
Jakarta dan Sistem Transportasi Umum yang Terintegrasi
Jakarta dikenal sebagai kota yang memiliki sistem transportasi umum yang cukup lengkap, terutama sejak munculnya Program JakLingko pada tahun 2020. Sistem ini dirancang untuk menghubungkan berbagai moda transportasi seperti Transjakarta, MRT, LRT, KRL, dan Mikrotrans. Namun, masih ada sedikit kesalahpahaman di masyarakat yang mengira bahwa JakLingko adalah kata lain untuk angkot. Padahal, JakLingko merujuk pada sistem transportasi terintegrasi, sementara Mikrotrans adalah sebutan baru untuk angkot.
Artikel ini akan menggunakan penyebutan JakLingko yang lebih familiar bagi pembaca. JakLingko menjadi pilihan transportasi utama bagi berbagai kalangan karena kemudahan dan biaya yang relatif murah. Tapi apakah layanan ini benar-benar gratis?
Nyatanya, JakLingko tidak sepenuhnya gratis. Pengguna harus membayar dengan "waktu" mereka. Lalu, apakah JakLingko layak untuk dihabiskan waktu?
Pengalaman Menunggu JakLingko
Empat orang Gen Z memiliki pengalaman serupa dalam menunggu JakLingko. Beberapa dari mereka bahkan pernah menunggu hingga hampir satu jam. Berikut beberapa pengalaman mereka:
- Iffa (25 tahun): “Setiap hari menggunakan JakLingko rute 73 dan sering menunggu. Kadang cepat banget, kadang 12 menit, 20 menit, tapi saat rush hour setiap unit yang datang itu penuh. Paling lama saya pernah menunggu sekitar 40 menit.”
- Savina (24 tahun): “Sering menggunakan JakLingko rute 28 setiap pulang kerja atau pergi ke tempat tertentu. Sering menunggu sekitar 20 menitan.”
- Nad (22 tahun): “Seminggu bisa dua kali naik JakLingko rute 16. Sering banget menunggu, terutama hari Jumat karena sopirnya sholat dulu. Biasanya menunggu 10 menitan sambil main hape dan bengong.”
- Aco (25 tahun): “Setiap hari menggunakan JakLingko rute 34. Pernah menunggu hampir 1 jam, tapi biasanya 15-20 menit. Saat menunggu juga tidak melakukan apa-apa, takut dijambret jika memainkan hape karena menunggunya di pinggir jalan.”
Tempat Tunggu yang Masih Kurang Memadai
Beberapa pengguna menyampaikan keluhan tentang tempat tunggu yang kurang memadai. Mereka mengharapkan adanya bangku agar penumpang tidak harus berdiri terlalu lama.
- Aco: “Kalo bisa dikasih bangku biar nunggunya ga berdiri karena kadang pegel banget kalo nunggu lama. Pengennya sih kayak halte pinggir jalan tapi kadang tempat bus stop ga semuanya luas.”
- Nad: “Prasarananya sih kurang proper ya, bus stop cuma plang aja. Sebenarnya untuk diri sendiri sudah oke, tapi kasian untuk lansia yang harus nunggu kepanasan, gak ada tempat duduknya.”
Selain itu, ada keluhan tentang sopir yang galak dan ngebut. Misalnya, Iffa mengatakan bahwa kadang penumpang ingin berhenti di bus stop, tapi sopir tidak berhenti. Bahkan, ketika diminta lagi, sopir malah marah.
Alasan Masih Mengandalkan JakLingko
Meskipun ada kekurangan, kemudahan dan harga yang murah tetap menjadi alasan mengapa Gen Z tetap setia menggunakan JakLingko.
- Aco: “Karena rutenya ngelewatin tempat kerja aku bangeeett, jadi bener-bener terbantu.”
- Iffa: “Pas nunggu, selalu mikir kalo pasti ga lama lagi bakal lewat yang lain. Gapapa nunggu lama daripada gua bayar 56K naik Gojek dari kantor ke rumah.”
Harapan Gen-Z untuk JakLingko
Gen-Z memiliki beberapa harapan untuk pengembangan JakLingko di masa depan, terutama terkait inklusivitas dan penambahan armada.
- Aco: “Harapannya please tetep gratis. Please juga dipantau rute mana aja yang penumpangnya banyak jadi armadanya bisa disesuaikan.”
- Savina: “Ada rute yang unitnya masih sedikit padahal yang ramai yang mau naik, jadi harus nunggu. Mungkin perlu ditambahin lagi unit untuk rute-rute yang kaya gitu.”
- Nad: “Harapannya untuk bus stop bisa dipikirkan kembali (kelayakannya) untuk prioritas seperti lansia, ibu hamil, dan disabilitas karena kasian kalo kepanasan dan butuh tempat duduk juga.”
Kesimpulan
JakLingko memang berhasil menjangkau semua kalangan di Jakarta, tapi nothing is perfect. Masih ada aspek yang perlu dikaji kembali demi kenyamanan dan keamanan pengguna. Dengan artikel ini, kami berharap kamu bisa memahami lebih baik tentang JakLingko dengan bahasa yang mudah dipahami.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar