
Tantangan dalam Pemanfaatan STEM untuk Pemberdayaan Generasi Muda di Desa
Pengembangan generasi muda di desa melalui pendekatan Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika (STEM) menghadapi berbagai tantangan. Salah satu kendala utama adalah kurikulum yang tidak sejalan dengan kebutuhan siswa serta minat yang masih rendah terhadap bidang STEM. Hal ini ditemukan oleh Tim Ekspedisi Patriot-ITB Output 1 selama pengabdian di Kawasan Transmigrasi Prafi, Kabupaten Manokwari, Papua Barat.
Ketua Tim Ekspedisi Patriot, Dr. Muhammad Yudhistira Azis, M.Si menjelaskan bahwa kesenjangan antara kurikulum SMA (Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka) dengan kurikulum perguruan tinggi menjadi salah satu hambatan. Selain itu, perubahan kurikulum yang dinamis juga turut memengaruhi implementasi STEM di sekolah-sekolah.
Dalam lokakarya yang diselenggarakan oleh Tim Ekspedisi Patriot-ITB, para guru didorong untuk tidak hanya fokus pada Capaian Pembelajaran (CP), tetapi juga mengembangkan potensi siswa secara holistik. Ditemukan pula bahwa minat siswa SMA terhadap bidang sains, khususnya STEM, masih sangat rendah. Padahal, inovasi hanya akan muncul jika mata pelajaran dasar seperti Matematika, Fisika, dan Kimia (Mafiki) dikembangkan dengan baik.
Di Distrik Prafi, tim menemukan potensi yang belum maksimal. Mayoritas warga adalah petani dengan persentase usia produktif yang tinggi. Namun, keterlibatan sekolah dalam perekonomian lokal dan pemanfaatan lahan masih minim. Lulusan cenderung memilih karir di TNI/Polri dengan minat melanjutkan ke perguruan tinggi yang rendah.
Lokakarya ini bertujuan agar SMA dapat dilibatkan secara aktif dalam perekonomian. Misalnya, siswa diajarkan untuk melakukan identifikasi kualitas air secara sederhana, membantu pemasaran produk dengan teknologi informasi sederhana, atau menerapkan STEM dalam mata pelajaran tertentu dan muatan lokal. Selain itu, STEM juga bisa diterapkan dalam research based learning dengan bidang yang terintegrasi dan berdampak pada peningkatan ekonomi di desa.
Poin Implementasi STEM dalam Pendidikan
Yudhistira Azis menyampaikan bahwa diskusi panel dan tanya jawab menghasilkan beberapa poin penting tentang implementasi STEM. Salah satunya adalah pengembangan SDM guru. Keterbatasan tenaga pengajar menjadi tantangan utama, terutama jika STEM diintegrasikan sebagai muatan lokal (mulok) atau ko-kurikuler.
STEM dinilai cocok diimplementasikan dalam muatan lokal, ko-kurikuler, atau dimodifikasi dalam proyek Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Penekanan harus diberikan pada landasan teori, analisis, implementasi ke masyarakat, dan keberlanjutan. STEM juga harus dipahami sebagai pendekatan sistem lintas disiplin, bukan sekadar karya ilmiah atau praktik tanpa analisis memadai (engineering).
Lokakarya ini menghasilkan rekomendasi konkret untuk kemajuan pendidikan di Manokwari, khususnya kawasan transmigrasi Prafi. Di antaranya:
- Siswa didorong untuk mengembangkan ide, kreativitas, dan membuat prototype berbasis STEM dari komoditas lokal agar berdaya saing ekonomi dan mampu menyelesaikan masalah di desa.
- Mengintegrasikan STEM ke dalam Kurikulum sekolah, baik sebagai Mata Pelajaran Muatan Lokal, Ko-kurikuler, maupun Asesmen IPA berbasis research based learning.
- Memodifikasi penerapan STEM dalam P5 dengan penguatan teori, implementasi pada penyelesaian masalah, serta pemberdayaan masyarakat dengan mempertimbangkan keberlanjutan.
Dinas Pendidikan kabupaten Manokwari berkomitmen untuk merekomendasikan pendekatan STEM ini sebagai program prioritas pada tahun 2026 di tingkat SMA. Pengembangan aspek pertanian dan lingkungan menjadi hal utama dalam penerapan STEM di kawasan transmigrasi Prafi.
Selain itu, diperlukan pemantauan dan pendampingan berkelanjutan dari Dinas Pendidikan dan akademisi. Melalui pendekatan STEM, peserta lokakarya sepakat untuk menyatukan pemahaman dan memulai perubahan dari tingkat bawah, yaitu tingkat desa. Anak-anak usia produktif di tingkat menengah atas diajak untuk menerapkan keilmuan MIPA dalam kasus-kasus nyata di sekitar mereka.
STEM sebagai Solusi Kritis
Kepala Bidang SMA/SMK Dinas Pendidikan Kabupaten Manokwari Provinsi Papua Barat Recky Risamasu menegaskan bahwa STEM sangat penting untuk mengubah mindset pembelajaran yang selama ini cenderung monoton. Dia mengakui manfaat besar dari STEM dan menyatakan bahwa pemerintah daerah akan memberikan dukungan penuh terhadap perubahan ini.
Kegiatan ini juga bertujuan untuk merumuskan rekomendasi strategi pengintegrasian STEM dalam kurikulum sekolah dan implementasinya. Tujuannya adalah memanfaatkan potensi ekonomi dan menyelesaikan masalah lokal di desa.
Menurut dia, kawasan transmigrasi Prafi memiliki banyak usia produktif di tiap distrik dan sekolah menjadi salah satu peran penting dalam penerapan ilmu sains. Hal ini bermanfaat dalam meningkatkan komoditas unggulan di tiap distrik dan juga berkontribusi membantu menyelesaikan permasalahan di desa seperti pencemaran air dan ketersediaan air bersih.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar