
Perusahaan Terra Drone Indonesia Menghadapi Kebakaran Besar
PT Terra Drone Indonesia adalah perusahaan yang bergerak di sektor pertanian. Drone yang digunakan oleh perusahaan ini memiliki ukuran yang lebih besar dan dirancang khusus untuk kebutuhan pertanian, seperti penyemprotan, pemupukan, hingga survei udara.
Namun, dalam peristiwa kebakaran yang terjadi di Gedung Terra Drone yang berlokasi di Kemayoran, Jakarta Pusat, perusahaan masih belum dapat memastikan sumber api, kondisi drone di lantai dasar, serta dugaan ledakan yang sempat ramai diberitakan.
Human Resource Business Partner Terra Drone, Umaidi Suhari, mengatakan bahwa pihaknya sedang melakukan investigasi terkait penyebab kebakaran tersebut. Ia menegaskan bahwa proses investigasi masih berlangsung dan akan segera diumumkan setelah ada hasil dari kepolisian.
Masalah Keselamatan Gedung
Selain masalah penyebab kebakaran, perusahaan juga belum memberikan kepastian mengenai sistem keselamatan gedung yang ditempati. Ketika ditanya tentang jalur evakuasi dan fasilitas proteksi kebakaran, Umaidi kembali menegaskan bahwa hal tersebut masih dalam tahap investigasi.
Gedung yang ditempati Terra Drone diketahui merupakan bangunan ruko berlantai tujuh. Umaidi menyebut bahwa kantor tersebut memiliki lift dan tangga, tetapi ia menilai kondisi saat kejadian membuat seluruh karyawan kesulitan menyelamatkan diri.
"Kami semua benar-benar tidak bisa mengendalikan situasi tersebut," katanya.
Perusahaan juga belum bisa membeberkan jumlah pasti drone yang disimpan di lantai dasar, yang disebut-sebut menjadi titik awal kebakaran. Pertanyaan mengenai sistem pencegahan kebakaran seperti water sprinkler dan APAR juga belum dijawab tegas.
Dukungan untuk Keluarga Korban
Meski belum menjelaskan teknis penyebab kebakaran, pihak perusahaan memastikan seluruh keluarga korban mendapatkan dukungan penuh, termasuk akomodasi, BPJS Ketenagakerjaan, hingga santunan duka.
"Meskipun tidak bisa menggantikan sosok teman kita yang sudah berpulang, tapi setidaknya bisa mengurangi sedikit kepedihan," ucap Umaidi.
Ia juga memastikan perusahaan menyiapkan pendampingan psikologis untuk karyawan yang selamat, tetapi mengalami trauma.
Proses Identifikasi Korban Ditutup
Proses identifikasi korban kebakaran Gedung Terra Drone di Cempaka Baru, Kemayoran, Jakarta Pusat, resmi ditutup. Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri memastikan seluruh 22 jenazah yang dikirim dari lokasi kejadian telah teridentifikasi.
"Karena semua jenazah telah teridentifikasi, hari ini kita nyatakan ditutup," ujar Kabid Yandokpol Pusdokkes Polri, Kombes Pol Ahmad Fauzi, Rabu.
Fauzi menegaskan, jumlah jenazah yang diterima RS Polri sesuai dengan laporan awal dari lokasi, yakni 22 kantong. Hingga hari ini, tidak ada tambahan korban ditemukan dari hasil penyisiran lanjutan di gedung yang terbakar.
Meski demikian, tim DVI siap membuka kembali operasi identifikasi apabila ditemukan korban baru.
Identifikasi Tuntas dalam Dua Hari
Kepala Rumah Sakit (Karumkit) Polri, Brigjen Prima Heru, mengatakan proses identifikasi memakan waktu dua hari. Tim bekerja sejak malam hingga pagi, mengombinasikan data ante mortem dan post mortem.
Ia menyebut kecocokan sidik jari menjadi faktor utama yang mempercepat proses. "Kamu ada data primer yang sangat akurat dari sidik jari, ada odontologi medis, dan banyak data lengkap lainnya. Jadi kombinasi," jelasnya.
Seluruh Korban Meninggal karena Gas Karbon Monoksida
Dari hasil pemeriksaan forensik, seluruh korban dipastikan meninggal karena keracunan gas karbon monoksida (CO) saat kebakaran terjadi.
Kabiddokkes Polda Metro Jaya, Kombes Pol dr Martinus Ginting, menjelaskan kadar CO dalam darah para korban sangat tinggi. Gas tersebut mengikat hemoglobin 20–30 kali lebih kuat dibanding oksigen, sehingga tubuh korban kehilangan kemampuan bernapas.
Ia menuturkan, dalam kondisi kebakaran, gas CO akan muncul dari proses pembakaran berbagai material di dalam gedung. Begitu terhirup, gas itu langsung masuk ke aliran darah dan menggantikan oksigen yang seharusnya bertugas membawa pasokan udara ke organ-organ tubuh.
"Ketika terbakar, kadar CO akan keluar, kemudian dia berikatan dengan darah. Sehingga orang tersebut tidak bisa bernapas. Makanya ada pemeriksaan darah, kadar CO-nya tinggi," jelasnya.
Gas ini bekerja tanpa bau dan tanpa warna, sehingga korban sering tak sadar sedang menghirup racun hingga tubuh melemah, pingsan, lalu kehilangan nyawa.
Penjelasan tersebut sekaligus menguatkan temuan tim DVI Polri bahwa sebagian besar korban meninggal karena keracunan gas karbon monoksida, bukan karena terbakar api secara langsung.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar