
nurulamin.pro, JAKARTA - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyerukan pembatasan suku bunga kartu kredit maksimal 10% selama satu tahun untuk meringankan biaya hidup masyarakat.
Melalui unggahan di media sosialnya yang dikutip dari Bloomberg pada Senin (12/1/2026), Trump menyebut kebijakan tersebut akan mulai berlaku pada 20 Januari 2026 mendatang.
“Kami tidak akan lagi membiarkan publik Amerika ‘diperas’ oleh perusahaan kartu kredit yang mengenakan bunga 20% hingga 30%, bahkan lebih, yang dibiarkan tanpa kendali pada masa pemerintahan Sleepy Joe Biden. Keterjangkauan!” tulis Trump melalui media sosialnya.
Hingga kini belum jelas apakah perusahaan kartu kredit akan merespons seruan tersebut, maupun langkah konkret apa yang akan ditempuh Trump untuk memaksakan perubahan kebijakan itu.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah upaya pemerintahan Trump untuk menunjukkan kepada pemilih bahwa presiden serius menangani persoalan biaya hidup dan harga, isu yang mengemuka menjelang pemilihan paruh waktu (midterm) November mendatang.
Dalam kampanye pemilihan presiden 2024, Trump memang berjanji akan mengupayakan pembatasan suku bunga yang dapat dikenakan perusahaan kartu kredit kepada konsumen.
Beberapa jam sebelum unggahan Trump pada Jumat pekan lalu, Senator Bernie Sanders dari Vermont melontarkan kritik melalui platform X. Dia menyebut Trump berjanji membatasi bunga kartu kredit di level 10% dan menghentikan praktik Wall Street yang merugikan rakyat.
"Namun yang terjadi justru deregulasi bank-bank besar yang mengenakan bunga hingga 30%,” tulis Sanders.
Sebelumnya, dalam surat kepada Sanders dan Senator Partai Republik Josh Hawley dari Missouri tahun lalu, sejumlah asosiasi perbankan memperingatkan dampak serius bagi konsumen jika pemerintah membatasi suku bunga kartu kredit di level 10%, sebagaimana diusulkan kedua senator tersebut.
“Banyak konsumen yang saat ini bergantung pada kartu kredit akan terpaksa mencari pembiayaan jangka pendek dari sumber lain, seperti pegadaian, kredit kendaraan, atau bahkan yang lebih berisiko—seperti rentenir, pemberi pinjaman daring tak teregulasi, hingga pasar gelap,” tulis kelompok tersebut.
Bank Policy Institute dalam laporannya tahun lalu menyatakan bahwa meski usulan pembatasan bunga dimaksudkan untuk mengurangi beban utang rumah tangga, kebijakan itu justru berpotensi merugikan akses konsumen terhadap kredit kartu.
Selain itu, penerbit kartu kemungkinan akan memangkas berbagai manfaat bagi nasabah, termasuk program imbalan (rewards) yang selama ini menjadi daya tarik utama.
Menanggapi unggahan Trump, Senator Josh Hawley menyatakan dukungannya.
“Ide yang fantastis. Saya tidak sabar untuk memberikan suara mendukung kebijakan ini,” tulis Hawley di X.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar