
Pemilihan Pemimpin Partai Golkar Sulut: Tiga Jalur yang Menggambarkan Masa Depan
Ada satu hal yang sering luput dari kesadaran kita ketika sebuah organisasi politik memilih pemimpin. Sejatinya, keputusan itu bukan sekadar pergantian nama di papan struktur. Namun ia adalah pilihan arah yang menentukan bagaimana mesin berjalan, kepada siapa energi disalurkan, dan kemana perjalanan politik dibawa. Golkar Sulawesi Utara kini tiba di titik itu, titik dimana persimpangan besar masa depan sedang ditentukan.
Di balik hiruk-pikuk manuver, obrolan warung kopi, bisik-bisik antar DPC, hingga diskusi para senior yang tak kunjung padam, sesungguhnya ada satu tanya yang menggantung di udara: Golkar Sulut mau dibawa ke mana?
Musda yang tinggal menghitung hari menjadi panggung di mana tiga jalan terbentang, yakni jalan stabil, jalan menanjak, dan jalan sunyi. Ketiganya menjelma dalam tiga figur cemerlang seperti CEP, THL, dan para kandidat penengah, termasuk di dalamnya Michaela Elsiana Paruntu, figur yang mulai disebut sebagai sosok pemersatu, bermodal sosial, jaringan keluarga politik, serta rekam pengalaman struktur yang membuatnya relevan sebagai “jembatan besar”.
CEP, Jalan Stabil yang Sudah Dikenal
Membicarakan CEP bagi banyak kader bagaikan berbicara tentang rumah lama yang tenang, teratur, dan penuh kepastian. Loyalitas kepada CEP tidak semata berbasis kedekatan politik, tetapi karena orang sudah “mengerti ritme-nya”. Mereka tahu pola komunikasinya, gaya kerjanya, dan cara ia menjaga hubungan dengan pusat.
Bila CEP kembali memimpin, maka: stabilitas internal terjamin, komunikasi dengan DPP mulus, hubungan dengan elite nasional tetap terjaga dan tentunya Partai Golkar tetap punya tumpuan kuat di DPR RI serta semua berjalan aman, pelan nan pasti.
Akan tetapi di sela-sela ketenangan itu ada suara yang mulai mengeras, di mana kader muda yang merasa berlari di tempat, DPC yang mengeluhkan datarnya inovasi, dan struktur yang seakan berjalan di pola lama yang tidak banyak berubah.
Golkar tetap besar, iya. Tapi kapal yang terlalu tenang sulit melesat. Dengan CEP, partai seperti memilih malam yang tak berangin walau nyaman, tetapi tanpa kejutan energi baru.
THL, Jalan Menanjak, Menggairahkan & Berisik
THL datang membawa aroma lain. Segar, muda, dan penuh energi. Jika ia memimpin, banyak yang percaya regenerasi di Golkar tidak berjalan, tapi meloncat. Suara anak muda lebih berani, DPC lebih hidup, struktur seperti mendapat injeksi voltase baru.
Namun perubahan cepat tidak pernah berjalan pelan. Ia berisik, punya gesekan, dan bisa menimbulkan retakan bila tidak dikelola. Sebagian senior mungkin merasa ruangnya mengecil. Sebagian kader lama mungkin terombang-ambing, dan Golkar berpotensi terbelah menjadi dua barisan besar.
THL harus berjalan seperti membawa gelas penuh air di jalan menanjak. Sedikit saja terguncang, air tumpah. Tetapi bila ia berhasil menjaga keseimbangan itu, maka Partai Golkar akan peroleh elektabilitas melesat dan meledak, kursi DPRD bisa bertambah dan Pilkada 2029 bisa menjadi panggung di mana Golkar kembali dominan.
Dengan THL, Golkar memilih fajar yang terang Penuh harapan, penuh cahaya, tetapi tak selalu tenang.
Kandidat Penengah, Jalan Sunyi yang Justru Menyelamatkan
(Termasuk munculnya nama Michaela Elsiana Paruntu sebagai figur tengah yang mulai diperhitungkan)
Di antara dua kutub yang saling menguatkan diri, antara CEP dan THL terdapat jalan ketiga yang tidak terlalu bising. Tidak diisi sorak-sorai, tetapi pelan-pelan justru mulai dilirik sebagai pilihan paling strategis, ia disebut jalan tengah.
Nama-nama seperti Christian Pua, Jerry Sambuaga, Cindy Wurangian, Miky Wenur, termasuk kini mulai disebut Michaela Elsiana Paruntu (MEP), muncul sebagai sosok yang bisa meredakan dua arus besar yang memanas. Inilah skenario sunyi. Jarang dibicarakan di permukaan, tapi diam-diam dianggap paling potensial menyatukan kembali tubuh partai.
Figur penengah, termasuk MEP, punya tiga kelebihan utama:
- Tidak membawa beban konflik masa lalu.
- Tidak terjebak dalam kutub senior atau milenial.
- Mampu menjadi ruang temu bagi semua faksi.
Khusus nama Michaela Elsiana Paruntu, ia memiliki modal unik, rekam jejak organisasi, jaringan politik keluarga Paruntu yang kuat, dan penerimaan publik yang relatif tinggi, cukup untuk memberi rasa “aman” bagi kubu senior, namun tetap menarik bagi generasi muda.
Jika Golkar memilih jalan ini, maka ibarat mesin besar yang akhirnya masuk bengkel untuk direstorasi. Struktur bisa ditata ulang, friksi lama dibersihkan, regenerasi dilakukan tanpa geger dan energi baru disuntikkan tanpa memecah tubuh partai.
Dengan figur penengah, Golkar bisa kembali menjadi “rumah besar” yang nyaman dihampiri banyak tokoh, sehingga Pilkada 2029 menjadi lebih kompetitif karena partai tampil rapi, kompak, dan siap tempur.
Partai Golkar Memilih Jalan, Bukan Sekadar Ketua
Musda Golkar Sulut bukan sekadar memilih nama namun Musda memilih masa depan. Bila ingin stabilitas, maka CEP adalah pilihan aman. Bila ingin lompatan energi, maka THL adalah fajar perubahan. Bila ingin perjalanan panjang menuju kemenangan, maka figur penengah, termasuk Michaela Elsiana Paruntu adalah jalan sunyi yang paling strategis.
Tiga jalan ini sama-sama membawa harapan. Tiga-tiganya punya risiko. Dan pada akhirnya, Golkar Sulut lah yang harus menentukan, apakah ingin tetap stabil, berani mengguncang, atau memilih jalan sunyi yang justru paling menjanjikan kemenangan besar ?
Selamat bermusyawarah Partai Golkar. Semoga keputusan yang lahir bukan hanya memilih nahkoda, tetapi menetapkan arah yang benar bagi masa depan partai dan rakyat Sulawesi Utara.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar