
Peran Kepemimpinan dalam Membangun Peradaban yang Lebih Baik
Dalam pembukaan KAGAMA Regional Leaders Forum (KRLF) 2025, Sri Sultan Hamengku Buwono X menyampaikan pesan penting mengenai peran kepemimpinan di tengah tantangan yang semakin kompleks. Ia menekankan bahwa kemampuan teknis saja tidak cukup untuk memimpin negara di tengah turbulensi besar yang sedang dihadapi Indonesia saat ini.
Gubernur DIY tersebut menegaskan bahwa kepemimpinan harus berpijak pada dua landasan utama: kontrak sosial dan etos peradaban. Ia menyebut bahwa tantangan bangsa hari ini menuntut pemimpin yang memiliki integritas moral dan kecakapan merawat kepercayaan publik.
Tantangan yang Menghadang Bangsa
Tantangan yang dihadapi Indonesia kini sangat multidimensi. Mulai dari pengetatan fiskal, fragmentasi sosial, disrupsi geopolitik, hingga tekanan ekologis yang semakin nyata. Dalam situasi seperti ini, peran para alumni UGM, terutama yang kini mengemban amanah kepemimpinan, menjadi semakin penting dan menentukan.
Sri Sultan menyatakan bahwa kepemimpinan yang matang bukan hanya tentang kemampuan mengelola administrasi atau memecahkan persoalan teknis. Pemimpin harus mampu membaca tanda zaman, mendengar isyarat sosial, dan menimbang keputusan dengan kesadaran etik, demi kemaslahatan jangka panjang.
Kepemimpinan yang Berlandaskan Etika
Menurutnya, kepemimpinan harus berpijak pada dua landasan utama: kontrak sosial dan etos peradaban. Ia menyebut bahwa tantangan bangsa hari ini menuntut pemimpin yang memiliki integritas moral dan kecakapan merawat kepercayaan publik.
Tantangan hari ini tidak dapat dijawab hanya dengan kecakapan teknis dan administrasi. Pemimpin juga harus mampu menjaga integritas moral, merawat kepercayaan, menata dialog, dan mempersatukan kepentingan, ujar Sultan.
Ia juga mendorong hadirnya kepemimpinan yang transenden sekaligus operasionalyang mampu menjaga nilai, tetapi tetap fleksibel dalam inovasi. Pemimpin seperti itu, menurutnya, akan menuntun bangsa keluar dari paradoks sejarah dan mendorong transformasi menuju peradaban yang lebih adil dan berkelanjutan.
Sinergi antara Pusat dan Daerah
Rektor UGM, Prof. Ova Emilia, menekankan bahwa KRLF 2025 digelar untuk mendukung peningkatan kapasitas jejaring alumni, khususnya dalam menjembatani pengetahuan dan praktik kebijakan. Dengan tema Sinergi Pusat-Daerah: Inovasi Kolaborasi dan Kepemimpinan di Era Pengetatan Fiskal, forum ini diharapkan menjadi laboratorium gagasan lintas sektor.
Kami berharap, dalam forum yang pertama kali digelar ini, menjadi ruang diskusi strategis yang mempertemukan ide-ide inovatif dari berbagai sudut pandang maupun pemikiran, ujarnya.
Relevansi Forum dalam Konteks Saat Ini
Ketua Umum PP KAGAMA, Basuki Hadimuljono, menyebut forum ini sangat relevan karena Indonesia kini dihadapkan pada bencana alam dan pembatasan fiskal. Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi ujian kepemimpinan bagi para pengambil kebijakan di berbagai tingkatan.
Forum ini juga untuk mengakomodir semua elemen yang ingin berkontribusi dalam penanganan masalah agar dapat dikoordinasi dan dikolaborasikan untuk menjadi kekuatan yang lebih besar, kata Basuki.
Penghargaan untuk Kepala Daerah Alumni UGM
Dalam kesempatan yang sama, KAGAMA memberikan apresiasi KRLF 2025 kepada 15 kepala daerah alumni UGM. Penghargaan ini diharapkan dapat mendorong spirit kepemimpinan kerakyatan sekaligus menginspirasi generasi pemimpin berikutnya dalam melayani masyarakat dan negara.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar