Penolakan Jabatan Bendahara Umum PBNU oleh Sumantri Suwarno
Nama Sumantri Suwarno mendadak menjadi sorotan setelah Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf menunjuknya sebagai Bendahara Umum dalam rotasi kepengurusan terbaru. Namun, Sumantri justru menolak jabatan tersebut dengan alasan tidak ingin berada di posisi strategis saat kondisi internal organisasi tengah sensitif. Penolakannya memicu perhatian publik terhadap sosoknya dan rekam jejak panjangnya di dunia korporasi dan manajemen energi.
Sumantri menyatakan penolakan secara terbuka melalui unggahan di media sosial Facebook pada Sabtu (29/11/2025). Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki keinginan untuk menduduki jabatan strategis di tubuh organisasi keagamaan terbesar di Indonesia itu, terlebih di tengah situasi internal yang menurutnya sedang berada dalam kondisi sensitif dan sarat polemik. “Di masa yang paling enak saja saya menolak. Apalagi di masa yang nuansanya konflik seperti ini,” tulis Sumantri dalam unggahannya.
Pernyataan itu pun memancing berbagai reaksi. Sebagian warga Nahdliyin menilai sikap Sumantri sebagai bentuk kehati-hatian dan kebijaksanaan, sementara yang lain menganggap penolakan tersebut mencerminkan dinamika internal yang semakin kompleks di tubuh PBNU. Sumantri juga mengungkapkan bahwa tawaran untuk menduduki posisi bendahara umum bukanlah hal baru baginya. Ia mengaku telah beberapa kali diminta mengemban amanah yang sama dalam periode-periode sebelumnya. Namun, jawabannya selalu tidak berubah.
“Saya ini sudah nggak punya waktu sekarang untuk mengurusi hal-hal seperti ini, karena terus terang kesibukan duniawi sedang banyak,” ujarnya.
Rekam Jejak Profesional
Di luar dinamika organisasi keagamaan, Sumantri Suwarno dikenal sebagai sosok profesional dengan rekam jejak panjang di dunia bisnis dan korporasi, khususnya dalam bidang manajemen sumber daya manusia, hubungan industrial, pengembangan usaha, serta komunikasi perusahaan.
Berdasarkan profil yang tercantum di platform LinkedIn, Sumantri merupakan lulusan Universitas Indonesia (UI) dengan gelar Sarjana Ekonomi. Ia menempuh pendidikan tinggi di kampus bergengsi tersebut sejak tahun 1995 dan menyelesaikannya pada 2002. Karier profesionalnya terbilang cukup beragam.
Pada periode 2010 hingga 2012, ia menjabat sebagai General Affairs Manager Greater Jakarta Area di Kalrez Petroleum (Seram) Ltd., sebuah perusahaan eksplorasi minyak dan gas yang beroperasi di Blok Bula, Pulau Seram, Maluku Utara. Perusahaan ini diketahui menjadi salah satu kontraktor di bawah pengawasan SKK Migas.
Setelah itu, pada 2012 hingga 2013, Sumantri dipercaya mengemban jabatan sebagai Chief Corporate Affairs Officer di PT Karya Bumi Baratama. Peran tersebut mempertegas posisinya sebagai figur yang memiliki kapabilitas dalam mengelola hubungan strategis dan kebijakan korporasi.
Perjalanan kariernya berlanjut ke sektor energi dan investasi. Sejak 2019, Sumantri tercatat sebagai Komisaris di PT Sirius Surya Sentosa, posisi yang masih diemban hingga saat ini. Ia juga dikenal sebagai Komisaris Independen di PT BRI Multifinance Indonesia sejak 2020. Pada tahun yang sama, ia merangkap sejumlah jabatan lain, di antaranya Advisor di Fundex.id, Komisaris di PT IPC Terminal Petikemas, serta Director of Business Development di PT Rukun Raharja Tbk.
Tak hanya itu, Sumantri juga sempat duduk sebagai anggota Investment Committee di Petrosea. Mengacu pada situs resmi petrosea.com, pada Desember 2023 ia diangkat sebagai anggota Komite Project & Investment berdasarkan keputusan Dewan Komisaris. Selain itu, Sumantri mencantumkan dirinya menjabat sebagai President Director PT Raharja Energi Cepu Tbk, mempertegas posisinya di lingkaran elite dunia usaha Indonesia.
Meski memiliki latar belakang bisnis yang kuat, informasi mengenai kehidupan pribadinya sangat terbatas. Tidak banyak yang diketahui publik tentang latar belakang keluarganya. Hal ini menunjukkan bahwa Sumantri cenderung menjaga privasi kehidupan personalnya di tengah jabatan-jabatan strategis yang ia emban.
Rotasi Besar-besaran di Tubuh PBNU

Penunjukan nama Sumantri Suwarno sebagai Bendahara Umum PBNU terjadi dalam rangkaian rotasi besar-besaran yang dilakukan oleh Gus Yahya pada Jumat (28/11/2025). Perombakan tersebut menghadirkan perubahan signifikan pada susunan kepengurusan inti PBNU.
Dalam struktur baru tersebut, setidaknya lima tokoh utama mengalami perubahan posisi: - KH Mashuri Malik beralih dari Ketua PBNU menjadi Wakil Ketua Umum - Saifullah Yusuf (Gus Ipul) bergeser dari Sekretaris Jenderal menjadi Ketua PBNU - Gudfan Arif berubah posisi dari Bendahara Umum menjadi Ketua PBNU - Amin Said Husni didapuk sebagai Sekretaris Jenderal PBNU - Sumantri Suwarno ditunjuk sebagai Bendahara Umum PBNU
Namun, langkah Gus Yahya menunjuk Sumantri justru direspons penolakan. Sikap itu membuat posisi Bendahara Umum kembali menjadi tanda tanya, sekaligus menambah dinamika di tengah polemik yang sebelumnya telah muncul akibat perombakan struktur tersebut.
Di kalangan pengamat, penolakan ini dinilai menunjukkan adanya tegangan internal dalam tubuh PBNU yang belum sepenuhnya reda. Beberapa pihak menduga, rotasi ini menjadi titik kritis yang bisa memengaruhi soliditas organisasi ke depan.
Di Antara Tanggung Jawab Dunia dan Organisasi
Meski dikenal sebagai tokoh NU, Sumantri seolah berada di persimpangan antara tanggung jawab terhadap organisasi keagamaan dan komitmen profesional di dunia korporasi. Dengan berbagai jabatan strategis yang masih diembannya hingga kini, ia memilih untuk tidak menambah beban baru yang berpotensi mengganggu fokusnya.
Sikap itu memang menuai pro dan kontra. Namun, sebagian kalangan justru menilai keputusan Sumantri sebagai bentuk kejujuran dan kedewasaan dalam mengambil sikap, terutama melihat kondisi internal PBNU yang sedang tidak stabil. Bagi Sumantri, amanah bukan sekadar soal jabatan, melainkan juga kesiapan lahir dan batin untuk memikul tanggung jawab besar. Dalam konteks inilah, ia memilih untuk menjauh dari pusaran konflik, meski namanya keburu ditarik ke dalamnya.
Ke depan, publik masih menantikan langkah PBNU dalam menuntaskan polemik tersebut serta siapa yang akhirnya akan dipercaya mengisi posisi strategis Bendahara Umum. Sementara itu, sosok Sumantri Suwarno kemungkinan akan tetap menjadi figur penting, setidaknya di dunia bisnis dan di lingkaran tokoh-tokoh nasional yang memiliki pengaruh kuat meski berada di balik layar.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar