
Tren Rasio BOPO di Sektor Perbankan
Perbankan di Indonesia terus berupaya menjaga efisiensi operasional guna mempertahankan profitabilitasnya. Beberapa bank mencatatkan rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) yang tinggi, yang menunjukkan peningkatan dibanding tahun sebelumnya.
Bank Tabungan Negara (BTN) menjadi salah satu contohnya. Hingga kuartal III-2025, rasio BOPO BTN mencapai 90,23%, meningkat dari 89,43% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan tekanan pada biaya operasional yang semakin besar.
Di sisi lain, CIMB Niaga juga mencatatkan peningkatan rasio BOPO. Hingga September 2025, rasio tersebut berada di level 73,23%, naik dari 72,85% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan, menjelaskan bahwa biaya operasional selain Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) berada dalam posisi stabil. Rasio biaya terhadap pendapatan atau cost to income ratio (CIR) bank ini berada di kisaran 45%. Menurut Lani, angka ini merupakan yang terbaik dibanding pesaing di industri.
Lani menambahkan bahwa pada kuartal III-2025, BOPO bank terkena dampak dari CKPN yang disiapkan untuk mengantisipasi penurunan kualitas kredit. Ia mengakui adanya peningkatan rasio kredit bermasalah alias non performing loan (NPL) di beberapa produk seperti kredit perumahan dan otomotif. Meski demikian, ia yakin bank akan tetap menjaga efisiensi operasional ke depannya. “Kami yakin terus membaik jelang kuartal IV,” katanya.
Perkembangan Bank Mandiri
Selain CIMB Niaga, Bank Mandiri juga mencatatkan peningkatan rasio BOPO. Pada September 2025, rasio BOPO Bank Mandiri mencapai 63,48%, meningkat dari 54,68% pada September 2024. Di sisi lain, CIR juga meningkat meskipun masih berada dalam level aman, dari 32,12% menjadi 43,05%.
Direktur Finance and Strategy Bank Mandiri, Novita Widya, menyampaikan bahwa terjadi penurunan biaya operasional sebesar 20,2% secara bulanan pada November 2025. Hal ini berdampak pada terjaganya CIR di level 42,97%. “Itu sejalan dengan perbaikan produktivitas dalam menghasilkan laba melalui peningkatan Net Interest Income (NIM) dan Fee Based Income,” ujar Novita.
Untuk diketahui, pada November 2025, Bank Mandiri membukukan laba bersih secara bank only sebesar Rp 44,15 triliun, turun 6,41% secara tahunan. Meski ada penurunan, bank ini tetap berupaya memperkuat efisiensi operasional dan meningkatkan pendapatan melalui berbagai strategi.
Strategi Efisiensi Operasional
Dalam menghadapi tantangan ekonomi yang dinamis, bank-bank di Indonesia mulai mengadopsi strategi efisiensi operasional yang lebih ketat. Ini termasuk penggunaan teknologi untuk mengoptimalkan proses bisnis dan mengurangi biaya operasional yang tidak perlu. Selain itu, penguatan manajemen risiko kredit juga menjadi fokus utama untuk mencegah peningkatan NPL yang dapat mengganggu kinerja keuangan.
Beberapa bank telah melakukan reorganisasi internal dan penghematan di berbagai lini operasional. Misalnya, Bank Mandiri berhasil menurunkan biaya operasional secara signifikan pada November 2025. Langkah-langkah ini menunjukkan komitmen bank untuk tetap menjaga stabilitas keuangan dan kinerja jangka panjang.
Kondisi Pasar dan Harapan Masa Depan
Peningkatan rasio BOPO dan CIR menunjukkan bahwa bank sedang menghadapi tekanan dari berbagai aspek, termasuk inflasi, kenaikan suku bunga, dan risiko kredit. Namun, sejumlah bank seperti CIMB Niaga dan Bank Mandiri menunjukkan kemampuan mereka untuk tetap menjaga keseimbangan antara pertumbuhan pendapatan dan pengendalian biaya.
Presiden Direktur CIMB Niaga optimis bahwa kinerja akan terus membaik pada kuartal IV-2025. Sementara itu, Bank Mandiri terus berupaya meningkatkan efisiensi dan produktivitas untuk mendukung pertumbuhan laba di masa depan.
Dengan berbagai langkah strategis yang diambil, bank-bank di Indonesia berharap bisa tetap kompetitif dan stabil dalam menghadapi kondisi pasar yang terus berubah.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar