Tantangan Investasi Rp13.032 Triliun, BKPM Andalkan Fiktif Positif dan Hilirisasi


aiotrade, JAKARTA — Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) memiliki strategi khusus untuk mencapai target investasi sebesar Rp13.032 triliun dalam kurun waktu 2025–2029. Target ini ditetapkan sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sebesar 8% pada akhir masa jabatan Presiden Prabowo Subianto.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani menjelaskan bahwa target ini diberikan oleh Bappenas dalam rangka mendukung pencapaian pertumbuhan ekonomi yang diharapkan. Dalam rapat kerja dengan Komisi XII DPR, Selasa (2/12/2024), ia menegaskan bahwa investasi menjadi salah satu kontributor terbesar kedua terhadap PDB setelah konsumsi rumah tangga.

Pada kuartal III/2025, investasi berkontribusi hingga 29,09% terhadap pembentukan PDB. Rosan mengakui bahwa target investasi yang dicanangkan jauh lebih besar dibandingkan total akumulasi investasi selama 10 tahun terakhir (2014—2024) yang tercatat sebesar Rp9.100 triliun.

Untuk merealisasikan target tersebut, BKPM akan memangkas birokrasi melalui mekanisme perizinan fiktif positif yang diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 28/2025. Mekanisme ini akan mengintegrasikan perizinan dari 18 kementerian teknis melalui sistem Online Single Submission (OSS). BKPM juga menetapkan Service Level Agreement (SLA) atau batas waktu pemrosesan izin yang ketat.

"Apabila dari kementerian tersebut yang sudah mempunyai SLA tidak kembali ke kami [memberikan respons], otomatis izinnya bisa kami keluarkan. Itu yang kita sebut fiktif positif," tegas Rosan.

Selama dua bulan terakhir, BKPM telah menerbitkan 153 perizinan melalui mekanisme fiktif positif. Meski demikian, integrasi sistem ini sempat membuat beban pada OSS meningkat, sehingga penguatan kapasitas sistem digital menjadi prioritas utama.

Transparansi Lokasi Investasi

Rosan juga menyoroti pentingnya transparansi lokasi investasi. Pihaknya tengah menggeber integrasi Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota ke dalam sistem OSS. Langkah ini dinilai krusial agar investor mendapatkan kepastian mengenai zonasi lahan yang boleh dibangun (zona hijau atau kuning) secara real-time.

"Kami ingin mendorong integrasi data ruang atau RDTR ke sistem OSS. Saat ini total ada 646 yang memiliki sistem data ruang, namun yang baru terintegrasi ke kami baru 504," paparnya.

Dengan integrasi RDTR yang mencakup 38 provinsi dan 282 kabupaten/kota, Rosan meyakini ekosistem investasi akan menjadi jauh lebih transparan dan meminimalisir sengketa lahan di kemudian hari.

Strategi Promosi Eksternal

Di sisi eksternal, BKPM akan mengubah strategi promosi menjadi lebih agresif dengan mengoptimalkan peran sembilan kantor perwakilan investasi atau Indonesia Investment Promotion Center (IIPC) yang tersebar di luar negeri. Kantor-kantor perwakilan yang ada di Singapura, Sydney, Taipei, Tokyo, Seoul, Beijing, Abu Dhabi, London, dan New York ini akan menjadi ujung tombak dalam menyosialisasikan kebijakan terbaru Indonesia dan menjemput bola investor dari negara-negara strategis.

Strategi Hilirisasi

Selain reformasi birokrasi, strategi hilirisasi juga akan diperluas. Fokus investasi tidak lagi hanya bertumpu pada mineral dan logam dasar, melainkan melebar ke sektor perkebunan dan pertanian, serta kelautan. Rosan mencontohkan investasi pengolahan kelapa di Morowali, Sulawesi Tengah, senilai Rp100 miliar yang mampu menyerap 10.000 tenaga kerja, serta pengembangan industri rumput laut (tropical seaweed) di mana Indonesia memiliki keunggulan komparatif sebagai produsen terbesar dunia.

Dengan nilai investasi yang cenderung sedikit namun penyerapan tenaga kerjanya maksimal, dampaknya ke pertumbuhan ekonomi akan semakin nyata. Rosan pun berharap ke depan Incremental Capital Output Ratio alias ICOR Indonesia semakin turun, karena masih tergolong tinggi dibandingkan negara sebanding lain.

"Jika ICOR [bisa lebih turun dan efisien, output dari investasi kita bisa memberikan dampak yang lebih besar lagi terhadap pertumbuhan," tambahnya.

Realisasi Investasi Januari–September 2025

Sepanjang Januari–September 2025, realisasi investasi tercatat mencapai Rp1.434,3 triliun atau 75,3% dari target tahunan sebesar Rp1.905,6 triliun. Capaian ini telah menyerap 1,95 juta tenaga kerja langsung, tumbuh 4,3% secara tahunan.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan