
Mitos Tentang Latihan Beban yang Harus Dibongkar
Masih banyak perempuan yang ragu memulai latihan beban karena khawatir tubuhnya akan terlihat terlalu berotot. Namun, menurut seorang fitness influencer dan edukator strength training, Irsani, ketakutan tersebut sering kali berasal dari miskonsepsi yang sudah lama beredar di masyarakat. Mitos itu bahkan membuat banyak perempuan, terutama ibu dan lansia, menjadi pasif bergerak dan kehilangan kesempatan untuk menjaga kesehatan ototnya.
Banyak yang bilang, Nanti badan jadi berotot kalau angkat beban. Padahal yang jauh lebih berisiko adalah tidak melatih otot sama sekali, ujar Irsani saat dihubungi.
Mitos Cepat Berotot Justru Tidak Sesuai Biologi Perempuan
Irsani menjelaskan, tubuh perempuan secara hormon sangat berbeda dari laki-laki. Kadar testosteron yang lebih rendah membuat proses pembentukan otot besar menjadi sangat lambat sehingga hampir tidak mungkin perempuan tiba-tiba tampak kekar hanya karena latihan beban ringan hingga sedang. Justru, kata dia, manfaat latihan beban bagi perempuan jauh lebih besar daripada risikonya.
Selain menjaga postur dan metabolisme, latihan kekuatan penting untuk menghadapi fase-fase alami dalam hidup perempuan, seperti kehamilan, melahirkan, dan menopause. Perempuan akan mengalami penurunan massa otot yang lebih drastis seiring bertambahnya usia. Kalau dari muda tidak membangun kekuatan, dampaknya akan terasa saat menua, jelasnya.
Minimnya Edukasi Jadi Pemicu Kesalahpahaman
Menurut Irsani, banyaknya miskonsepsi tentang latihan beban juga dipengaruhi oleh edukasi yang belum merata, termasuk di ranah medis. Ia mencontohkan larangan yang sering terdengar, seperti ibu jangan angkat lebih dari 5 kilogram atau habis operasi jangan angkat beban dulu". Ucapannya bukan salah, kata Irsani, tetapi sering tidak disertai penjelasan lanjutan tentang kapan, bagaimana, dan dengan beban berapa seseorang seharusnya mulai berlatih kembali.
Masalahnya bukan pada larangannya, tapi karena tidak ada edukasi lanjutan. Akhirnya orang takut bergerak. Padahal tubuh manusia memang didesain untuk digunakan, tuturnya. Ia menambahkan, beban aman bagi setiap orang berbeda-beda tergantung kondisi, usia, riwayat cedera, dan pengalaman berlatih.
Strength Training Tidak Harus Ke Gym
Banyak perempuan merasa latihan beban sulit dilakukan karena identik dengan gym, alat lengkap, dan personal trainer yang mahal. Padahal, kata Irsani, latihan bisa dimulai dengan alat seadanya. Squat, hip hinge, push, dan pull adalah gerakan dasar yang bisa dilakukan dari rumah. Konsisten 2030 menit, 23 kali seminggu pun sudah memberikan perubahan besar, ujarnya.
Ia menegaskan bahwa latihan di rumah maupun gym sama-sama bermanfaat selama dilakukan secara progresif dan tekniknya benar. Untuk pemula atau ibu yang sibuk, memulai dari gerakan sederhana adalah langkah paling realistis.
Pentingnya Latihan Beban untuk Lansia
Salah satu hal yang paling ingin diluruskan Irsani adalah anggapan bahwa angkat beban berbahaya bagi lansia. Menurutnya, risiko terbesar justru muncul saat lansia tidak melatih otot sama sekali. Kelemahan otot meningkatkan risiko jatuh, menurunkan kualitas hidup, dan membuat lansia kehilangan kemandirian. Bebannya bisa sangat ringan, yang penting dilakukan secara konsisten, katanya.
Ia bahkan mendampingi seorang lansia yang kini rutin berlatih beban 12 kali seminggu. Hasilnya, rasa nyeri berkurang dan kepercayaan diri meningkat. Lansia bukan tidak mampu, mereka hanya jarang punya kesempatan dan lingkungan aman untuk mencoba, tambahnya.
Ingin Menjadikan Latihan Beban Bagian dari Budaya Keluarga
Setelah merasakan sendiri manfaat latihan beban untuk kesehatan mental dan fisik, terutama saat keluar dari depresi pascapersalinan, Irsani kini ingin edukasi strength training bisa lebih mudah diakses masyarakat. Strength training bukan hanya membangun otot. Prosesnya mengasah disiplin, konsistensi, dan kemampuan menghadapi ketidaknyamanan. Itu bekal hidup yang penting untuk semua orang, bukan hanya anak muda, jelasnya.
Dengan pemahaman yang benar, perempuan tak perlu lagi takut terlihat berotot. Yang lebih penting adalah menjaga tubuh tetap kuat, bergerak bebas, dan mampu menjalani hidup dengan kualitas yang lebih baik.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar