Strategi Inovasi Hilirisasi Kelapa untuk Wirausaha Muda Berkelanjutan

Strategi Inovasi Hilirisasi Kelapa untuk Wirausaha Muda Berkelanjutan

Peran Pemuda dalam Hilirisasi Kelapa sebagai Solusi Ekonomi Pasca-Tambang

Dalam era globalisasi, tantangan ekologis dan politis yang terus berkembang di Negeri Serumpun Sebalai khususnya terkait masalah pertambangan timah menjadi isu yang tidak pernah usai. Ketergantungan masyarakat pada sektor pertambangan membentuk struktur ekonomi yang rentan, terutama ketika harga timah berfluktuasi di pasar global. Selain itu, kasus megakorupsi pertimahan dan cadangan mineral yang semakin menipis turut memperparah kondisi ini.

Dalam satu dekade terakhir, berbagai laporan pemerintah daerah menunjukkan bahwa kontribusi sektor pertambangan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) mengalami penurunan, sementara dampak ekologisnya semakin meningkat. Banyak lahan bekas tambang yang tidak produktif, membentuk kolong-kolong besar yang menampung air, memicu potensi banjir, serta merusak tata ruang daerah.

Dalam situasi ini, kebutuhan untuk melakukan transformasi ekonomi menjadi sangat mendesak. Salah satu bentuk transformasi adalah pengembangan kewirausahaan muda berkelanjutan. Penelitian Bekator et al (2022) menunjukkan bahwa pemuda yang menjalankan kegiatan wirausaha dapat mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif dan pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs).

Data dan Tantangan Kewirausahaan Muda

Menurut data Badan Pusat Statistik, sekitar 22,97 persen dari total penduduk Provinsi Kepulauan Bangka Belitung adalah pemuda, namun hanya 18 persen dari jumlah tersebut yang menjalankan aktivitas sebagai wirausaha. Apa penyebabnya? Salah satunya adalah rendahnya kapasitas inovasi dan cenderung masih berpatokan pada usaha yang sudah umum.

Di Desa Kurau, Bangka Tengah, banyak rumah produksi getas milik wirausaha muda dan pemula yang musiman bahkan gulung tikar karena tidak bisa bersaing. Dari 41 pengusaha getas, hanya 13 yang stabil, sisanya 15 UMKM tutup, dan 12 lainnya hanya berjalan secara musiman. Fenomena serupa juga terjadi di Kurau Timur, di mana dari 11 pengusaha getas hanya 1 yang stabil, sementara 5 lainnya harus gulung tikar dan 5 lagi berjuang secara musiman.

Sumber Inovasi untuk Kewirausahaan Muda

Melihat fenomena ini, pemuda harus mampu membaca dan menganalisis 15 sumber inovasi untuk menjalankan usaha. Sumber-sumber tersebut mencakup riset pasar, umpan balik pelanggan, kemajuan teknologi, ide internal, kolaborasi, perubahan peraturan, penemuan eksplorasi, pengetahuan kolektif masyarakat, keterbatasan sumber daya, kepedulian lingkungan dan sosial, tantangan, tekanan persaingan, pasar berkembang, inspirasi lintas industri, insiatif pemerintah, dan institusi pendidikan.

Inovasi Hilirisasi Kelapa

Ketersediaan bahan baku menjadi peluang penting untuk mengatasi permasalahan ekonomi. Di Desa Kurau, kelapa menjadi alternatif bagi pemuda untuk menerapkan strategi inovasinya lewat hilirisasi. Banyak tanaman kelapa tumbuh dan dibudidayakan, baik di jalan desa maupun halaman rumah warga.

Permintaan global terhadap produk turunan kelapa terus meningkat. Pemuda bisa berinovasi dengan merujuk pada 4P seperti yang dipopulerkan oleh Joe Tidd dan John Bessant (2013), yaitu inovasi produk, proses, posisi, dan paradigma. Contohnya, buah kelapa bisa diubah menjadi air kelapa kemasan, susu kelapa nabati, es krim, keripik kelapa, Virgin Coconut Oil (VCO), aneka sagon, tepung kelapa, cake, nata de coco, yogurt, hingga produk dari kulit kelapa seperti cocopeat, coco fiber geotextile, keset, sapu, tali, komposit serat, dan sound absorber.

Batok kelapa bisa diinovasikan menjadi briket, karbon aktif, kerajinan, atau bahan pengganti plastik. Tangkai atau pelepah kelapa bisa dijadikan piring, kerajinan anyaman, bahan bakar biomassa, atau furnitur ringan.

Inovasi Proses dan Posisi

Dalam segi inovasi proses, pemuda bisa menciptakan teknologi ekstraksi modern untuk VCO, pupuk atau media untuk mengubah lahan bekas tambang menjadi lahan kelapa produktif, teknologi pembuatan tepung kelapa, karbon aktif, dan produk minuman sehat berbasis kelapa. Dalam segi inovasi posisi, kelapa bisa di-reposisi sebagai produk unggulan pasca-timah, mengubah target pasar dari lokal ke wisata atau premium, serta membranding kelapa sebagai produk hijau Bangka Belitung.

Inovasi Paradigma

Inovasi paradigma pada hilirisasi kelapa bisa menggeser komoditas kelapa mentah menjadi produk nilai tambah, mengaitkan paradigma bahwa kelapa bagian dari healthy, blue, green, dan sirkular ekonomi Bangka Belitung.

Aplikasi Produk Unggulan

Gubernur Hidayat Arsani telah memunculkan rencana pembukaan perusahaan pengolahan kelapa sebagai langkah diversifikasi ekonomi daerah. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP), serta Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, telah menetapkan kelapa sebagai komoditas strategis nasional yang layak didorong hilirisasinya.

Siklus aktualisasi melibatkan pemuda dalam menentukan inovasi yang akan dipilih sebagai rancangan bisnis dalam Business Model Canvas (BMC). Setelah itu, tahap inkubasi dilakukan dengan kolaborasi dengan pemerintah atau lembaga inkubator bisnis. Tahap adopsi, refleksi, dan modifikasi melibatkan evaluasi hasil, penyesuaian inovasi, dan peningkatan proses produksi. Akhirnya, diseminasi dilakukan melalui komunitas, koperasi, dan pasar digital untuk menembus pasar nasional maupun internasional.

Dengan demikian, hilirisasi kelapa bukan hanya strategi pemerintah, tetapi juga ekosistem pembelajaran dan pemberdayaan yang membuka ruang besar bagi pemuda untuk menciptakan masa depan ekonomi baru di Negeri Serumpun Sebalai sebagai produk unggulan pasca-tambang timah.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan