
Jujurly, saya bukan tipe emak-emak nongkrong yang menghabiskan waktu ngobrol dengan teman-teman selama berjam-jam. Selain memang jarang nongkrong, rutinitas aktivitas saya sudah memakan waktu berjam-jam dengan selang waktu istirahat, sehingga di saat breaktime di hari bersangkutan, saya gunakan di antaranya untuk istirahat, menulis artikel di akun nurulamin.pro, membaca buku atau mengurus pekerjaan rumah yang belum selesai.
Ini karena kegiatan saya mengajar tahsin di kantor-kantor dinas pada pagi hari dan selesai jelang siang, kemudian berlanjut mengajar kembali di rumah pada sore hari. Sehingga di siang dan malam hari, saya nikmati untuk aktivitas tersebut di atas. Tergantung mood juga sih.
Namun begitu, bila boleh disebut nongkrong, lebih seringnya malah dadakan saja. Misal, jelang saya selesai mengajar, tiba-tiba sahabat menelpon, bertanya posisi saya di mana, saya bakal dijemput olehnya untuk nongrong bareng, sekedar makan siang.
Atau, setelah selesai kajian rutin pekanan, ngobrol sejenak dengan para anggota dan di antara kami berpamitan pulang, satu-dua sahabat mengajak nonton bareng sekalian makan, atau makan bersama sambil ngobrol ngalor-ngidul, paling lama tiga jam. Kami mengusahakan sebelum pukul 2 siang urusan nongkrong sudah selesai dan salat zuhur pun harus tepat waktu.
Karena nongrongnya sering di saat mendadak, maka tas favorit yang saya bawa di saat mengajar atau hadir kajian adalah tas bahu.
Tas bahu (shoulder bag) yang saya pakai adalah tas serbaguna dengan tali tunggal yang dirancang untuk disampirkan di satu bahu, menjepit di antara lengan dan sisi tubuh, membebaskan tangan saya untuk bergerak. Terbuat dari rajutan tradisional buatan UMKM Yogya yang saya beli tahun 2024 lalu, kini sudah hampir 1,5 tahun saya kenakan setiap hari, masih awet.
Saya akui, tas rajut buatan Rusti Bag ini kuat, memiliki pilihan warna yang menarik, disain simpel, tersedia berbagai bentuk dan ukuran sesuai selera.
Ukuran tas yang saya miliki sedang saja, seperti tampak dalam gambar ilustrasi di atas, menggunakan restleting utama sebagai penutup tas, praktis untuk membawa barang kebutuhan mengajar.
Tas bahu ini saya anggap sebagai tas cemplang cemplung, mau diisi apa saja bisa. Apalagi ada satu kantong kecil beretsleting dan wajib ada satu bedak padat dan empat lipstik, untuk touch up tampilan wajah agar selalu tampak cerah dan segar di manapun berada saat diperlukan. Kenapa empat? Ya, supaya bisa ganti-ganti warna saat keluar rumah, lagi-lagi sesuai mood.
Selain itu saya selalu membawa sekantong kecil bahan ajar seperti buku-buku qiroati, alat tulis satu-dua pulpen. Saat saya tidak mengajar, kantong khusus ini saya keluarkan, berganti dengan binder ukuran A5 untuk menulis bahan kajian dari pembina.
Sedangkan dompet wanita, gawai, kacamata hitam, tisu basah, dan kipas angin tangan ukuran kecil, selalu siap dalam tas bahu. Kipas angin yang memiliki gagang untuk bagian pegangan tangan ini lumayan membantu saat cuaca panas, menyejukkan sejenak dari rasa sumuk alias gerah.
Dan, sangat membantu untuk mendinginkan makanan yang tersaji panas-panas. Biasalah, nongkrong pasti ada makanan atau cemilan, dan sudah pasti ada minuman. Biar tambah gayeng obrolannya. Daripada makanan panas ditiup-tiup, cukup setel kipas angin kecil bawaan.
Nah, kalau sekiranya agenda nongkrong bakal diagendakan jauh-jauh hari, yang memang beneran untuk ngobrol santai bareng sahabat di kafe atau sembari 'cuci mata' di mall, maka tas selempang menjadi pilihan saya untuk kegiatan ini. Karena tujuannya memang mau nongrong doang, saya pilih tas yang simpel dengan barang bawaan yang sama, kecuali bahan ajar dan binder, jelas ditinggal di rumah dong.
Namun, jika sekiranya sahabat memberi tahu ada keperluan lain ke satu-dua tempat sebelum nongkrong, saya membawa satu buku bacaan untuk memanfaatkan waktu menunggu keperluan sahabat selesai.
Nah, khusus akhir pekan, di haru Sabtu dan Ahad, tas nongkrong saya berbeda lagi, yaitu tas pinggang yang cukup dililitkan di lingkar perut-pinggang, isinya hanya gawai dan sejumlah uang. Karena di akhir pekan saya gunakan untuk berolahraga jalan kaki bersama suami atau para tetangga baik, yang mana kami bakal nongkrong menikmati kuliner di sekitar atau di luar wilayah tempat olahraga.
Barang bawaannya lebih sedikit, ringan, supaya makin leluasa bergerak dan nggak terasa keasyikan nongkrong. Tetap harus ingat waktu untuk kembali ke rumah. Tugas sebagai emak sudah menanti dan mengantri.
Salam sehat dan selalu bahagia!
***
Artikel ke-5 2026
#Tulisanke-635
#ArtikelLyfe
#TasSelempang
#TasBahu
#Nongrongbawatas
#IsiTasBawaan
#NulisdiKompasiana
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar