Suzzanna Kembali ke Layar Lebar, Luna dan Reza Hadapi Tantangan Baru

Suzzanna Kembali ke Layar Lebar, Luna dan Reza Hadapi Tantangan Baru

Suzzanna Kembali Hadir dalam Versi Baru

Film horor legendaris Suzzanna kembali hadir dengan wajah baru. Produksi Soraya Intercine Films memperkenalkan versi terbaru yang diadaptasi oleh sutradara Azhar Kinoi Lubis, dengan bintang utama Luna Maya dan Reza Rahadian. Film ini mencoba menghadirkan pengalaman berbeda, menghidupkan kembali karakter Suzzanna sekaligus menyesuaikan dengan dunia horor modern.

Luna Maya, yang memerankan Suzzanna, mengungkapkan tantangan terbesar dalam proyek ini adalah memenuhi ekspektasi penonton. “Yang paling berat adalah memenuhi ekspektasi orang, ya. Karena ketika kita meremake sesuatu, apalagi sosok yang benar-benar pernah ada, pasti banyak orang membandingkan. Sebagai aktor, tugas kita bukan menjadi 100 persen atau menyalin orang itu. Betul seperti yang Reza bilang, ‘in my own version’, versi baru Suzzanna itu seperti apa. Itu yang paling menakutkan sebenarnya, karena sampai kapanpun saya tidak akan pernah bisa menjadi 100 persen Suzzanna. Saya adalah individu lain,” ujarnya.

Ia menambahkan, film ini bertujuan untuk menghidupkan kembali IP Suzzanna, bukan sekadar meniru. “Yang ingin kami hidupkan adalah marwah beliau, dan apa yang ingin dihidupkan kembali dari sosok Suzzanna. Jadi bukan menjadi Suzzanna untuk menggantikan, bukan seperti itu. Kami mencoba membuat crafting baru, yang ujung-ujungnya ingin menghibur banyak orang. Kami ingin generasi sekarang tahu lagi siapa Suzzanna, dan generasi berikutnya tetap tahu. Jadi legacy-nya terus berjalan,” ujarnya.

Luna juga menekankan perbedaan versi ini dengan film sebelumnya. “Pertama kali, Suzzanna yang diambil adalah IP-nya, dan di sini dia bukan menjadi ‘sundel bolong’. Di universe ini tidak ada sundel bolong. Di sini Suzzanna menjadi seorang manusia yang mengalami perjalanan sangat menyakitkan sehingga harus mengambil keputusan yang mengubah hidupnya,” kata dia.

Kolaborasi yang Menarik

Sementara itu, aktor Reza Rahadian menyebut pengalaman syuting film ini luar biasa, terutama dalam kolaborasi dengan Luna Maya. “Dari proses development, reading, sampai di lapangan, saya lumayan banyak bertanya ke Kinoi soal vision apa yang ingin dituang ke film ini, dan kontribusi apa yang bisa saya bantu sebagai aktor. Dengan Luna kami banyak ngobrol, walaupun waktu persiapannya cukup singkat. Tapi saya percaya kita bisa berbagi momen di set. Saya sudah pernah bekerja sama dengan Luna sebelumnya. She’s the type of actress that’s easy to work with. Energinya luar biasa,” katanya.

Ia juga memuji dedikasi Luna, terutama dalam proses makeup dan prostetik yang memakan waktu panjang. “Kalau kami selesai syuting tinggal hapus makeup, Luna harus stay di lokasi untuk buka satu per satu prostetiknya. What a great commitment. I’m so happy to work with Luna Maya. Energi Luna sebagai Suzzanna luar biasa. She gave another perspective of becoming Suzzanna in her own version. That’s epic,” ujarnya.

Visi Sutradara dan Proses Produksi

Sutradara Azhar Kinoi Lubis menjelaskan, proyek ini bukan sekadar remake, tapi upaya menghadirkan versi segar dari legenda horor Indonesia. “Ini sesuatu yang mengagetkan. Dari kecil kita sudah menonton film-film Suzzanna. Judulnya banyak dan sangat melekat. Ada bebannya, bagaimana membuat film ini jadi bukan sekadar beda, tapi karismanya tetap ada, relevan di era sekarang. Waktu diskusi dengan Pak Sunil, kami sepakat membuat sesuatu yang berbeda dengan tema-tema yang lebih segar. IP ini besar, semua orang Indonesia tahu. Itu tantangan sekaligus menarik,” jelas Kinoi.

Ia menambahkan, tantangan produksi tidak hanya soal cerita tapi juga skala visual. “Skala produksi? Ini pertama kali saya menggabungkan horor dengan begitu banyak karakter dan exit. Mengkoordinasikan semua elemen itu sulit kalau tidak dipikirkan connecting-nya. Ledakan banyak, ada tiga. Luna dikejar-kejar, ada adegan di hutan, sungai—dua sungai—kolam renang. Satu scene saja tempatnya banyak. Tapi goal kami adalah menghadirkan storytelling besar dengan visual besar. Semoga memberi cinema experience yang naik level.”

Soal kolaborasi dengan para aktor, Kinoi memuji fleksibilitas dan sinergi yang tercipta. “Soal kolaborasi dengan Luna dan Reza, saya sudah kenal mereka sejak lama, sejak jadi astrada. Jadi di film ini seperti jodoh dipertemukan lagi. Kami banyak diskusi soal karakter. Mereka fleksibel, dan di lapangan blocking lebih mengalir, tidak kaku. Itu membuat kerja sangat menyenangkan dan bersinergi,” jelasnya.

Film ini dijadwalkan tayang pada 2026, dengan harapan membawa pengalaman horor yang segar dan tetap menghormati warisan Suzzanna. Luna Maya menutup penjelasannya dengan harapan, “Setiap film punya warnanya, nyawanya sendiri. Jadi jangan terus membandingkan. Walaupun mengangkat IP yang sama, kami ingin menghidupkannya dengan nyawa yang berbeda. Semoga bisa dinikmati dan ditonton banyak orang.”

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan