
aiotrade.CO.ID-JAKARTA.
Ekonomi masyarakat menengah bawah masih menghadapi tantangan berat. Hal ini terlihat dari rata-rata simpanan rumah tangga di perbankan yang terus tertekan. Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan bahwa hingga Oktober 2024, rata-rata Dana Pihak Ketiga (DPK) rumah tangga per rekening di perbankan hanya sebesar Rp 6,04 juta. Angka ini lebih rendah dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp 6,47 juta. Meski begitu, angka tersebut sedikit meningkat dari posisi terendah pada September 2025, yaitu Rp 6 juta.
Selain itu, simpanan dalam bentuk tabungan juga menunjukkan pertumbuhan yang terbatas. Rata-rata tabungan rumah tangga per rekening senilai Rp 4,02 juta. Angka ini mulai naik dari posisi Agustus dan September 2025, namun tetap lebih rendah dibandingkan Oktober 2024 yang mencapai Rp 4,19 juta.
Mega Ekaputri Pujianto, Head of Deposit Product Management PT Bank Mandiri Tbk, menjelaskan bahwa berdasarkan data Mandiri Institute per pertengahan November 2025, indeks tabungan berbeda antar kelompok pendapatan. Kelompok rumah tangga berpendapatan bawah menunjukkan peningkatan indeks tabungan ke level 74,7, lebih tinggi dibandingkan 73,1 pada Oktober 2025. Kondisi ini mengindikasikan adanya upaya penyesuaian konsumsi dan preferensi menabung di tengah tekanan ekonomi.
Sebaliknya, indeks tabungan kelompok menengah–atas justru mengalami penurunan terbatas, berada pada kisaran 100 dan 93,2. Penurunan tersebut turut mendorong saldo tabungan rata-rata masyarakat menyusut. Meski demikian, dari sisi penghimpunan dana, Bank Mandiri masih mencatatkan pertumbuhan DPK yang solid, mencapai sekitar 15% year on year per Oktober 2025. Pertumbuhan ini menjadi sinyal positif bahwa kepercayaan masyarakat terhadap layanan perbankan tetap terjaga.
Bank Mandiri optimistis tren penghimpunan dana dapat kembali menguat ke depannya. Pemulihan daya beli rumah tangga dan meningkatnya keyakinan konsumen diyakini akan menjadi katalis perbaikan tren simpanan di masa mendatang. Untuk memperkuat kinerja dana murah (CASA), Bank Mandiri menjalankan sejumlah strategi, antara lain:
- Peningkatan literasi keuangan agar masyarakat lebih memahami manfaat produk simpanan.
- Optimalisasi produk tabungan yang lebih fleksibel dan sesuai kebutuhan berbagai segmen nasabah.
- Penguatan layanan digital yang mendorong transaksi keuangan secara lebih mudah, cepat, dan efisien.
Lani Darmawan, Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk, juga mengakui ada pertumbuhan tabungan perorangan yang melemah. Ia menilai ini disebabkan masyarakat yang harus memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Ia memproyeksikan kondisi ini belum akan berubah dalam jangka waktu yang pendek. “Paling tidak bertahan sampai separuh pertama tahun depan,” ujarnya.
Pada Oktober 2025, DPK CIMB Niaga mencapai Rp 285,1 triliun dengan dominasi dana murah senilai Rp 194,9 triliun. Sebagai perbandingan, DPK CIMB Niaga pada Oktober 2024 senilai Rp 250,65 triliun.
Bhima Yudhistira, Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), menilai melemahnya simpanan rumah tangga terutama disebabkan tekanan pendapatan pada segmen menengah, kelompok yang selama ini menjadi penopang utama pertumbuhan tabungan. “Sektor rumah tangga masih dipengaruhi oleh melemahnya pendapatan di kelompok menengah. Mereka kini lebih fokus memenuhi kebutuhan pokok dan membayar cicilan utang, sehingga ruang untuk menabung makin kecil,” ujar Bhima kepada aiotrade, Selasa (2/12/2025).
Menurut Bhima, kelompok masyarakat pada desil 5 dan 6 menjadi yang paling rentan. Mereka tidak tercakup dalam bantuan langsung tunai (BLT) pemerintah, namun tetap mengalami tekanan ekonomi yang membuat kondisi finansial semakin rapuh. Hal ini mendorong sebagian rumah tangga mengurangi pengeluaran sekunder dan tersier serta menahan konsumsi yang tidak mendesak.
Bhima menilai tren simpanan rumah tangga masih berpotensi melemah pada tahun depan. Pemulihan diperkirakan tidak akan cepat, terutama karena tekanan pendapatan masih berlanjut. “Trennya masih akan sluggish di 2026 karena menurunnya pendapatan pekerja formal, ditambah situasi bencana terkait perubahan iklim yang juga berdampak pada kondisi rumah tangga,” ungkapnya.
Di tengah tekanan daya beli dan peningkatan risiko kredit, bank perlu menyesuaikan strategi untuk menjaga kualitas portofolio serta mempertahankan dana murah rumah tangga. Bhima menyarankan perbankan untuk lebih memahami perubahan pola konsumsi masyarakat, terutama pada segmen menengah yang mulai mengubah prioritas keuangan. “Bank disarankan membaca ulang perubahan pola konsumsi dan risiko di kelompok menengah untuk memperbaiki kualitas kredit,” katanya.
Menurut Bhima, bank perlu memperkuat analisis risiko rumah tangga, terutama dalam penilaian kemampuan bayar, serta merancang produk tabungan yang lebih menarik bagi nasabah dengan pendapatan terbatas. Program literasi keuangan dan penawaran skema pembayaran fleksibel juga dapat menjadi strategi untuk menahan lonjakan NPL.
“Dengan tekanan pendapatan yang masih terasa hingga 2026, perbankan perlu bersiap melakukan penyesuaian strategi agar tetap menjaga stabilitas dana pihak ketiga dan menjaga kualitas kredit rumah tangga,” imbuhnya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar