Sri Mulyani Mengajar di Inggris; Perbanas Beri Keringanan bagi Debitur Bencana


Sri Mulyani Indrawati, mantan Menteri Keuangan Indonesia, kini menjadi sorotan setelah diumumkan akan mengemban posisi World Leaders Fellowship di Blavatnik School of Government, Universitas Oxford, mulai tahun 2026. Pemberitaan ini menarik perhatian publik karena menggambarkan langkah penting dalam kariernya sebagai tokoh kebijakan global.

Program World Leaders Fellowship dirancang khusus untuk para pemimpin yang sedang beralih dari peran kepemimpinan negara menuju tahap baru dalam pengembangan karier mereka. Dalam program ini, Sri Mulyani akan menjalani tugas selama satu tahun dan berharap dapat memberikan kontribusi yang berarti melalui bimbingan (mentoring) kepada mahasiswa dan alumni. Ia juga ingin berbagi pengalamannya dalam menghadapi tantangan-tantangan politik dan ekonomi global.

"Merupakan suatu kehormatan bagi saya untuk bergabung dengan Blavatnik School of Government sebagai World Leaders Fellow di Universitas Oxford sebuah institusi yang menyatukan beragam perspektif untuk merefleksikan kebijakan publik dan tantangan tata kelola yang dihadapi di seluruh dunia," ujar Sri Mulyani dalam pernyataannya.

Pendiri Blavatnik School, Ngaire Woods, menyampaikan bahwa mahasiswa yang berasal dari lebih dari 60 negara akan merasa senang memiliki kesempatan untuk belajar dari pengalaman Sri Mulyani dalam membuat kebijakan ekonomi global. Ini menunjukkan betapa pentingnya peran seorang tokoh seperti Sri Mulyani dalam pendidikan dan pelatihan pemimpin masa depan.

Perbanas Buka Opsi Hapus Tagih bagi Debitur Terdampak Bencana


Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) memberikan opsi hapus tagih atau hapus buku bagi debitur yang terdampak bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Langkah ini dilakukan untuk membantu nasabah yang mengalami kesulitan akibat bencana alam yang terjadi di wilayah tersebut.

Ketua Umum Perbanas, Hery Gunardi, menjelaskan bahwa bank-bank anggota, terutama Himbara di wilayah Sumatera, masih dalam proses pengumpulan data debitur yang benar-benar terdampak langsung bencana. "Semua tidak hanya KUR, tapi juga kita lihat kan ada kredit yang lain, kredit konsumtif juga ada, KPR," jelas Hery dalam konferensi pers CEO Forum Economic Outlook 2026 di Gedung BRI, Jakarta, Rabu (10/12).

Hery menekankan bahwa pengumpulan data dilakukan secara detail untuk memastikan kondisi baik usaha maupun aset nasabah di lapangan. "Jadi artinya usahanya benar-benar tidak bisa jalan lagi, kena banjir, tokonya hilang, atau usahanya hanyut dibawa air, tentunya perbankan punya cara untuk tidak memberatkan debiturnya," tambahnya.

Langkah ini menunjukkan komitmen Perbanas dalam mendukung masyarakat yang terkena dampak bencana. Dengan adanya opsi hapus tagih atau hapus buku, nasabah akan mendapatkan relaksasi dalam pembayaran pinjaman, sehingga dapat fokus pada pemulihan usaha dan kehidupan sehari-hari.

Tantangan dan Peluang di Masa Depan

Dari sisi ekonomi, kebijakan yang diambil oleh pemerintah dan lembaga keuangan seperti Perbanas menunjukkan upaya untuk menciptakan stabilitas dan perlindungan bagi masyarakat. Hal ini sangat penting dalam menghadapi situasi yang tidak terduga seperti bencana alam.

Selain itu, posisi Sri Mulyani di Universitas Oxford juga memberikan peluang besar untuk memperluas wawasan dan kolaborasi antar negara. Dengan latar belakangnya sebagai mantan Menteri Keuangan, ia diharapkan dapat memberikan pandangan yang berharga dalam diskusi-diskusi kebijakan publik global.

Dengan kombinasi dari kebijakan yang proaktif dan partisipasi tokoh-tokoh penting dalam dunia internasional, Indonesia terus menunjukkan kemampuan dalam menghadapi berbagai tantangan ekonomi dan sosial.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan