
Perkembangan Keuangan Garuda Indonesia dan AirAsia Indonesia
PT Garuda Indonesia Tbk. (GIAA) dan PT AirAsia Indonesia Tbk. (CMPP) masih menghadapi tantangan dalam mencapai keuntungan. Kedua perusahaan maskapai penerbangan ini terus berupaya untuk meningkatkan kinerja keuangan mereka melalui berbagai strategi yang diterapkan.
Laporan Keuangan Garuda Indonesia
Berdasarkan laporan keuangannya, GIAA mencatatkan rugi bersih sebesar US$182,53 juta pada kuartal III/2025. Angka ini menunjukkan peningkatan 39,10% secara tahunan dibandingkan rugi bersih periode yang sama pada tahun sebelumnya sebesar US$131,22 juta. Penurunan pendapatan usaha juga terjadi, yaitu turun 6,7% YoY menjadi US$2,39 miliar dari US$2,56 miliar pada kuartal III/2024.
Peningkatan kerugian ini disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk beban operasional yang meningkat. Meskipun demikian, GIAA mendapatkan dukungan finansial dari pemegang sahamnya. Danantara akan menyertakan modal sebesar Rp23,67 triliun kepada GIAA melalui private placement. Dana tersebut akan digunakan untuk kebutuhan modal kerja dan operasional Citilink.
Strategi Perbaikan Garuda Indonesia
Dukungan Danantara menjadi bagian dari restrukturisasi perseroan. Wakil Direktur Utama Garuda Indonesia Thomas Sugiarto Oentoro menyatakan bahwa GIAA akan membenahi empat pilar utama, yaitu service, business, operational, dan digital transformation. Selain itu, GIAA berkomitmen untuk memperbaiki sejumlah armada yang saat ini berstatus grounded.
GIAA menargetkan untuk meraup laba pada tahun 2026. Dengan perbaikan kinerja operasional, perseroan berharap dapat memberikan dampak positif terhadap kinerja keuangan pada kuartal II 2026. Sebelumnya, Dony Oskaria, Chief Operating Officer Danantara Indonesia sekaligus Kepala BP BUMN, menyatakan bahwa transformasi yang dijalankan GIAA membutuhkan waktu, tetapi pada tahun depan akan terlihat dampaknya.
Laporan Keuangan AirAsia Indonesia
Sementara itu, CMPP juga mencatatkan kerugian yang semakin besar. Pada kuartal III/2025, kerugian bersih CMPP mencapai Rp985,49 miliar, dibandingkan dengan Rp598,57 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Meskipun pendapatan usaha CMPP meningkat sebesar 2,08% YoY menjadi Rp6,02 triliun, peningkatan ini belum cukup untuk menutupi lonjakan beban operasional.
Beberapa beban seperti perbaikan dan pemeliharaan serta pemasaran meningkat signifikan. Beban perbaikan dan pemeliharaan meningkat dari Rp1,25 triliun menjadi Rp1,46 triliun, sedangkan beban pemasaran naik dari Rp268,92 miliar menjadi Rp364,87 miliar.
Strategi Pengembangan AirAsia Indonesia
Untuk mengatasi tantangan ini, CMPP mengambil beberapa langkah strategis. Direktur Utama CMPP Raden Achmad Sadikin menyatakan bahwa prioritas utama adalah memastikan kesiapan alat produksi, yaitu armada pesawat yang akan mendukung operasional secara optimal. Untuk tahun 2026, CMPP memproyeksikan peningkatan kapasitas armada dengan menyiapkan 25 pesawat beroperasi dari total 28 pesawat yang dimiliki.
Selain itu, CMPP berkomitmen untuk terus meningkatkan tingkat kepuasan pelanggan sebagai bagian dari penguatan daya saing. Kombinasi efisiensi biaya, pemilihan rute strategis, dan peningkatan keandalan armada menjadi dasar utama CMPP dalam memperkuat kinerja operasional dan keuangan secara berkelanjutan.
Kesimpulan
Kedua perusahaan maskapai, GIAA dan CMPP, terus berupaya untuk memperbaiki kinerja keuangan mereka melalui berbagai strategi. Meskipun masih menghadapi tantangan, kedua perusahaan memiliki rencana jangka panjang untuk meningkatkan pendapatan dan efisiensi operasional. Dengan dukungan finansial dan transformasi internal, harapan untuk kembali mencapai keuntungan pada tahun depan terus dipertahankan.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar