Peran Ekonomi dalam Hubungan Romantis dan Beban Pekerjaan Rumah
Bahkan ketika peran ekonomi dalam hubungan romantis berubah, perempuan masih menanggung sebagian besar pekerjaan di rumah. Riset menunjukkan bahwa beban ini berdampak pada kesehatan perempuan, kelelahan emosional, dan depresi.

Mungkin kita sudah bosan mendengarnya: Perempuan melakukan lebih banyak pekerjaan rumah. Mereka menghabiskan lebih banyak waktu untuk memasak, membersihkan, membuat perencanaan, dan mengurus anak. Ilmu pengetahuan menunjukkan bahwa hal ini bukan sekadar soal perempuan yang "terlalu sensitif” atau sekadar lelah. Faktanya, lebih dari 20 tahun penelitian menunjukkan bahwa porsi pekerjaan domestik dan beban mental yang tidak seimbang yang ditanggung perempuan berdampak nyata terhadap kesehatan dan kesejahteraan mereka.
Rumah tangga (dalam konteks artikel ini: antara perempuan dan laki-laki) sering dipandang sebagai sumber stabilitas dan kesehatan. Namun, semakin banyak studi menunjukkan bahwa manfaat tersebut bersifat kondisional — dipengaruhi oleh kualitas hubungan, rasa keadilan, dukungan emosional, serta beban mental dan emosional yang dipikul masing-masing pasangan.
"Penting untuk membicarakan betapa besarnya kerja ‘tak terlihat’ dan kerja emosional yang ditanggung perempuan melalui tugas domestik dan peran pengasuhan,” ujar Annie, seorang perempuan berusia 40-an yang tinggal di Thailand. "Beban mental ini sering kali tidak diakui.”
Psikoterapis Ben Yalom, yang menulis tentang kompleksitas hubungan manusia — dan putra dari Irvin Yalom, seorang psikiater yang juga banyak menulis tentang topik ini — menekankan bahwa sebagian besar tugas domestik jatuh pada perempuan karena alasan budaya, bukan karena kegagalan pribadi. "Banyak ketimpangan peran antara laki-laki dan perempuan berasal dari cara kita dibesarkan. Pada laki-laki, ada semacam didikan maskulinitas yang sering kali tidak kita sadari,” kata Ben Yalom.
Perempuan, tambah Yalom, dilatih untuk menjadi pengasuh dan peka secara emosional. "Dan akibatnya, laki-laki tidak mengambil peran itu, tidak mempelajarinya, dan hal itu menjadi masalah."
Beban Mental dari Tugas Domestik
Bahkan ketika kedua pasangan sama-sama bekerja, perempuan tetap menanggung sebagian besar beban mental. Para peneliti menyebutnya sebagai "kerja kognitif dan emosional yang tidak terlihat” yang membuat rumah tangga tetap berjalan — mengatur jadwal, merencanakan makanan harian, dan mengorganisasi berbagai tugas pekerjaan domestik.
Sebuah studi berbasis populasi di Swedia yang melibatkan 14.184 orang dewasa menemukan bahwa perempuan menghabiskan hampir dua kali lebih banyak waktu untuk pekerjaan domestik tidak berbayar dibandingkan laki-laki: Sekitar 1 dari 10 perempuan, dibandingkan 1 dari 20 laki-laki, melaporkan melakukan lebih dari 30 jam pekerjaan domestik per minggu.
Perempuan dalam studi tersebut juga secara signifikan lebih mungkin mengalami gejala depresi atau didiagnosis menderita depresi. Tekanan dari pengelolaan beban kerja ini dianggap sebagai prediktor kuat depresi.
Remi, seorang ibu bekerja penuh waktu di Jerman, mengatakan bahwa ketimpangan ini sering dimulai hampir tanpa disadari. "Ini sudah menjadi standar bagi saya — bekerja sekaligus mengurus rumah,” katanya. Setelah hari kerja yang panjang, Remi sering kali menjadi orang yang memasak secara default.
"Saya suka memasak, tapi kadang itu benar-benar menguras energi saya, terutama saat saya sedang tidak menjalani hari yang baik.”
Banyak perempuan yang diwawancarai DW mengatakan mereka melihat pola yang sama: Suami sering kali hanya membantu ketika diminta. Di awal pernikahannya, Remi mengatakan ia terus-menerus harus mengingatkan suaminya: "Ini perlu dilakukan, bisa tolong dikerjakan?” Meminta pengertian semacam ini, katanya, "juga merupakan bagian dari stres yang kami tanggung.”
Menjadi Ibu Memperparah Rasa Ketimpangan
Menjadi ibu memperparah rasa ketimpangan tersebut bagi Remi. "Kamu bangun, bersiap-siap, anggota keluarga bergantung padamu — bukan pada ayahnya,” katanya, seraya mencatat bahwa suaminya baru turun tangan setelah ia mengomunikasikan kebutuhannya.
Data lain dari tahun 2005 juga menunjukkan hal serupa. Para peneliti mengikuti 128 pasangan yang baru pertama kali menjadi orang tua, sebelum kelahiran anak dan enam bulan setelahnya. Studi tersebut menunjukkan bahwa setelah kelahiran, beban kerja domestik perempuan meningkat tajam, sementara beban kerja laki-laki sebagian besar tetap sama. Para ibu mengurangi waktu kerja berbayar untuk mengambil lebih banyak peran pengasuhan, dan melaporkan tingkat kepuasan yang lebih rendah sebagai akibatnya.
Membuat Kerja Domestik yang "Tak Terlihat” Menjadi Terlihat
Psikolog konseling Ishita Pateria, yang berbasis di India, membantu para pasangan untuk membuat beban "tersembunyi” ini menjadi nyata. Pateria sering meminta laki-laki untuk mengambil alih semua tugas rumah tangga selama satu bulan.
"Ini membantu mereka menumbuhkan empati,” katanya. "Di akhir bulan, banyak pasangan laki-laki mulai berkontribusi lebih banyak setelah mereka melihat sendiri besarnya beban kerja tersebut.”
Sebuah makalah diskusi yang diterbitkan pada tahun 2025 menegaskan perlunya pendekatan seperti milik Pateria untuk menumbuhkan empati terkait pekerjaan rumah tangga pada laki-laki.
Perempuan di seluruh AS dan Eropa, termasuk Italia tempat para peneliti berbasis, ditemukan secara konsisten melakukan sebagian besar kerja mental dalam rumah tangga. Kerja mental ini dikaitkan dengan tingkat stres yang lebih tinggi, rasa kepuasan yang lebih rendah, serta dampak yang lebih besar terhadap karier perempuan dibandingkan laki-laki.
Yalom mencatat bahwa banyak laki-laki tidak benar-benar memahami kerja mental yang dilakukan perempuan. "Sering kali, seorang laki-laki, pada tingkat tertentu, bahkan tidak menyadari hal-hal yang sedang dikerjakan.”
Bahkan dalam rumah tangga di mana kedua pasangan bekerja, perempuan sering kali menjalani "shift kedua” yang tak terlihat — dan hal ini memiliki konsekuensi nyata bagi kesejahteraan, tingkat stres, dan kesehatan jangka panjang mereka.
"Perempuan mengerahkan banyak usaha ekstra, bukan hanya untuk merawat pasangan laki-laki mereka, tetapi juga anak-anak dan rumah tangga. Bebannya lebih besar, stresnya lebih besar. Dan stres berdampak pada kesehatan perempuan,” kata Yalom.
Menciptakan Keseimbangan dalam Hubungan Modern
Peran ekonomi dalam hubungan telah berubah selama 20 tahun terakhir, dengan semakin banyak perempuan menjadi pencari nafkah yang setara atau bahkan utama. Namun, ekspektasi budaya belum mengejar perubahan tersebut.
Bagi perempuan, biaya dari ketimpangan ini terukur dan serius, memengaruhi kesehatan mental, tingkat stres, dan kesejahteraan jangka panjang, sebagaimana ditunjukkan oleh berbagai studi yang telah disebutkan.
"Ekspektasi patriarkal tentang ‘penghapusan diri' — kita sering diajarkan untuk mencintai dengan mengorbankan diri sendiri,” kata Annie. Namun, tambahnya, cinta adalah sebuah pilihan, bukan kewajiban.
Menyadari hal itu, kata Annie, "membantu saya melawan kelelahan emosional dan mendefinisikan ulang makna kepedulian di luar ekspektasi patriarkal. Saya sangat jelas bahwa saya benci mencuci pakaian — saya lebih memilih menyewa orang lain untuk mendelegasikan tugas itu.”
Menggabungkan batasan yang jelas seperti ini dengan latihan-latihan seperti pendekatan pembangunan empati ala Pateria menawarkan sebuah model bagi hubungan modern: pasangan dapat secara sadar berbagi tanggung jawab emosional dan domestik untuk meningkatkan keadilan, komunikasi, dan dukungan.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar