
Strategi Bank dalam Meningkatkan Dana Murah di Akhir Tahun
Di penghujung tahun, sejumlah bank berupaya keras untuk menjaring dana murah guna menekan laju peningkatan biaya dana. Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan menerapkan strategi khusus untuk meningkatkan likuiditas hingga akhir tahun.
Bank Raya Indonesia Tbk menjadi salah satu contoh yang aktif dalam mengembangkan inisiatif untuk meningkatkan dana pihak ketiga (DPK), khususnya dari segmen digital saving. Corporate Secretary Bank Raya, Ajeng Putri Hapsari, menjelaskan bahwa perusahaan fokus pada penguatan layanan pembayaran digital seperti QRIS, Saku Bareng, dan Saku Bisnis. Selain itu, layanan laku pandai melalui Agen BRILink dan Agen Bank Raya juga turut ditingkatkan.
Peningkatan Pengalaman Nasabah
Salah satu upaya yang dilakukan Bank Raya adalah dengan meningkatkan user experience nasabah melalui akselerasi transaksi non tunai di aplikasi Raya App. Fitur Quick Access QRIS dengan shortcut menu di halaman login aplikasi memudahkan nasabah bertransaksi hanya dalam sekali klik.
Selain itu, Bank Raya juga mendorong peningkatan aktivitas transaksi melalui berbagai promo merchant serta program loyalitas berjenjang, mulai dari level Kawan, Kawan Baik, Sobat hingga Bestie. Program ini memberikan berbagai benefit seperti bebas biaya administrasi bulanan, bebas biaya transfer, cashback transaksi QRIS, hingga bebas pembayaran tagihan bulanan.
Inovasi dan Promosi
Bank Raya juga meluncurkan program undian “Pesta Raya” serta program “Raya Poin” pada 2025, yang mendorong nasabah meningkatkan poin undian melalui aktivitas menabung dan bertransaksi. Dalam rangka memperluas brand awareness, Bank Raya aktif memperluas kehadiran melalui partisipasi sebagai sponsor di berbagai event massal, seperti Raya Run, Beautitastic, Color Run, hingga Runtastic, dengan menggandeng komunitas hobi.
Dari sisi kinerja penghimpunan dana, hingga kuartal III-2025 total DPK Bank Raya tercatat sebesar Rp 9,15 triliun atau tumbuh 16,5% secara tahunan (year on year/yoy). Pertumbuhan tersebut ditopang oleh perbaikan struktur pendanaan, tercermin dari peningkatan CASA menjadi Rp 2,72 triliun atau tumbuh 38,8% yoy, dengan rasio CASA mencapai 29,78%.
Ajeng menjelaskan, pertumbuhan dana murah terutama berasal dari digital saving yang tumbuh signifikan sebesar 61,4% yoy menjadi Rp 1,75 triliun. “Pertumbuhan dana murah terus kami genjot, seiring dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap layanan perbankan digital,” ujarnya.
Strategi Bank Mandiri dalam Penghimpunan Dana Murah
Di sisi lain, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) juga terus mengoptimalkan strategi penghimpunan dana murah (current account saving account/CASA) melalui penguatan ekosistem digital dan peningkatan aktivitas transaksi nasabah.
Head of Deposit Product Management Bank Mandiri, Mega Ekaputri Pujianto, menjelaskan bahwa Bank Mandiri memaksimalkan pemanfaatan platform digital seperti Livin’ by Mandiri, Livin’ Merchant, dan Kopra by Mandiri untuk mendorong pertumbuhan dana berbasis transaksi, sekaligus memperluas basis dana murah secara berkelanjutan.
Selain itu, peningkatan porsi pembukaan rekening secara digital menjadi salah satu pilar utama dalam memperkuat fondasi CASA, baik di segmen ritel maupun korporasi.
Hingga Oktober 2025, Bank Mandiri mencatat pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang solid dengan kenaikan di atas 15% secara tahunan (year on year/yoy). Total DPK Bank Mandiri mencapai sekitar Rp 1.530,9 triliun. Struktur pendanaan masih didominasi oleh dana murah dengan porsi di atas 71%, mencerminkan keberhasilan strategi efisiensi biaya dana di tengah dinamika pasar likuiditas.
Fokus Ke Depan
Untuk sisa tahun ini, Bank Mandiri tetap memfokuskan strategi pada penguatan CASA dan pemeliharaan struktur pendanaan yang sehat. Meski tidak mengungkapkan target kuantitatif secara spesifik, perseroan mengarahkan upaya pada peningkatan dana murah berbasis transaksi, optimalisasi kanal digital, serta perluasan basis nasabah melalui akuisisi digital yang terus menunjukkan perkembangan positif.
Memasuki tahun 2026, pihaknya juga memproyeksikan pengelolaan pendanaan tetap dilakukan secara prudent dengan menitikberatkan pada efisiensi biaya dana, akselerasi digitalisasi layanan, serta pendalaman ekosistem transaksional. "Penguatan CASA yang berkelanjutan, pengelolaan likuiditas yang hati-hati, serta ekspansi pembiayaan pada segmen produktif dan UMKM diperkirakan menjadi fokus utama perseroan dalam menjaga momentum pertumbuhan yang sehat dan berkesinambungan," imbuhnya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar