Tangis Taylor Swift dan Luka di Balik Eras Tour dalam Dokumenter The End of an Era


berita
- Para penggemar Taylor Swift, yang dikenal sebagai Swifties, sejak lama menduga akan ada film dokumenter yang mengungkap sisi di balik layar tur Eras Tour yang fenomenal. Film konser Eras Tour (2023) sendiri tidak banyak menampilkan proses internal dari tur raksasa berdurasi tiga setengah jam ini, yang digelar dalam 149 pertunjukan sepanjang 20232024. Oleh karena itu, para penggemar mencoba menyusun potongan-potongan cerita dari berbagai sumber, mulai dari fakta bahwa Swift masuk ke panggung dengan bersembunyi di dalam troli pembersih, hingga dua album yang ia tulis selama dan tentang tur tersebut, yakni The Tortured Poets Department (2024) dan The Life of a Showgirl (2025). Bagi Swift, memperluas semesta karyanya bukanlah hal asing, apalagi jika berpotensi menguntungkan.

Rekaman Dimulai di Tengah Ancaman Teror di Wina

Namun, yang sama sekali tidak terbayangkan oleh para penggemar adalah fakta bahwa Disney mulai merekam dokumenter ini tepat saat Eras Tour dijadwalkan singgah di Wina pada 8 Agustus 2023. Konser tersebut seharusnya menjadi pertunjukan pertama dari tiga malam di ibu kota Austria, Wina sebelum akhirnya dibatalkan akibat rencana serangan teroris ISIS. Kisah ini terungkap di episode pertama serial dokumenter enam bagian berjudul The End of an Era. Dalam episode tersebut, Swift terlihat berada di belakang panggung Wembley bersama sahabat lamanya, Ed Sheeran, beberapa jam sebelum Ed Sheeran menjadi bintang tamu di konser pertamanya setelah ancaman teror tersebut.

Aku bahkan tidak sempat sampai ke sana, ujar Swift mengenang Wina (Ibu Kota Austria). Aku sudah dalam perjalanan. Aku hanya perlu melakukan pertunjukan ini dan mengingat kembali rasa bahagianya, karena aku agak& Ia terdiam, kesulitan menemukan kata yang tepat.

Dari Konflik Master hingga Fenomena Budaya Global

Inilah salah satu pengungkapan terbesar dalam dua episode awal. Serial ini dibuka dengan narasi yang kini sudah akrab: Eras Tour lahir dari kemarahan Swift atas penjualan rekaman master miliknya tanpa persetujuan, serta dorongan pandemi. Kita kembali melihat kegilaan Ticketmaster, fenomena Swiftonomics, gelang persahabatan, hingga para Swifties yang lompatannya sempat memicu getaran seismik.

Saya pikir ini akan menjadi tur yang paling saya banggakan, kata Swift. Ini bukan sekadar tur, ini adalah kekuatan besar dalam budaya global. Saya tidak pernah membayangkan akan berhadapan dengan rencana teroris," lanjut Swift.

Trauma Pasca-Wina dan Tragedi Southport

Dokumenter kemudian memperlihatkan Swift di kamar hotelnya di London, Inggris, pada pertengahan Agustus. Momen ini bukan hanya setelah insiden Wina, tetapi juga beberapa minggu setelah tragedi Southport, ketika tiga gadis kecil tewas saat mengikuti kelas dansa bertema Taylor Swift. Dengan wajah tertekan, Swift mencoba menjelaskan perasaannya. Kita lolos dari potensi pembantaian, jadi aku benar-benar kacau. Lalu ada serangan mengerikan di Liverpool, di acara dansa bertema Taylor Swift, dan itu anak-anak kecil&. Ia tak kuasa menahan tangis. Aku bahkan tidak bisa menjelaskannya, bisiknya.

Menjadi Penampil di Tengah Luka

Menjelang konser malam itu di Wembley, Swift mengatakan, ia akan menemui keluarga para korban di belakang panggung. Sambil menghapus air mata, ia berkata, Semuanya akan baik-baik saja. Saat bertemu mereka, aku tidak akan menangis seperti ini. Demi Tuhan, aku akan tersenyum. Menurut Swift, itulah arti menjadi seorang penampil yakni meluapkan emosi sebelum naik panggung, agar bisa tampil tenang demi penonton.

Kencangkan sabuk pengaman Anda dan selamat datang di Eras Tour, ucap Taylor datar. Usai konser, Swift terlihat kembali menangis di pelukan ibunya, Andrea. Bahkan setelah turun dari panggung, pertanyaan pertamanya adalah, Apakah ada hal buruk yang terjadi yang belum aku ketahui?

Di Balik Kontrol Ketat dan Kepemimpinan Swift

The End of an Era tidak menyajikan banyak sensasi baru, tetapi memperlihatkan betapa detail dan tertutupnya proses latihan Eras Tour. Para penari, misalnya, harus mempelajari koreografi baru menggunakan metronom agar musik yang belum dirilis tidak bocor. Di balik kontrol ketat tersebut, Swift digambarkan sebagai pemimpin yang hangat dan menghargai kru. Ia aktif berinteraksi dengan penari, musisi, dan staf, serta memberi bonus besar sebagai bentuk apresiasi.

Menetapkan preseden lewat Eras Tour sangat penting bagiku, kata Swift, sambil menyiapkan amplop berisi catatan tulisan tangan untuk kru-nya.

Inti Eras Tour: Memberi Ruang Bahagia

Empat episode berikutnya diperkirakan akan menyinggung kehidupan pribadi Swift, termasuk hubungannya dengan Travis Kelce. Namun, inti dokumenter ini tetap sama, yakni usaha luar biasa untuk menghadirkan kebahagiaan bagi jutaan penggemarnya. Cuplikan anak-anak dan remaja perempuan yang menari tanpa beban di konser Eras Tour seolah menjadi jawaban paling jujur atas semua pertanyaan tentang mengapa tur ini dibuat, dan mengapa Swift tetap melanjutkannya di tengah trauma.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan