
Potensi Ekonomi dari Sampah Elektronik di Yogyakarta
Sebuah riset yang dilakukan oleh tim dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) serta Pusat Unggulan Iptek Perguruan Tinggi (PUI-PT) Strategic Advancement for Key Digital Transformation Indonesia (SAKTI) Universitas Telkom mengungkap potensi ekonomi dari sampah elektronik (e-waste) skala rumah tangga di Kota Yogyakarta. Hasilnya mengejutkan, karena angka yang ditemukan mencapai Rp 12,003 miliar.
Barang Elektronik Bekas dengan Nilai Ekonomi Tinggi
Dari data yang dikumpulkan, terdapat beberapa jenis barang elektronik yang memiliki nilai ekonomi tertinggi. Tiga di antaranya adalah mesin cuci dengan nilai sebesar Rp2,350 miliar, printer dengan nilai Rp1,436 miliar, dan kulkas besar yang bernilai Rp1,392 miliar. Angka ini menunjukkan bahwa barang elektronik berukuran besar justru menjadi penyumbang utama potensi ekonomi dari sampah elektronik di kota tersebut.
Namun, tidak semua barang elektronik yang paling banyak jumlahnya memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Dari 46 jenis barang yang didata, bola lampu/lampu dekoratif menjadi barang dengan jumlah unit terbanyak, yaitu sekitar 367.083 unit. Diikuti oleh ponsel dengan 184.267 unit dan charger sebanyak 163.954 unit. Meski jumlahnya tinggi, hal ini tidak selalu berkorelasi positif dengan nilai ekonomi yang bisa diperoleh.
Penelitian Menggunakan Teknik Stratified Random Sampling
Riset ini dilakukan menggunakan teknik stratified random sampling, yang memastikan data yang dikumpulkan representatif dan akurat. Tim juga bekerja sama dengan relawan dari Bank Sampah Induk Jogja untuk pendataan langsung di lapangan. Hal ini memperkuat validitas hasil penelitian dan memberikan gambaran yang lebih realistis tentang kondisi e-waste di Yogyakarta.
Kesadaran Masyarakat Terhadap Isu E-Waste
Salah satu temuan penting dalam riset ini adalah tingkat kesadaran masyarakat terhadap isu sampah elektronik. Studi yang melibatkan 101 responden rumah tangga di 14 Kemantren menunjukkan bahwa 88 persen responden memiliki kepedulian tinggi terhadap masalah e-waste. Bahkan, dua kemantren, yaitu Gondomanan dan Kotagede, mencatat tingkat kesadaran sempurna dengan skor 100 persen.
Secara demografi, kelompok usia muda dan paruh baya (20-59 tahun) menunjukkan pemahaman yang lebih baik dibandingkan kelompok lansia. Hal ini menunjukkan bahwa generasi muda lebih sadar akan dampak lingkungan dari sampah elektronik dan potensinya sebagai sumber daya.
Budaya Memperbaiki dan Menggunakan Kembali Masih Kuat
Meskipun potensi ekonomi dari e-waste sangat besar, tidak semua barang elektronik langsung berakhir di tempat sampah. Budaya memperbaiki dan menggunakan kembali masih cukup kuat di kalangan masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa ada kesadaran akan pentingnya pengelolaan sampah secara bertanggung jawab.
Harapan untuk Pengelolaan E-Waste yang Lebih Baik
Hasil riset ini diharapkan menjadi data konkret bottom-up bagi pemerintah daerah dalam mengelola e-waste secara lebih terstruktur. Potensi kerugian global akibat salah kelola sampah elektronik sangat besar, termasuk pencemaran lingkungan dan hilangnya sumber daya yang bisa dimanfaatkan.
Dengan adanya data yang akurat dan representatif, pemerintah dapat merancang kebijakan yang lebih efektif dalam mengelola e-waste. Selain itu, masyarakat juga perlu terus didorong untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi dalam pengelolaan sampah elektronik.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar