuk memastikan efektivitas pemanfaatan bantuan. Prioritas penerima saat ini adalah tukang becak berusia 60 tahun ke atas.



Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan