
Bencana Banjir dan Longsor di Sumatera: Tantangan yang Mengguncang Fasilitas Kesehatan
Akhir November 2025 lalu, wilayah Sumatera mengalami bencana banjir bandang dan tanah longsor yang menimbulkan dampak serius. Dari Sumatera Barat, Sumatera Utara hingga Aceh, bencana tersebut menyebabkan 836 orang meninggal dunia, 518 orang hilang, serta 2.700 korban luka. Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat kerusakan pada 536 fasilitas umum, 25 fasilitas kesehatan, 326 fasilitas pendidikan, 185 rumah ibadah, dan 295 jembatan.
Bencana ini tidak hanya menjadi ujian bagi masyarakat, tetapi juga bagi sistem kesehatan yang seharusnya menjadi tempat paling aman. Rumah sakit yang seharusnya menjadi tempat penyelamatan justru terancam oleh air dan lumpur. Ruang pelayanan berubah menjadi area evakuasi darurat akibat kondisi yang tidak terduga dan sulit dikendalikan.
“Kami menyelamatkan pasien sambil menjaga rumah sakit agar tidak ikut tenggelam,” ujar seorang tenaga kesehatan yang terlibat dalam penanganan korban banjir.
Menurut Dr. Annisa Trisnia Sasmi, dosen Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), bencana banjir dan tanah longsor di Sumatera merupakan contoh nyata bagaimana ancaman, kerentanan, dan kapasitas penanggulangan saling bertemu. “Bencana banjir skala besar ini hampir tidak pernah berdiri sendiri. Penyebabnya karena faktor alam dan campur tangan manusia,” katanya.
Dr. Ir. Hatma Suryatmojo, Peneliti Hidrologi Hutan dan Konservasi DAS UGM, menambahkan bahwa bencana banjir bandang di akhir November 2025 bukanlah kejadian tunggal. Fenomena ini merupakan bagian dari pola berulang bencana hidrometeorologi yang semakin meningkat dalam dua dekade terakhir.
Peran Sektor Kesehatan dalam Krisis Iklim
Fenomena krisis iklim yang memicu cuaca ekstrem tidak berdiri sendiri. Banyak faktor yang menyebabkan munculnya kondisi tersebut, termasuk kontribusi sektor kesehatan. Meski tidak menjadi penyebab langsung bencana di Sumatera, rumah sakit secara global turut memberikan "kontribusi" menjadi pemicu permasalahan krisis iklim.
Data dari Health Care Without Harm (2019) menunjukkan bahwa sistem kesehatan menghasilkan sekitar 4,4% emisi gas rumah kaca dunia. Jika dihitung sebagai satu entitas, ini cukup besar untuk menjadikannya "negara" penghasil emisi kelima terbesar di dunia. Penggunaan listrik, pendingin ruangan, dan manajemen limbah medis yang belum ramah lingkungan memperbesar jejak karbon yang memperburuk ancaman iklim.
Harapan dari Perjanjian Paris
Pada 12 Desember 2015, Dunia menyepakati Paris Agreement dengan tujuan membatasi kenaikan suhu global di bawah 2°C, dengan target utama 1,5°C. Indonesia meratifikasi perjanjian ini melalui UU No. 16 Tahun 2016. Target nasional adalah penurunan emisi 31,9% tanpa dukungan internasional dan 43,2% dengan dukungan internasional pada 2030. Komitmen ini juga merambah ke sektor kesehatan.
Indonesia telah meluncurkan Rencana Aksi Nasional Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim Sektor Kesehatan 2025–2030 serta pedoman Fasilitas Kesehatan Berketahanan Iklim dan Lestari Lingkungan (Fasbiklin). Upaya ini menandai perubahan paradigma bahwa rumah sakit harus menjadi bagian dari solusi krisis iklim, memastikan layanan tetap berjalan meskipun bencana melanda.
Tantangan di Lapangan
Meski aturan sudah ada, tantangan masih tinggi. Banyak rumah sakit belum memiliki data jejak karbon sebagai dasar evaluasi upaya mitigasi dan peta kerentanan iklim. Perencanaan dan penganggaran daerah masih menempatkan isu iklim sebagai agenda pelengkap, bukan kebutuhan inti.
Proses akreditasi memasukkan aspek lingkungan dan kesiapsiagaan bencana, namun banyak yang menilai bahwa aspek tersebut sebatas kotak centang administratif, bukan indikator kinerja yang wajib ditingkatkan tahun demi tahun.
Langkah Menuju Ketahanan Iklim
Langkah memperkuat ketahanan iklim rumah sakit bukan sekadar perlindungan kesehatan. Kajian pembangunan rendah karbon menunjukkan manfaat luar biasa: potensi menghindari 40.000 kematian dini setiap tahun pada 2045, menciptakan 15,3 juta pekerjaan hijau, serta memacu pertumbuhan ekonomi hingga US$5,4 triliun dalam dua dekade mendatang.
Krisis Iklim adalah Ujian Cinta Kita Pada Kehidupan
Perubahan iklim akan terus menguji sistem kesehatan bangsa. Pertanyaannya bukan lagi "apakah akan terjadi?" melainkan "apakah kita siap?". Bencana di Sumatera sudah membuktikan bahwa waktu kita semakin sempit. Rumah sakit harus menjadi benteng terakhir yang tidak boleh runtuh meski banjir menerjang atau badai memutus listrik.
Keberanian untuk berubah dimulai dari hari ini. Dari kebijakan yang tegas untuk memperbaiki infrastruktur kesehatan. Dari penyediaan energi yang bersih dan aman. Dari para pemimpin daerah yang berani menempatkan ketahanan fasilitas kesehatan sebagai prioritas anggaran. Dari tenaga kesehatan yang siap menjaga masyarakat dalam keadaan paling genting. Dari kesadaran kita semua bahwa bumi adalah rumah bersama, dan rumah sakit adalah jantung pertahanannya.
Perlindungan kehidupan harus dimulai dari tempat yang menyelamatkan kehidupan itu sendiri. Transformasi rumah sakit menuju fasilitas berketahanan iklim dan lestari lingkungan adalah kunci. Ini bukan pilihan, melainkan syarat agar layanan kesehatan tetap kuat di tengah dunia yang semakin panas dan rapuh.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar