Tegangnya Hubungan AS-Venezuela, Eropa Minta Kedua Pihak Tenang

Tegangnya Hubungan AS-Venezuela, Eropa Minta Kedua Pihak Tenang

Komentar dari Kaja Kallas Mengenai Tindakan Militer AS terhadap Venezuela

Kaja Kallas, kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, pada hari Sabtu (3/1) mengeluarkan pernyataan yang menyerukan semua pihak untuk menahan diri setelah Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Venezuela. Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan regional dan kekhawatiran internasional terhadap potensi dampak konflik yang lebih luas.

Kallas menekankan bahwa penghormatan terhadap hukum internasional harus tetap dijaga dalam situasi apa pun. Menurutnya, prinsip-prinsip yang tercantum dalam Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa tidak boleh diabaikan, terutama ketika eskalasi militer berpotensi mengancam stabilitas global.

Melalui unggahan di platform media sosial X, Kallas menyampaikan bahwa dirinya telah melakukan komunikasi dengan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio serta perwakilan Uni Eropa yang bertugas di Caracas. Uni Eropa, kata dia, terus memantau perkembangan situasi di Venezuela secara intensif seiring laporan serangan militer dan respons dari pemerintah setempat.

Uni Eropa, lanjut Kallas, tetap pada posisi politiknya terkait Venezuela. Blok tersebut menilai Nicolas Maduro tidak memiliki legitimasi sebagai presiden dan secara konsisten mendorong terwujudnya transisi politik yang berlangsung secara damai dan demokratis.

“Dalam segala keadaan, prinsip hukum internasional dan Piagam PBB harus dihormati. Kami menyerukan penahanan diri,” ujar Kallas.

Perhatian terhadap Keselamatan Warga Negara Uni Eropa di Venezuela

Selain isu politik dan keamanan regional, Kallas juga menyoroti perlindungan warga negara Uni Eropa yang berada di Venezuela. Keselamatan mereka disebut sebagai prioritas utama di tengah situasi yang terus berkembang dan belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Pemerintah Venezuela sebelumnya menuduh Amerika Serikat melakukan serangan terhadap fasilitas sipil dan militer di sejumlah negara bagian. Otoritas Venezuela kemudian menetapkan status darurat nasional sebagai langkah pengamanan, sembari menuding serangan tersebut sebagai bentuk agresi militer yang mengancam kedaulatan negara.

Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan pernyataan melalui platform media sosial Truth Social. Dalam unggahannya, Trump memastikan pasukan Amerika Serikat telah melakukan serangan militer berskala besar terhadap Venezuela.

Trump juga mengeklaim bahwa Presiden Venezuela Nicolas Maduro beserta istrinya telah ditangkap dan diterbangkan ke luar negeri. Hingga kini, klaim tersebut belum dikonfirmasi secara independen oleh pihak internasional.

Dinamika Hubungan antara Washington dan Caracas

Serangan ini terjadi setelah berbulan-bulan ketegangan antara Washington dan Caracas. Pemerintah Amerika Serikat sebelumnya menuduh Maduro terlibat dalam jaringan perdagangan narkoba internasional, tuduhan yang secara konsisten dibantah oleh pemerintah Venezuela.

Maduro dalam beberapa kesempatan menyatakan kesediaannya untuk membuka dialog dengan komunitas internasional. Namun, situasi terkini menunjukkan eskalasi konflik yang memicu kekhawatiran akan dampak lanjutan terhadap kawasan Amerika Latin dan Karibia, serta stabilitas internasional secara keseluruhan.

Peran Uni Eropa dalam Situasi Ini

Uni Eropa terus memantau situasi di Venezuela secara intensif. Kallas menekankan bahwa blok tersebut tetap pada posisi politiknya terkait Venezuela. Hal ini mencerminkan komitmen Uni Eropa terhadap prinsip-prinsip hukum internasional dan keinginan untuk melihat terwujudnya transisi politik yang damai dan demokratis.

Selain itu, Uni Eropa juga memperhatikan keselamatan warga negaranya yang berada di Venezuela. Di tengah situasi yang terus berkembang, keselamatan mereka menjadi prioritas utama.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan