Terapkan TEFA, SMKN 1 Bukateja Ajarkan Praktik Kerja Langsung kepada Siswa

Terapkan TEFA, SMKN 1 Bukateja Ajarkan Praktik Kerja Langsung kepada Siswa

SMKN 1 Bukateja Jadi Contoh Sekolah Berbasis Teaching Factory

Pemerintah Kabupaten Purbalingga terus berupaya memperkuat pendidikan vokasi di wilayahnya. Salah satu langkah yang dilakukan adalah dengan mendorong pengembangan sekolah berbasis Teaching Factory (TEFA). Salah satu institusi yang menjadi contoh adalah SMKN 1 Bukateja, yang telah resmi diresmikan sebagai sekolah berbasis TEFA.

Pendekatan Pembelajaran yang Relevan

Dalam acara peresmian tersebut, Wakil Bupati Purbalingga, Dimas Prasetyahani, menyampaikan apresiasi terhadap upaya sekolah dalam memfasilitasi proses belajar sesuai kebutuhan dunia industri. Menurutnya, model pembelajaran TEFA sangat relevan untuk mencetak lulusan yang siap kerja, tangguh, dan memiliki kompetensi sesuai tuntutan zaman.

"Melalui TEFA, siswa tidak hanya belajar teori tapi juga langsung berhadapan dengan proses produksi, standar industri, hingga manajemen layanan," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa TEFA merupakan bentuk pendidikan vokasi yang benar, karena mampu mendekatkan siswa dengan dunia kerja. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas lulusan yang dihasilkan oleh sekolah-sekolah vokasi di Purbalingga.

Kolaborasi dengan Industri

Pihak pemerintah kabupaten pun berkomitmen untuk memperkuat kolaborasi antara sekolah dengan industri. Langkah-langkah yang akan dilakukan meliputi penyelarasan kurikulum, peningkatan kapasitas guru, hingga pendampingan siswa dalam uji kompetensi. Dengan adanya kolaborasi ini, diharapkan lulusan sekolah vokasi akan lebih siap menghadapi tantangan dunia kerja.

Metode Pembelajaran yang Efektif

Kepala SMKN 1 Bukateja, Sutowo, menjelaskan bahwa TEFA merupakan metode penting dalam pendidikan vokasi karena mampu memberikan pengalaman produksi nyata bagi siswa. Melalui model ini, teori dapat dipadukan dengan praktik untuk menguatkan hard skill sekaligus soft skill.

"Kami menerapkan sistem blok, satu hari untuk satu mata pelajaran praktik agar siswa benar-benar menguasai kompetensi," jelasnya.

Selain itu, produk yang dihasilkan oleh siswa bisa dijual sebagai bentuk usaha mandiri sekolah. Hal ini tidak hanya memberikan pengalaman kerja nyata, tetapi juga membantu meningkatkan kemandirian siswa.

Harapan untuk Lulusan yang Siap Kerja

Sutowo berharap, penerapan TEFA membuat siswa semakin mematangkan kemampuan mereka. Dengan demikian, lulusan SMKN 1 Bukateja benar-benar siap di dunia kerja.

"Harapannya, lulusan kami benar-benar siap dan memiliki kompetensi sesuai kebutuhan industri," katanya.

Manfaat dari Model Pembelajaran TEFA

Model pembelajaran TEFA memiliki beberapa manfaat yang signifikan, antara lain:

  • Meningkatkan keterampilan siswa melalui pengalaman langsung di lingkungan industri.
  • Memperkuat kompetensi teknis dan sosial siswa.
  • Menghasilkan lulusan yang lebih siap bekerja dan mampu bersaing di pasar kerja.
  • Membuka peluang kerja sama antara sekolah dan industri.

Dengan adanya TEFA, SMKN 1 Bukateja menjadi contoh yang baik dalam penerapan pendidikan vokasi yang berorientasi pada kebutuhan dunia kerja. Hal ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain di Purbalingga dan sekitarnya.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan